Kekerasan Perempuan dan Anak, Dompu Selalu Raport Merah -->

Kategori Berita

.

Kekerasan Perempuan dan Anak, Dompu Selalu Raport Merah

Koran lensa pos
Selasa, 08 Mei 2018


Dompu, Lensa Post NTB - Masalah kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Dompu masih menduduki peringkat tertinggi di NTB. Hal itu diungkapkan oleh Presidium Nasional (Presdir) Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Dian Aryani dalam acara Workshop tentang Perkawinan Anak dan Potensi Gagalnya Perjuangan Kartini yang berlangsung di Gedung PKK Dompu, Senin (7/5). "Di NTB ini Dompu raportnya selalu merah masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak," ungkap Dian. Untuk itu, lanjutnya melalui workshop tersebut diharapkan dapat mendiskusikan secara serius langkah apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dan elemen masyarakat Dompu berkaitan dengan peningkatan kapasitas maupun pemberdayaan dan perlindungan bagi perempuan dan anak di Kabupaten Dompu.

Apalagi program Kesetaraan Gender yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) mengisyaratkan agar perempuan berperan serta dalam pembangunan daerah dan bangsa. "Yang kita inginkan bagaimana perempuan-perempuan Dompu sehat, hidupnya nyaman, tenteram dan bisa melakukan aktivitas ekonomi maupun aktivitas politiknya dengan baik," paparnya. Lebih lanjut Dian Aryani menyoroti kasus-kasus perkawinan anak yang masih marak terjadi di NTB bahkan menempati posisi kedua secara nasional setelah Provinsi Gorontalo. Dijelaskannya perkawinan anak ini merupakan potensi gagalnya perjuangan Kartini.

Sekilas Dian mengisahkan sejarah pahit kehidupan Raden Ajeng Kartini atau Raden Ayu Kartini. Sebagai putri bangsawan, oleh ayahnya Kartini kecil di sekolahkan di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah di sana hingga ia berusia 12 tahun. setelah itu, ia ingin melanjutkan pendidikannya di Batavia atau Eropa, tetapi dilarang oleh ayahnya karena kebiasaan saat itu anak perempuan harus tinggal di rumah untuk 'dipingit'. Pada usia masih muda, Kartini dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri. Setahun kemudian, tepatnya 17 September 1904, Kartini meninggal dunia setelah melahirkan putra pertamanya yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Kartini meninggal dunia pada usia yang masih sangat belia yakni 25 tahun. (emo)