Suad: Jangan Semua Beban Keluarga Dipikul Ibu -->

Kategori Berita

.

Suad: Jangan Semua Beban Keluarga Dipikul Ibu

Koran lensa pos
Senin, 31 Agustus 2026

 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Dompu, Miftahul Suadah saat menyampaikan materi edukasi peran ibu sebagai manajer keluarga yang digelar di Aula Kantor Desa Sorinomo Kecamatan Pekat, Ahad (30)8/2026). Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama IISWARA dan DP3A Kabupaten Dompu



Dompu, koranlensapos.com – Menjadi ibu bukan berarti harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga seorang diri. Ibu justru memiliki peran penting sebagai manajer keluarga yang mengatur, mengarahkan, mengoordinasikan dan memastikan kebutuhan keluarga berjalan dengan baik.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Dompu, Miftahul Suadah, saat memberikan materi sosialisasi di Aula Kantor Desa Sorinomo, Kecamatan Pekat, Ahad (30/8/2026).

Menurut Suadah, konsep ibu sebagai manajer keluarga tidak berarti ibu menjadi “bos” di rumah. Sebaliknya, ibu merupakan salah satu penggerak utama keluarga yang bekerja bersama ayah dan anak sesuai peran dan kemampuan masing-masing.

“Kuncinya adalah mengatur bersama, bukan mengerjakan semuanya sendiri,” jelas Suadah dalam materinya.

Ia mengawali materi dengan sejumlah pertanyaan pemantik. Siapa yang biasanya mengatur kebutuhan keluarga? Siapa yang mengingat jadwal sekolah, belanja, kesehatan dan kegiatan anak? Apakah seluruh pekerjaan tersebut harus dilakukan ibu seorang diri?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk mengajak para peserta memahami bahwa beban keluarga seharusnya tidak hanya berada di pundak ibu.


Lima Peran Penting Ibu

Suadah menjelaskan, sedikitnya terdapat lima peran utama ibu sebagai manajer keluarga, yakni manajer waktu, manajer keuangan, manajer pengasuhan anak, manajer pembagian tugas, serta manajer komunikasi dan konflik.

Sebagai manajer waktu, ibu perlu menentukan skala prioritas. Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu bersamaan.

“Kebutuhan anak dan makanan lebih utama dibanding pekerjaan rumah yang sebenarnya masih bisa ditunda. Rumah tidak harus sempurna. Yang penting keluarga sehat, aman dan saling mendukung,” jelasnya.

Dalam pengelolaan keuangan, ibu perlu mengetahui pemasukan dan pengeluaran keluarga serta mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Prioritas utama, kata dia, antara lain makanan, pendidikan, kesehatan, listrik, transportasi dan kebutuhan penting lainnya. Sementara tabungan atau dana darurat dapat disisihkan sedikit demi sedikit tetapi dilakukan secara rutin.


Pengasuhan Harus Tegas, Bukan Kasar

Pada aspek pengasuhan anak, Suadah menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan fisik sekaligus kebutuhan emosional anak.

Orang tua, katanya, harus mampu bersikap tegas tanpa menggunakan kekerasan. Kesalahan anak sebaiknya dikoreksi perilakunya, bukan dengan merendahkan pribadi anak.

“Misalnya, ibu tidak suka ketika anak memukul. Sampaikan bahwa memukul itu tidak baik dan ketika marah, kita bisa membicarakannya dengan cara yang baik,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pembagian tugas dalam keluarga. Ibu tidak seharusnya mengambil seluruh pekerjaan rumah dan pengasuhan anak.

Ayah perlu dilibatkan dalam pekerjaan rumah dan pengasuhan. Sementara anak dapat diberikan tugas sesuai usianya, seperti merapikan tempat tidur, membereskan mainan, mencuci atau menata piring, serta pekerjaan ringan lainnya.

Menurut Suadah, pembagian tugas bukan sekadar untuk meringankan beban ibu, tetapi juga menjadi sarana pendidikan bagi anak agar belajar bertanggung jawab.


Konflik Jangan Diselesaikan dengan Kekerasan

Hal lain yang tidak kalah penting adalah komunikasi keluarga. Suadah mengajak para ibu untuk membiasakan diri mendengarkan sebelum memberikan nasihat.

Jika terjadi masalah, yang dibicarakan adalah persoalannya, bukan menyerang pribadi anggota keluarga.

Ketika emosi meningkat, ia menyarankan agar anggota keluarga berhenti sejenak, menarik napas, memahami persoalan dan kembali berbicara setelah kondisi lebih tenang.

“Masalah keluarga tidak diselesaikan dengan kekerasan, bentakan, penghinaan atau ancaman,” tegasnya.

Suadah juga mengingatkan bahwa suasana keluarga sangat berpengaruh terhadap rasa aman dan perkembangan anak. Sebab keluarga merupakan tempat pertama bagi anak belajar tentang kasih sayang, disiplin, tanggung jawab, komunikasi dan menghargai orang lain.

Karena itu, membangun keluarga yang sehat merupakan tanggung jawab bersama antara ayah, ibu dan anak.


Ibu Juga Harus Merawat Diri

Di tengah berbagai tanggung jawab tersebut, Suadah mengingatkan para ibu agar tidak melupakan dirinya sendiri.

Ibu membutuhkan istirahat yang cukup, menjaga kesehatan, memiliki waktu untuk diri sendiri dan berani berbicara ketika membutuhkan bantuan.

“Merawat diri bukan berarti egois. Ibu yang terawat akan lebih mampu merawat keluarganya,” pesannya.

Ia juga mengingatkan tujuh kebiasaan yang sebaiknya dihindari dalam keluarga, yakni menganggap semua pekerjaan harus dilakukan ibu, selalu memarahi anak ketika salah, menyelesaikan konflik dengan kekerasan, tidak merencanakan keuangan, membuat semua keputusan sendiri, tidak pernah meminta bantuan dan membandingkan anak dengan anak lainnya.


Prinsip 5M

Untuk memudahkan penerapan dalam kehidupan sehari-hari, Suadah memperkenalkan prinsip 5M, yakni Mengatur, Melibatkan, Mendengarkan, Memberi Contoh dan Menjaga Diri.

Mengatur berarti mengelola waktu, kebutuhan dan prioritas keluarga. Melibatkan berarti mengajak suami dan anak menjalankan tugas sesuai peran.

Mendengarkan berarti memahami kebutuhan dan perasaan anggota keluarga. Memberi contoh berarti menunjukkan perilaku positif yang diharapkan tumbuh pada anak. Sedangkan menjaga diri berarti memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan ibu.

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diajak melakukan aktivitas “Apa yang Bisa Didelegasikan?” Mereka diminta menuliskan lima pekerjaan yang biasanya dilakukan sendiri, kemudian menentukan mana yang bisa dibantu suami, mana yang dapat dilakukan anak dan mana yang sebenarnya tidak harus dilakukan setiap hari.

Melalui aktivitas tersebut, para ibu diajak menyadari bahwa meringankan beban keluarga bukan berarti mengurangi peran ibu, tetapi justru membangun tanggung jawab bersama.

Suadah juga memberikan tantangan tujuh hari kepada peserta. Hari pertama mencatat seluruh kegiatan sehari-hari, hari kedua menentukan tiga prioritas keluarga, hari ketiga membuat pembagian tugas, hari keempat meluangkan 15 menit berbicara dengan anak tanpa telepon genggam, hari kelima mencatat pemasukan dan pengeluaran, hari keenam melakukan kegiatan bersama keluarga dan hari ketujuh mengevaluasi apa saja yang membuat kehidupan keluarga terasa lebih ringan dan bahagia.

Mengutip teori Family Systems Theory, Suadah menjelaskan bahwa keluarga merupakan sebuah sistem yang saling berhubungan. Perubahan perilaku satu anggota keluarga dapat memengaruhi anggota lainnya.

Sementara melalui Social Learning Theory Albert Bandura, anak belajar dengan mengamati dan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya.

“Jangan hanya meminta anak berubah. Bangun juga pola hubungan yang sehat dan berikan contoh,” pesannya.

Menutup materinya, Suadah menegaskan bahwa tidak ada tuntutan bagi seorang ibu untuk menjadi ibu yang sempurna.

“Ibu tidak harus menjadi ibu yang sempurna. Ibu perlu hadir, mau mendengarkan, mampu bekerja sama dan berani meminta bantuan. Keluarga yang hebat dibangun oleh kerja sama seluruh anggota keluarga,” pungkasnya.

Kegiatan sosialisasi tersebut berlangsung di Aula Kantor Desa Sorinomo, Kecamatan Pekat, Ahad (30/8/2026), dan terselenggara atas kerja sama Ikatan Istri Wakil Rakyat (IISWARA) Kabupaten Dompu dengan DP3A Kabupaten Dompu. (emo).