Kegiatan peluncuran buku antologi kedua IGI Dompu berjudul "Sepatu Pantofel di Depan Pintu" dirangkaikan dengan literasi keuangan oleh Bank NTB Syariah serta pemberian penghargaan kepada siswa dan guru pemenang lomba menulis cerita rakyat Dompu yang digelar di Aula Pendopo Bupati Dompu, Senin (31/8/2026)Dompu, koranlensapos.com - Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Dompu meluncurkan buku keduanya. Judulnya "Sepatu Pantofel di Depan Pintu dan Cerita-Cerita Lainnya".
Acara launching digelar di Aula Pendopo Bupati Dompu, Senin (31/8/2026). Bupati Dompu yang diwakili Pj. Sekda H. Khairul Insyan menghadiri sekaligus memberikan sambutan dalam acara tersebut.
Tampak hadir pula Sekretaris Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, Muhammad Ihsan, Kepala Bank NTB Syariah KC Dompu, Wawan Supryadi, serta para pegiat literasi di daerah bermoto Nggahi Rawi Pahu itu. Tidak ketinggalan hadir pula N Marewo, sastrawan dan penulis dari Bima yang menjadi pembedah buku itu.
Buku antologi kedua ini berisi 17 cerpen buah karya dari para guru di Kabupaten Dompu. Sedangkan editornya Muhary Wahyu Nurba, seorang wartawan senior yang juga redaktur portal MAGRIB.ID. Judul buku "Sepatu Pantofel di Depan Pintu" diambil dari cerpen yang ditulis Faisal Mawa'ataho, seorang guru bahasa Inggris di SMP 5 Dompu.
Ketua IGI Dompu, Ida Faridah mengatakan acara launching buku antologi kedua ini memang sengaja diselenggarakan pada 31 Agustus 2026, sebagai memontum untuk menutup bulan kemerdekaan RI yang 81. Tema kegiatan yang berkolaborasi dengan Bank NTB Syariah KC Dompu tersebut yakni “Guru Cerdas Finansial, Literasi Sejarah dan Budaya Menuju Dompu Maju.”
"Melaui tema ini, kami di IGI Dompu meyakini satu hal mendasar: menulis adalah cara terbaik untuk merawat kemerdekaan," ungkapnya.
Ditegaskan Ida, Gerakan Literasi Daerah ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah gerakan nyata untuk meningkatkan literasi, daya kritis serta menjawab tantangan era digital.
"Kita tidak boleh menutup mata dari realita bahwa daerah kita masih menghadapi tantangan berat: rendahnya tingkat literasi, numerasi, hingga nilai TKA (Tes Kemampuan Akademik) yang berada di urutan terbawah. Dan salah satu penyebabnya adalah Rendahnya Literasi. Ini adalah PR besar kita bersama," bebernya.
Di sisi lain, lanjutnya, perkembangan teknologi hadir bak pisau bermata dua. Dengan gawai di genggaman, arus informasi mengalir tanpa batas setiap detik. Dari informasi bermanfaat, hingga berita hoaks, ujaran kebencian, hingga caci maki tanpa etika dengan mudah berseliweran di media sosial. Tidak sedikit masyarakat yang terjerumus dalam kehancuran hingga berhadapan dengan hukum hanya karena kecerobohan lisan dan jemari.
Di sinilah literasi hadir sebagai benteng penyelamat.
Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja huruf, melainkan kedalaman etika untuk saling menghargai, menjaga kewibawaan pimpinan, mengomunikasikan pikiran dengan santun, serta mengolah informasi secara bijak demi merawat silaturahmi.
"Maka dari itu, kami di IGI Dompu menolak untuk tinggal diam. Melalui program Satu Guru Satu Buku dan Satu Siswa Satu Buku, kami terus bergerak. Setelah meluncurkan antologi perdana berjudul “Cinta yang Tak Padam”—yang mengisahkan ketulusan pengabdian guru—hari ini kami menghadirkan karya kedua, “Sepatu Pantofel di Depan Pintu”," ungkapnya lagi.
Buku kedua ini, sambungnya, memuat gagasan kritis tentang dinamika pendidikan dan keberpihakan. Di dalamnya, para guru menuangkan pikiran tentang perjuangan, kesenjangan kesejahteraan, dan realita sekolah. "Kami memilih menjaga api literasi tetap menyala dengan menulis; kami tidak memilih berteriak keras di jalanan, tetapi kami memilih berkomunikasi secara berkelas melalui tulisan dan karya. Kami sangat menyadari bahwa karya-karya kami jauh dari kata sempurna namun dengan ilmu dan pengalaman yang meski terbatas ini kami memiliki modal semangat untuk belajar, semangat untuk berkarya dan terus bergerak untuk kemajuan Pendidikan di kabupaten Dompu," urainya.
Acara peluncuran buku antologi kedua ini juga dirangkaikan dengan Literasi Keuangan bersama Bank NTB Syariah KC Dompu serta Pemberian Anugerah kepada para juara lomba menulis Cerita Rakyat Dompu kategori Guru dan Siswa. Karya-karya penulis cerita rakyat ini dinilai istimewa karena menggunakan Bahasa Dompu,
"Tulisan cerita Dou Dompu ini akan dibukukan sebagai bagian dari dokumentasi sejarah dan budaya Dou Dompu, sekaligus kami persembahkan kepada Dinas Dikpora sebagai bahan ajar Muatan Lokal untuk memperkaya perpustakaan sekolah serta mendongkrak minat baca murid-murid kita," jelas Ida.
Lomba Menulis Cerita rakyat Dompu dengan versi bahasa Indoensia dan Bahasa Dompu yang digelar beberapa waktu lalu, untuk menggali kembali keagungan sejarah dan budaya Dompu sebagai wujud cinta mendalam pada bumi Nggahi Rawi Pahu.
"Kami berharap kepada Dinas Dikpora, buku Cerita Dou Dompu ini kelak dapat digandakan dan disebarluaskan ke sekolah-sekolah," harapnya.
Pj. Sekda, H. Khairul Insyan yang mewakili Bupati Dompu menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada IGI Kabupaten Dompu yang telah berinisiatif menyelenggarakan kegiatan yang begitu bermakna.
"Tema acara yang diangkat hari ini — “Guru Cerdas Finansial, Literasi Menuju Dompu Maju” — sungguh sangat tepat, sangat relevan, dan menyentuh langsung akar dari segala kemajuan yang kita cita-citakan bersama," papar birokrat senior yang biasa disapa Dae Mpera itu.
Dikatakannya, literasi adalah kemampuan seseorang untuk memahami, menganalisis, berpikir kritis, menyaring informasi, membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta mampu mengambil keputusan yang bijak dalam berbagai aspek kehidupan.
Di era digital saat ini, banjir informasi datang setiap saat — ada yang bermanfaat, ada yang membingungkan, ada pula yang sengaja menyesatkan. Tanpa kemampuan literasi yang baik, seseorang akan mudah tersesat, mudah dipengaruhi hal-hal yang tidak benar, dan akhirnya tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, masyarakat yang berliterasi tinggi adalah masyarakat yang mampu membedakan fakta dan opini, mampu berpikir mandiri, dan mampu mengambil keputusan terbaik bagi diri serta lingkungannya.
"Itulah kekuatan sesungguhnya dari literasi," ujarnya.
Dikatakannya pula, salah satu penyebab kegelisahan yang paling umum dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah keuangan. Pengelolaan keuangan yang kurang bijak, gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan, kurangnya
pemahaman tentang perencanaan masa depan, kurangnya kesadaran akan tabungan dan investasi— semua itu dapat membebani pikiran, mengganggu ketenangan hati, dan akhirnya menurunkan kualitas kerja serta kualitas pengabdian.
Menjadi cerdas secara finansial bukan sekadar kebutuhan pribadi, melainkan juga bagian dari kewajiban agar bapak dan ibu guru dapat menjalankan tugas mulia dengan tenang, ikhlas, dan berkelanjutan. Ketika guru memahami cara mengelola pendapatan dengan baik, membedakan kebutuhan dan keinginan, menabung sejak dini, serta memahami cara berinvestasi maka ketenangan hati akan hadir.
Menurutnya, peluncuran buku antologi cerpen kedua berjudul “sepatu pantofel di depan pintu” ini menjadi momen sangat membanggakan.
"Ini adalah bukti nyata bahwa guru-guru kita tidak hanya pandai mengajar, tetapi juga pandai berkarya, pandai menuangkan gagasan, imajinasi, dan pengalaman ke dalam tulisan yang indah dan bermanfaat," ungkapnya.
Disebutnya, setiap tulisan yang lahir dari tangan guru adalah benih ilmu yang akan tumbuh dan mekar di hati para siswa.
"Semoga buku ini menjadi bacaan yang menginspirasi, menjadi jendela yang memperluas pandangan pembaca, dan menjadi bukti bahwa dari Dompu pun lahir karya-karya bermutu yang layak dibaca dan dibanggakan," harapnya.
Sekda juga menyampaikan ucapan selamat kepada para pemenang penulisan cerita rakyat dari kalangan guru dan siswa. "Cerita rakyat adalah warisan leluhur, adalah cerminan jiwa nenek moyang kita, adalah kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Di tengah arus peradaban dunia yang semakin terbuka, melestarikan cerita rakyat berarti kita sedang menjaga identitas diri, menjaga akar budaya kita, agar anak cucu kelak tetap tahu dari mana mereka berasal, dan apa saja nilai-nilai luhur yang harus mereka jaga sepanjang hidup.
Kepada para pemenang, hari ini saya ucapkan selamat dan sukses. tetaplah berkarya, teruslah menulis, dan jangan pernah lelah mencintai budaya sendiri," pungkasnya.
Sebelumnya, acara tersebut di atas diawali dengan penampilan
Teatrikal puisi dari SMPIT Imam Bukhari Dompu kolaborasi dengan SMPN 1 Dompu binaan guru IGI Teti Maheba dan Tarian Parafu dari SMAN 2 Dompu juara 1 FL3SN kabupaten Dompu.
Berikut ini Nama-Nama Pemenang Lomba Menulis Cerita Rakyat Dompu yang diberikan penghargaan oleh IGI Dompu:
Kategori siswa:
Juara I Nur Al-Bayyinah Prajawati
Asal sekolah: SMP IT IMAM BUKHARI DOMPU
Juara II Muhammad Ryaas Faraputra
Asal sekolah: MTsN1 Dompu
Juara III Sumiati
SMKN 1 HU'U
Harapan I
Fafan Ramadhan
SMPN 5 Dompu
Harapan II
Alya Adriana Zafira Putri
SMAN 1 Hu'u
Harapan III
Muhammad Raka Putra N
SMAN 1 Dompu
Kategori guru:
Juara I: Surunan Rola
SMAN 1 PAJO
Juara II. Nurul SATRYANI, S.Pd.I SMAN 2 WOJA
Juara III. NANU ANRIANI, S.Pd SMPN 1Woja
HARAPAN I
. Ririn Anggriani, S.Pd
SMPN 6 Dompu
HARAPAN II. Muhammad Ikhwanudin, S.Pd
SMAN 1 Pekat
HARAPAN III. Nur Kumalasari, S.Pd
SMPN 5 Dompu.
(emo).

Komentar