Suwarno Atmojo, Peletak Dasar Pemerintahan Modern di Kabupaten Dompu

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

.

Suwarno Atmojo, Peletak Dasar Pemerintahan Modern di Kabupaten Dompu

Koran lensa pos
Kamis, 10 Februari 2022

 Oleh: Yani Hartono*

  Letkol. Suwarno Atmojo, Bupati Dompu      periode 1967-1979)

Mungkin  generasi Dompu sekarang banyak yang tidak tahu, pada masa kepemimpinan siapa adanya perubahan peradaban yang mendasar terkait sarana prasarana dan birokrasi di kabupaten Dompu, dimana Pusat pemerintahan Kantor Bupati dan Pendopo Bupati disatukan dalam  satu komplek dan memiliki alun alun yang sekarang dikenal dengan nama pendopo bupati dengan lapangannya yang diberi nama Lapangan Beringin.

Atau mungkin banyak juga yang tidak tahu, kapan dan pada periode Bupati siapa, Logo Pemda dan Moto Daerah Nggahi Rawi Pahu pertama kali memiliki legalitas dan bagaimana teknis penentuan logo tersebut ..

Atau mungkin banyak yang tidak tahu, siapa Bupati Dompu yang memiliki masa jabatan terpanjang  di era pemerintahan modern yaitu memimpin selama 12 tahun.

Ya hal-hal tersebut di atas adalah merupakan bagian bagian dari Kenangan  yang ditorehkan oleh Bupati Dompu H.SUWARNO ATMOJO ketika memimpin Dompu.

Selama 12 tahun, tepatnya mulai tahun 1967 hingga 1979, Kabupaten Dompu dipimpin oleh seorang Perwira TNI Angkatan Darat yakni Lettu H. Suwarno Atmojo. Beliau kelahiran Malang - Jawa Timur tahun 1924.

Menurut beberapa Sumber, sejarah awal Suwarno Atmojo menjadi Bupati Dompu bermula dari adanya kondisi pemerintahan dan politik di Dompu yang saat itu terjadi kekosongan pimpinan daerah (sebelumnya Bupati Kepala Daerah Tingkat II Dompu dijabat oleh KH. Abdurrahman Mahmud tahun 1960 hingga 1966. Setelah itu, dalam waktu kurang dari setahun, jabatan tersebut dipercayakan kepada Pejabat Sementara I Gusti Ngurah). Saat itu berkembang isu jika kekosongan berkelanjutan maka pemerintahan wilayah Kabupaten Dompu akan digabung dengan Kabupaten Bima.

Lettu Suwarno Atmojo saat itu menjabat sebagai Komandan Khusus Pemulihan Keamanan di wilayah Bima dan Dompu. Beliau dinilai sebagai figur yang bisa mengendalikan situasi keamanan dan ketertiban serta bisa menjadi mediator kepada beberapa fraksi yang berkonflik.

Atas inisiatif beberapa tokoh masyarakat Dompu, mencoba menghadap gubernur NTB saat itu bapak  R. Wasita Kusumah yang kebetulan merangkap Danrem. Mereka  meminta kepada Gubernur untuk menerima usulan mereka untuk merekomendasikan Lettu Suwarno Atmojo sebagai Bupati Dompu.

Akhirnya pada tahun 1967, Lettu Suwarno ditunjuk dan ditetapkan sebagai Penjabat Bupati Dompu dengan tugas pemulihan kondisi ekonomi, politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan serta memulihkan jalannya pemerintahan akibat tragedi nasional G30S/PKI. Suwarno Atmojo juga mendapat tugas membentuk DPRD, dan banyak lagi tugas pada masa itu.

Selanjutnya setelah 2 tahun menjadi Penjabat Bupati Dompu, maka pada tahun 1969, Lettu Suwarno resmi dilantik menjadi Bupati KDH Tk. II Dompu secara definitif (periode I tahun 1969-1975).

Pada periode Pertama ini, Kabupaten Dompu sebagai kabupaten otonom  hanya terdiri dari 4 kecamatan yaitu Dompu, Huu, Kilo dan Kempo dengan kondisi yang masih terisolasi. SDM pemerintahan yang masih jauh dari kebutuhan. Kondisi infrastruktur yang sangat minim, serta kondisi keuangan daerah yang pasti minus.

Menghadapi kondisi demikian, Bupati Suwarno mulai melakukan penataan-penataan. Dimulai dari peningkatan SDM aparatur pemerintah. Beliau mengirim kader-kader aparatur terbaik Dompu untuk mengikuti pendidikan dan tugas belajar ke daerah lain seperti sekolah keuangan, APDN, dan banyak lagi sekolah sekolah yang diikuti aparatur Pemda Dompu.

Bahkan karena anggaran Pemda yang terbatas, rumah beliau di Mataram pernah dijadikan sebagai asrama sementara bagi aparatur pemda Dompu yang sedang mengenyam pendidikan di Mataram.
Selanjutnya dalam upaya menggerakan perekonomian rakyat didatangkan beberapa pegusaha dari luar daerah untuk membuka usaha yang memberikan dampak terbukanya lapangan kerja bagi rakyat dompu, misalnya pada bidang konstruksi, transportasi dan sembako. Di masa pemerintahan beliau juga dibangun bendungan-bendungan yang masih eksis hingga saat ini (Bendungan Rora misalnya).

Hal penting lainnya yang dilakukan pada periode pertama adalah adanya penetapan legalitas Logo Pemda dan Moto Daerah Ngahi Rawi Pahu yang memiliki dasar hukum yang jelas melalui Peraturan Daerah. Penentuan logo dan motto itu lewat kajian yang panjang dan bahkan dilakukan sayembara. Menurut informasi bahwa saat itu kabupaten di NTB yang memiliki logo dan motto Daerah hanya Dompu dan Lobar.

Setelah 5 tahun periode I berakhir, Bupati Suwarno terpilih kembali untuk periode ke 2 dengan masa bakti tahun 1975-1979, melalui proses pemilihan di DPRD. Pada periode ke II ini, tatanan birokrasi pemerintahan semakin membaik seiring dengan SDM Dompu yang dikirim telah menamatkan pendidikannya dan secara serta-merta kemudian menjadi pejabat di lingkup pemerintahan daerah Kabupaten Dompu.

Pada periode kedua ini sebagai konsekwensi situasi nasional yang semakin membaik, banyak hal yg dibangun. Daerah-daerah yang terisolasi mulai dibuka. Transportasi mulai lancar. Kegiatan dan hasil pertanian sudah mulai membaik, Penataan kota mulai dibangun secara bertahap.

Dan tentu saja yang fenomenal adalah adanya perubahan peradaban yang mendasar terkait sarana prasarana birokrasi di Kabupaten Dompu, dimana Pusat pemerintahan kantor bupati dan pendopo Bupati disatukan dalam dalam satu komplek serta memiliki alun alun yang sampai sekarang dikenal dengan nama Pendopo Bupati dengan lapangannya yang diberi nama Lapangan Beringin.


Masa bakti Bupati dan karirnya di militer berakhir pada tahun yang sama yakni tahun 1979. Dengan pangkat militer terakhir Letnan Kolonel..

Setelah tidak menjadi Bupati, beliau hijrah ke Kota Mataram, dan masih terus berkarya di jalur politik dan legislatif dan sempat dipercaya sebagai Ketua DPD Golkar Lombok Barat.

Pria kelahiran Desa Maguan, Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang Jawa Timur itu wafat dalam usia 72 tahun yaitu pada tanggal 6 agustus1996 di Mataram. Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Majeluk Mataram. 
(* Penulis adalah Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dompu dan putra dari Alm. Letkol Suwarno Atmojo).