Sesi foto bersama usai kegiatan sosialisasi "Edukasi Peran Ibu sebagai Manajer Keluarga yang terselenggara atas kerja sama IISWARA dan DP3A Kabupaten Dompu di Aula Kantor Desa Sorinomo Kecamatan Pekat, Ahad sore (30/8/2026)Dompu, koranlensapos.com - Pada Jumat (29/8/2026) lalu, Ikatan Istri Wakil Rakyat Kabupaten Dompu bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Dompu berkolaborasi melakukan sosialisasi Pengasuhan Positif untuk Pencegahan Kekerasan Anak. Kegiatan itu di Desa Mangge Asi Kecamatan Dompu.
Dua hari kemudian, tepatnya Ahad (30/8/2026) kedua institusi ini kembali berkolaborasi. Lokasi yang disasar tidak tanggung-tanggung, Desa Sorinomo Kecamatan Pekat. Jarak tempuh lumayan jauh, 103 Km dari pusat pemerintahan. Hebatnya, para istri wakil rakyat yang berdomisili di berbagai kecamatan yang saling berjauhan itu berkesempatan hadir dengan mengenakan seragam, wujud kekompakan dan kebersamaan. Ketua DPRD, Ir. Muttakun bersama beberapa wakil rakyat juga terlihat mendampingi pelaksanaan kegiatan itu.
Acara sosialisasi di Desa Sorinomo ini dilaksanakan usai mengikuti rangkaian agenda kegiatan Tambora Jungle Run 2026 yang dipusatkan di kawasan Sanctuary Rusa Taman Nasional Tambora (TNT). Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Materi yang disampaikan dalam acara sosialisasi di Desa Sorinomo tersebut tentang peran ibu sebagai manajer keluarga. Seluruh peserta dari kalangan emak-emak ini diedukasi agar memahami perannya sebagai seorang manajer dalam sebuah rumah tangga.
Ketua IISWARA Kabupaten Dompu, Yunita Chairani saat membuka kegiatan itu menyampaikan terima kasih kepada Kepala Desa beserta jajaran dan TP PKK Desa atas terselenggaranya kegiatan sosialisasi itu.
"Semoga materi yang disampaikan dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan bersama keluarga," harap istri Ketua DPRD Dompu, Ir. Muttakun itu.
Kadis P3A Kabupaten Dompu, Miftahul Suadah yang didampingi Kabid Kelembagaan dan Kesetaraan Gender, Neny Andriany Karmila dalam uraian materinya menekankan Peran ibu dalam keluarga tidak sekadar mengurus rumah tangga. Ibu memiliki posisi penting sebagai salah satu penggerak utama keluarga dalam mengatur waktu, keuangan, pengasuhan anak, pembagian tugas hingga membangun komunikasi yang sehat.
Menurutnya, menjadi manajer keluarga bukan berarti ibu menjadi “bos” di rumah. Sebaliknya, ibu berperan mengatur, mengarahkan, mengoordinasikan dan memastikan kebutuhan keluarga berjalan dengan baik.
“Kuncinya adalah mengatur bersama, bukan mengerjakan semuanya sendiri,” papar birokrat yang familiar dengan sapaan Acha Suad itu.
Miftahul Suadah menjelaskan, keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang kasih sayang, disiplin, tanggung jawab, komunikasi dan menghargai orang lain. Karena itu, suasana rumah sangat berpengaruh terhadap rasa aman dan perkembangan anak.
“Keluarga yang sehat adalah tanggung jawab bersama, ayah, ibu dan anak sesuai kemampuan masing-masing,” jelasnya.
Lima Peran Utama Ibu
Dalam materi tersebut dijelaskan lima peran utama ibu sebagai manajer keluarga.
Pertama, manajer waktu. Ibu perlu menentukan skala prioritas dan memahami bahwa tidak semua pekerjaan harus diselesaikan sekaligus.
Kebutuhan anak dan makanan, misalnya, harus lebih diutamakan dibandingkan pekerjaan rumah yang masih dapat ditunda. Rumah juga tidak harus selalu sempurna. Yang terpenting adalah keluarga sehat, aman dan saling mendukung.
Kedua, manajer keuangan. Ibu perlu mengenali pemasukan dan pengeluaran keluarga serta mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Prioritas keuangan keluarga antara lain makanan, pendidikan, kesehatan, listrik, air, transportasi serta kebutuhan penting lainnya. Tabungan atau dana darurat juga perlu disisihkan meski jumlahnya sedikit, tetapi dilakukan secara rutin.
Ketiga, manajer pengasuhan anak. Ibu tidak hanya perlu memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga kebutuhan emosionalnya.
Dalam mendisiplinkan anak, orang tua perlu bersikap tegas tanpa bersikap kasar. Yang dikoreksi adalah perilakunya, bukan merendahkan pribadi anak.
Keempat, manajer pembagian tugas. Ibu tidak harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah seorang diri. Suami perlu dilibatkan dalam pekerjaan rumah dan pengasuhan anak.
Anak juga dapat dilibatkan sesuai usianya, misalnya merapikan tempat tidur, mainan, piring atau melakukan pekerjaan ringan lainnya. Pembagian tugas tersebut sekaligus menjadi sarana pendidikan tanggung jawab bagi anak.
Kelima, manajer komunikasi dan konflik. Dalam keluarga, setiap anggota perlu belajar mendengarkan sebelum memberikan nasihat.
Masalah sebaiknya dibicarakan dengan fokus pada persoalan, bukan menyerang pribadi. Ketika emosi meningkat, orang tua dianjurkan berhenti sejenak, menarik napas, memahami masalah dan kembali berbicara setelah suasana lebih tenang.
“Masalah keluarga tidak diselesaikan dengan kekerasan, bentakan, penghinaan atau ancaman,” urainya.
Anak Belajar dari Apa yang Dilihat
Miftahul Suadah juga mengaitkan pengasuhan keluarga dengan Family Systems Theory dan Social Learning Theory Albert Bandura.
Dalam Family Systems Theory, keluarga dipandang sebagai sebuah sistem yang anggotanya saling berhubungan. Perubahan perilaku satu anggota keluarga dapat memengaruhi anggota keluarga lainnya.
Sementara melalui Social Learning Theory, anak belajar dengan mengamati dan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya.
Karena itu, orang tua tidak cukup hanya meminta anak berubah. Orang tua juga perlu membangun pola hubungan yang sehat dan memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.
Ibu Juga Harus Menjaga Diri
Dalam menjalankan berbagai perannya, ibu juga diingatkan agar tidak melupakan dirinya sendiri.
Ibu perlu mendapatkan istirahat yang cukup, menjaga kesehatan, memiliki waktu untuk diri sendiri dan berani meminta bantuan ketika membutuhkannya.
Merawat diri bukan berarti egois. Ibu yang terawat dan memiliki kondisi yang baik akan lebih mampu memberikan perhatian dan merawat keluarganya.
Materi tersebut juga mengingatkan agar ibu menghindari tujuh kebiasaan, yakni mengerjakan semua pekerjaan sendiri, selalu memarahi anak ketika melakukan kesalahan, menyelesaikan konflik dengan kekerasan, tidak merencanakan keuangan, mengambil seluruh keputusan sendiri, tidak pernah meminta bantuan dan membandingkan anak dengan anak lain.
Prinsip 5M
Untuk menjalankan peran sebagai manajer keluarga, diperkenalkan pula prinsip 5M, yakni Mengatur, Melibatkan, Mendengarkan, Memberi Contoh dan Menjaga Diri.
Mengatur berarti mengelola waktu, kebutuhan dan prioritas keluarga. Melibatkan berarti mengikutsertakan suami dan anak sesuai peran dan kemampuannya.
Mendengarkan berarti memahami kebutuhan dan perasaan anggota keluarga. Memberi contoh berarti menunjukkan perilaku yang ingin dilihat pada anak. Sedangkan menjaga diri berarti memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan ibu.
Sebagai bagian dari materi, peserta juga diajak melakukan aktivitas “Apa yang Bisa Didelegasikan?”. Mereka diminta menuliskan lima pekerjaan yang biasanya dilakukan sendiri oleh ibu, kemudian menentukan pekerjaan mana yang bisa dibantu suami, mana yang dapat dilakukan anak dan pekerjaan mana yang sebenarnya tidak harus dilakukan setiap hari.
Tujuannya adalah membuat beban ibu lebih ringan sekaligus membangun pembagian tanggung jawab yang lebih merata dalam keluarga.
Selain itu, peserta diberikan tantangan tujuh hari. Hari pertama mencatat seluruh kegiatan sehari-hari, hari kedua menentukan tiga prioritas keluarga, hari ketiga membuat pembagian tugas, hari keempat menyediakan waktu 15 menit berbicara dengan anak tanpa HP, hari kelima mencatat pemasukan dan pengeluaran, hari keenam melakukan kegiatan bersama keluarga dan hari ketujuh mengevaluasi hal-hal yang membuat kehidupan keluarga terasa lebih ringan dan bahagia.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan sangat sederhana: ibu tidak harus menjadi ibu yang sempurna.
Ibu cukup hadir, mau mendengarkan, mampu bekerja sama dan berani meminta bantuan. Sebab, keluarga yang hebat bukan dibangun oleh satu orang, melainkan melalui kerja sama seluruh anggota keluarga.
Kepala Desa Sorinomo, Supardi mengapresiasi IISWARA dan DP3A Kabupaten Dompu yang meluangkan waktu dan tenaga untuk memberikan edukasi kepada kaum ibu dalam menjalankan perannya di dalam mengelola rumah tangga. (emo).

Komentar