Dompu,
Lensa Post NTB - Masalah kekerasan terhadap anak dan perempuan
di Kabupaten Dompu masih menduduki peringkat tertinggi di NTB. Hal itu
diungkapkan oleh Presidium Nasional (Presdir) Koalisi Perempuan Indonesia
(KPI), Dian Aryani dalam acara Workshop tentang Perkawinan Anak dan Potensi
Gagalnya Perjuangan Kartini yang berlangsung di Gedung PKK Dompu, Senin (7/5). "Di
NTB ini Dompu raportnya selalu merah masalah kekerasan terhadap perempuan dan
anak," ungkap Dian. Untuk itu, lanjutnya melalui workshop tersebut diharapkan
dapat mendiskusikan secara serius langkah apa yang harus dilakukan oleh
pemerintah dan elemen masyarakat Dompu berkaitan dengan peningkatan kapasitas
maupun pemberdayaan dan perlindungan bagi perempuan dan anak di Kabupaten
Dompu.
Apalagi program Kesetaraan Gender yang
tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB) mengisyaratkan agar perempuan berperan serta dalam
pembangunan daerah dan bangsa. "Yang kita inginkan bagaimana
perempuan-perempuan Dompu sehat, hidupnya nyaman, tenteram dan bisa melakukan
aktivitas ekonomi maupun aktivitas politiknya dengan baik," paparnya. Lebih
lanjut Dian Aryani menyoroti kasus-kasus perkawinan anak yang masih marak
terjadi di NTB bahkan menempati posisi kedua secara nasional setelah Provinsi
Gorontalo. Dijelaskannya perkawinan anak ini merupakan potensi gagalnya
perjuangan Kartini.
Sekilas Dian mengisahkan sejarah pahit
kehidupan Raden Ajeng Kartini atau Raden Ayu Kartini. Sebagai putri bangsawan,
oleh ayahnya Kartini kecil di sekolahkan di ELS (Europese Lagere School).
Disinilah Kartini kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah di sana hingga
ia berusia 12 tahun. setelah itu, ia ingin melanjutkan pendidikannya di Batavia
atau Eropa, tetapi dilarang oleh ayahnya karena kebiasaan saat itu anak
perempuan harus tinggal di rumah untuk 'dipingit'. Pada usia masih muda,
Kartini dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang
merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga
orang istri. Setahun kemudian, tepatnya 17 September 1904, Kartini meninggal
dunia setelah melahirkan putra pertamanya yang diberi nama Soesalit
Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Kartini meninggal
dunia pada usia yang masih sangat belia yakni 25 tahun. (emo)

Komentar