Foto bersama usai launching buku "Lembaran Terakhir" hasil karya pelajar yang tergabung dalam Ekskul Jurnalistik SMAN 1 Hu'uDompu, koranlensapos.com - SMA 1 Hu'u, sebuah sekolah negeri di selatan Dompu. Namun keberadaan sekolah ini tak dapat dipandang sebelah mata. Dari sekolah yang berlokasi di Desa Sawe Kecamatan Hu'u ini telah lahir calon-calon penulis masa depan. Pelajar yang masih berusia belasan tahun, namun telah mampu menghasilkan karya tulis. Delapan buku telah lahir dari goresan pena anak-anak negeri yang menimba ilmu di sekolah ini.
Mereka adalah para pelajar yang tergabung dalam kelompok Ekstrakurikuler Jurnalistik SMAN 1 Hu'u. Uniknya anggota ekskul ini seluruhnya putri. Tidak satu pun putra yang lolos dalam seleksi menjadi anggota ekskul binaan Bang Radent ini.
Hanya dalam tempo 3 tahun, anggota Ekskul Jurnalistik ini telah mampu menelurkan 8 buah buku. Sungguh produktif dan patut dibanggakan. Setiap buku berisi kumpulan tulisan dari para pejuang muda literasi yang tergabung dalam ekskul. Tak ketinggalan buah karya dari tokoh berambut gondrong yang menjadi pembina mereka, Bang Radent.
Apa saja judul buku mereka?
Buku perdana berjudul "Coretan Pena". Buku ini ditulis oleh anggota ekskul angkatan pertama yang sudah menjadi alumni di sekolah itu. Ada lagi " Life at School", "Semarak HUT SMAN 1 Hu'u ke-34", " Cerita tentang Kita", "Beragam Cerita di Sekolah", " Lentera Memori", Jejak-Jejak Literasi" dan teranyar "Lembaran Terakhir".
Buku " Lembaran Terakhir" dilaunching pada hari Senin, 13 April 2026. Acara launching di halaman SMAN 1 Hu'u itu dihadiri pula Pengawas Pembina KCD Dikbud Kabupaten Dompu, M. Gunawan. Pejabat yang familiar dengan sapaan Aba Gun ini juga merupakan dosen senior di STKIP YAPIS Dompu Jurusan Bahasa Indonesia. Soal pengembangan literasi menjadi 'santapan' sehari-hari bagi pria periang plus humoris bergelar Magister Pendidikan (M. Pd) ini.
Apresiasi disampaikan Aba Gun kepada Bang Radent yang telah membina para anggota ekskul. Apresiasi juga kepada pihak sekolah yang terus mendukung dan mendorong dalam upaya pengembangan literasi ini. Tak ketinggalan kepada para orang tua yang juga mendukung anak-anaknya untuk terus mengasah diri dalam menulis.
"Ini patut kita apresiasi dan hendaknya memotivasi sekolah lain untuk bisa seperti ini," ucapnya.
Aba Gun optimis sekolah lain pun bisa melakukan hal yang sama seperti SMAN 1 Hu'u.
"Why not. Kalau SMA 1 Hu'u bisa, sekolah lain pun bisa. Dorong siswa-siswinya untuk menulis lalu diterbitkan jadi buku. Ini bisa menjadi kenangan sampai kapan pun bagi anak-anak, " dorongnya.
Aba Gun mengaku tetap mendorong sekolah-sekolah binaannya agar bisa mengembangkan literasi dengan mendorong para siswanya menulis.
"Saya tetap mendorong sekolah-sekolah binaan saya dan mereka siap," ujarnya.
Kepala sekolah, Titi Sumantri pada momen itu mengaku bangga karena program ekskul jurnalistik mampu menghasilkan 8 buku dalam tempo yang hanya 3 tahun lebih.
"Alhamdulillah saya sangat bangga atas pencapaian ini, " ujarnya.
Menurutnya konsistensi menjadi kata kunci dalam melatih kemampuan para anggota ekskul dalam menulis. Konsistensi dari pembina, pihak sekolah dan para siswa sendiri. Diakuinya, Bang Radent selaku pembina mencurahkan waktu, pikiran bahkan biaya untuk berjuang mengembangkan literasi bagi para siswa. Pihak internal sekolah pun tak tinggal diam dan terus memberikan motivasi dan dukungan.
Berbagai bentuk dukungan dicurahkan demi kesuksesan perjuangan mengembangkan literasi di sekolah itu sesuai batas kemampuan yang dimiliki.
"Anak-anak yang bisa menulis kami kasih penghargaan, walaupun sedikit tetapi bermakna, " ujar Titi.
Disebutnya komunikasi dan diskusi selalu dibangun hingga sampai pada proses penerbitan buku. Semua biaya diatasi bersama agar hasil karya anak-anak bisa berbentuk buku.
Dilanjutkan Kasek, pihaknya tetap mengharapkan Bang Radent agar terus membina ekskul jurnalistik di sekolah tersebut.
"Bang Radent di sini alumni. Jadi bukan sebagai pegiat literasi tapi sebagai alumni. Jadi saya butuh peran alumni untuk memajukan SMA 1 Hu'u. Saya dengan Bang Radent juga sama-sama alumni di Unhas," ungkapnya.
Ketua Komite, Asikin juga menyampaikan harapan yang sama. Secara tegas ia meminta Bang Radent agar tetap membina ekskul jurnalistik di SMA 1 Hu'u.
"Kami meminta agar Bang Radent tetap membina adik-adiknya di sini. Buku "Lembaran Terakhir" ini bukan yang terakhir," tegas Asikin.
Penegasan itu ia sampaikan menanggapi keinginan Bang Radent yang hendak undur diri dari aktivitasnya membina ekskul jurnalistik karena kesibukannya.
Rika, salah satu wali murid menyampaikan rasa bangga tiada terhingga karena putrinya bisa menghasilkan karya tulis. Dari sudut matanya terlihat basah sebagai tanda haru dan bahagia karena anaknya bisa menulis dan dimuat dalam sebuah buku.
Terima kasih tak terhingga ia sampaikan kepada Bang Radent dan juga pihak sekolah yang telah melatih dan membimbing para siswanya sehingga bisa menulis.
Salah satu anggota Ekskul Jurnalistik, Keeza Riefk Zahrani mengaku bahagia karena bisa menulis. Dengan menulis ia bisa menuangkan hal apa saja yang ada dalam pikirannya.
"Saya sangat bahagia bisa menulis meskipun pada awalnya agak ragu karena tulisan senior-senior yang sudah alumni bagus-bagus," kata siswi yang juga masuk anggota ekskul drumband ini.
Motivasi dari Bang Radent membuatnya tertantang untuk terus menulis.
"Bang Radent selalu mengatakan kamu bisa kamu bisa teruslah menulis sehingga kami semangat untuk menulis," ucapnya berapi-api.
Siapakah Bang Radent?
Putra Hu'u tersebut bernama asli Suradin. Ia tergolong pria bertipe tak banyak bicara, namun produktif menulis. Ada belasan buku telah ditulisnya di sela-sela kesibukannya dalam berbagai aktivitas. Pada HUT Dompu ke-211 tahun 2026 yang jatuh pada tanggal 11 April lalu, buku terbarunya terbit. Judulnya "Sejarah Dou Dompu". Buku itu ia tulis bersama pegiat budaya Dompu, Syafrudin, ST., MT, Ustaz Faisal Mawa'ataho dan jurnalis Supriyamin.
Suradin menyelesaikan pendidikan Strata Satu di Universitan Hasanuddin, Makassar Jurusan Ilmu Sejarah (2011) dan Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Makassar pada tahun 2017 (S2 IPS/ Pendidikan Sejarah). Suradin juga pernah aktif menjadi jurnalis pada sejumlah media online. (emo).

Komentar