Dompu, Lensa Post NTB - Pada umumnya manusia suka mengeluh menghadapi musibah yang menimpa dirinya. Tetapi berbeda dengan sosok yang satu ini. Ia nampak ceria kendati hanya bisa berbaring lunglai di dipan sederhananya. Dialah Abdul Khaliq (35), warga Desa Dorebara Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu NTB.
Saat media ini menemuinya di rumah sederhana milik orang tuanya di desa tersebut, ia menyambut dengan tersenyum tanda suka cita. Tak terlihat guratan kekecewaan di wajahnya."Santabe ta Baba Mi (silahkan masuk abang Min,red)," sambutnya dengan hangat.Sebagaimana diberitakan media ini, ia mengalami kelumpuhan secara tiba-tiba sejak tahun 2015 silam. Akibatnya ia tidak bisa beraktifitas mencari nafkah menjadi tukang ojek sebagaimana yang dilakoninya sebelum peristiwa tersebut. Kedua tangan dan kedua kakinya tak bisa digerakkan sama sekali. Praktis hanya sarung dan bantal dan kasur lusuh yang menemani kesehariannya sejak 3 tahun silam. Semenjak itu, Istri dan seorang anaknya dititipkan kepada orang tua sang istri dan sesekali menemuinya.
"Saya sudah pasrah kepada Allah dengan musibah yang saya alami ini," katanya tanpa mengeluh. Namun di balik kepasrahannya itu, ia hanya merasa sangat iba dengan ibunya yang sudah semakin kurus dan tua. "Saya cuma kasihan dengan Janu (ibunya,red) yang selalu mengurus saya setiap saat," ujarnya lirih. Disebutnya sang bunda yang menyuapi makanan dan memberikan minuman ke mulutnya setiap saat. Yang sangat berat tatkala ia berkehendak buang air besar. Sang ibu yang biasa dipanggilnya Janu (Zainab) itulah yang membopongnya dibantu sang ayah yang biasa dipanggilnya Ceco. Kursi roda pemberian Dinas Sosial Kabupaten Dompu beberapa bulan lalu cukup membantu ketika akan buang hajat tetapi harus dibopong dulu oleh kedua orang tuanya untuk dipindahkan ke kursi roda.
Abdul Khaliq bercerita pada mulanya mendapatkan musibah ini, ia pernah berharap Allah segera mencabut nyawanya karena beratnya cobaan yang ia alami. Berbagai pengobatan medis maupun tradisional telah ditempuhnya. Namun hasilnya nihil. Finansial yang tidak tersedia menjadi kendala utama dalam menjalani berbagai pengobatan tersebut."Saya sekarang tidak mau lagi melakukan pengobatan apapun. Biarlah Allah yang mengatur-Nya," ungkapnya pasrah. (EMO)
Saat media ini menemuinya di rumah sederhana milik orang tuanya di desa tersebut, ia menyambut dengan tersenyum tanda suka cita. Tak terlihat guratan kekecewaan di wajahnya."Santabe ta Baba Mi (silahkan masuk abang Min,red)," sambutnya dengan hangat.Sebagaimana diberitakan media ini, ia mengalami kelumpuhan secara tiba-tiba sejak tahun 2015 silam. Akibatnya ia tidak bisa beraktifitas mencari nafkah menjadi tukang ojek sebagaimana yang dilakoninya sebelum peristiwa tersebut. Kedua tangan dan kedua kakinya tak bisa digerakkan sama sekali. Praktis hanya sarung dan bantal dan kasur lusuh yang menemani kesehariannya sejak 3 tahun silam. Semenjak itu, Istri dan seorang anaknya dititipkan kepada orang tua sang istri dan sesekali menemuinya.
"Saya sudah pasrah kepada Allah dengan musibah yang saya alami ini," katanya tanpa mengeluh. Namun di balik kepasrahannya itu, ia hanya merasa sangat iba dengan ibunya yang sudah semakin kurus dan tua. "Saya cuma kasihan dengan Janu (ibunya,red) yang selalu mengurus saya setiap saat," ujarnya lirih. Disebutnya sang bunda yang menyuapi makanan dan memberikan minuman ke mulutnya setiap saat. Yang sangat berat tatkala ia berkehendak buang air besar. Sang ibu yang biasa dipanggilnya Janu (Zainab) itulah yang membopongnya dibantu sang ayah yang biasa dipanggilnya Ceco. Kursi roda pemberian Dinas Sosial Kabupaten Dompu beberapa bulan lalu cukup membantu ketika akan buang hajat tetapi harus dibopong dulu oleh kedua orang tuanya untuk dipindahkan ke kursi roda.
Abdul Khaliq bercerita pada mulanya mendapatkan musibah ini, ia pernah berharap Allah segera mencabut nyawanya karena beratnya cobaan yang ia alami. Berbagai pengobatan medis maupun tradisional telah ditempuhnya. Namun hasilnya nihil. Finansial yang tidak tersedia menjadi kendala utama dalam menjalani berbagai pengobatan tersebut."Saya sekarang tidak mau lagi melakukan pengobatan apapun. Biarlah Allah yang mengatur-Nya," ungkapnya pasrah. (EMO)

Komentar