Benarkah Dou Dompu tidak Memiliki Bahasa?
Oleh: Gurutoi Muslih
Ini bukan soal lucu atau tidak. Ini soal logika sejarah. Kadang sejarah dipelintir bukan karena tidak tahu, tapi karena terlalu ingin menang.
Dalam ilmu sejarah, sebuah wilayah tidak mungkin disebut dalam ekspansi kekuatan besar tanpa memiliki sistem sosial, struktur kekuasaan, dan bahasa.
Mari kita luruskan, bukan dengan emosi, tapi dengan urutan waktu yang tidak bisa berdusta.
Tahun 1331 M.
Sumpah Palapa diucapkan oleh Gajah Mada. Di sana disebut Dompo (Dompu).
Berhenti sebentar.
Kalau sebuah wilayah disebut dalam agenda penaklukan kekuatan sebesar Kerajaan Majapahit, itu bukan kampung kosong loh.
Itu adalah sebuah entitas.
Itu wilayah berdaulat.
Itu masyarakat hidup dengan sistem,
dengan identitas…
dan ya tentu dengan bahasa.
Tahun 1357 M.
Ekspedisi Padompo terjadi.
Yang ditaklukan siapa? Dompo.
Bukan Bima.
Bukan Mbojo.
Pertanyaannya sederhana:
Kenapa Majapahit tidak menyerang sesuatu yang katanya sudah besar?
Atau… jangan-jangan memang belum ada?
Tahun 1365 M.
Kitab Negarakertagama mencatat wilayah timur: Dompo disebut. Bima disebut kemudian.
Ini bukan dongeng. Ini dokumen negara.
Tahun 1420 M.
Baru muncul cikal bakal raja Bima Indra Zamrud datang melalui Teluk Cempi, wilayah Dompu.
Datang dari luar.
Masuk lewat Dompu.
Ini penting:
Yang datang itu Bima. Yang sudah ada itu Dompu.
Jadi jangan dibalik-balik.
Bahkan dalam kajian Agus Aris Munandar, setelah majapahit penaklukan Dompo, maka diambilah wilayah timur Dompu untuk mendirikan sebuah nagara baru yang benama “Bima”.
Artinya apa?
Bima itu tidak jatuh dari langit.
Tidak muncul dari ruang kosong.
Ia tumbuh… dari rahimnya Dompu.
Sekarang kita lompat ke abad ke-17.
Dalam Bo’ Sangaji Kai, baru muncul istilah “Mbojo.”
Perhatikan baik-baik:
1331 – Dompu sudah disebut
1357 – Dompu ditaklukkan
1420 – Cikal bakal Bima baru datang
1600-an – Istilah “Mbojo” baru muncul
Jadi kalau ada yang bilang:
“Dompu tidak punya bahasa”
Saya ingin tanya satu hal saja
Selama ratusan tahun sebelum itu… mereka ngobrol pakai apa? Isyarat tangan?
Jangan merendahkan leluhur sendiri hanya untuk meninggikan narasi baru.
Bahasa tidak lahir dari kosong.
Bahasa tumbuh dari peradaban.
Dan Dompu sudah ada jauh sebelum istilah “Mbojo” dicatat.
Bahasa bukan sesuatu yang dipinjam dalam semalam. Ia tumbuh dari generasi ke generasi.
Jika Dompu sudah eksis berabad-abad sebelum istilah ‘Mbojo’ dicatat, maka secara logika, masyarakat Dompu pasti telah memiliki sistem bahasa jauh sebelumnya.
Lebih ironis lagi ketika ada yang berkata:
“Dompu meminjam bahasa dari tetangga.”
Tetangga yang mana?
Yang lahir belakangan?
Ini bukan sekadar keliru.
Ini terbalik.
Fakta sederhana:
Yang lebih dulu ada, lebih dulu berbicara.
Yang lebih dulu hidup, lebih dulu membangun identitas.
Dan satu hal lagi yang sering sengaja dihindari:
Dompu bukan pecahan dari Bima.
Justru dari wilayah Dompu-lah Bima dibentuk.
Sejarah tidak butuh dibela.
Ia hanya butuh dibaca dengan jujur.
Dan kalau masih ada yang bersikeras membalikkan fakta, mungkin masalahnya bukan di data…
tapi di keberanian menerima kebenaran.
Dou Dompu tidak pernah bisu.
Yang bisu… adalah mereka yang menolak mendengar sejarah.
bukan pada sejarah yang diam… tapi pada siapa yang tidak mau mendengarnya.

Komentar