Kembalikan Kondisi Hutan, Pemkab Dompu Harus Libatkan Pihak Kampus

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

.

Kembalikan Kondisi Hutan, Pemkab Dompu Harus Libatkan Pihak Kampus

Koran lensa pos
Minggu, 20 Februari 2022

 

       Kaimuddin, S. Kom., M. Si


Dompu, koranlensapos.com - Kerusakan hutan di Kabupaten Dompu yang semakin parah saat ini menimbulkan keprihatinan berbagai kalangan.

Kaimudin, S. Kom.  M. Si salah satunya. Pria asal Dompu yang telah puluhan tahun berdomisili di Kabupaten Bogor Jawa Barat ini mengaku sangat prihatin dengan kerusakan hutan yang begitu masif di tanah kelahirannya di Kabupaten Dompu. Semakin bertambah tahun bukannya hutan semakin lebat, namun semakin menyusut akibat perambahan secara ilegal demi kepentingan sesaat tanpa peduli dengan keberlanjutan kehidupan generasi yang akan datang.

"Kalau tidak segera dilakukan upaya rehabilitasi, maka berbagai macam bencana alam yang akan mengancam  tidak bisa dihindari lagi. Banjir yang terjadi selama ini cukup sebagai pelajaran," ujarnya.

Keprihatinan Kaimuddin didasari fakta yang tampak di hadapannya. Saat menyambangi sanak famili dan kampung halamannya di Dompu, ia menyaksikan secara langsung kawasan-kawasan pegunungan yang sudah menjadi areal penanaman jagung hingga ke puncaknya. Daerah-daerah kemiringan yang dilihatnya beberapa tahun lalu masih utuh dengan hutannya yang lebat, kini telah berganti dengan tanaman jagung. 

Kaimudin kemudian menyoroti program penghijauan yang dilakukan di Kabupaten Dompu selama bertahun-tahun ini tidak terlihat secara nyata hasilnya. Realitanya pepohonan yang telah ditanam kembali mati karena tidak ada perawatan berkelanjutan.
Padahal program-program penghijauan itu telah menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit.

"Sayang anggaran bermilyar-milyar telah dikeluarkan apabila tidak ada hasilnya," kata Kaimuddin.

Selanjutnya pria asal Jati Mengi Desa Soriutu Kecamatan Manggelewa Kabupaten Dompu yang telah 12 tahun menjadi Dosen di STIT Sirojul Falah Bogor ini mengusulkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu agar dalam program reboisasi hutan hendaknya melibatkan pihak kampus. Peran perguruan tinggi menurutnya sangat strategis untuk mendukung dan membantu pemerintah di dalam mengembalikan fungsi hutan. Mahasiswa harus dilibatkan dalam mendampingi program reboisasi hutan secara berkelanjutan hingga beberapa tahun agar terawat sampai tumbuh besar dan bisa bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat. 

"Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya adalah Pengabdian Masyarakat. Mahasiswa diajak kerja sama mendampingi program tersebut sebagai bentuk pengabdian. Bila perlu kalau ilmu mereka (mahasiswa) kurang, maka diberi pelatihan dulu oleh dinas tekhnis terkait misalnya Dinas Pertanian dan Perkebunan sehingga mahasiswa bisa mengedukasi masyarakat agar tidak lagi merusak hutan tetapi bisa memanfaatkan lahan secara intensif," usulnya.

Menurutnya para mahasiswa telah ditempa untuk memiliki sikap empati dan kepekaan sosial. Karena itu upaya pelibatan mahasiswa dalam program rehabilitasi hutan di Kabupaten Dompu sangat tepat agar hutan lestari dan masyarakat bisa hidup sejahtera. Dikatakannya pelibatan mahasiswa adalah sebagai tenaga pendamping untuk mengedukasi petani agar bersama merawat pohon yang telah ditanam agar tumbuh besar dan bisa dinikmati hasilnya oleh masyarakat yang diberi izin mengelola kawasan tersebut.

"Pohon yang ditanam itu adalah tanaman yang bisa menghasilkan buah seperti durian, mangga, rambutan, nangka, maupun kemiri sehingga hasilnya bisa membawa kesejahteraan masyarakat," jelasnya.

Dalam hal pelibatan mahasiswa ini, menurutnya harus ada Memorandum of Understanding (MoU) pemerintah dengan pihak kampus dalam program ini agar bisa menghasilkan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang baik.
Di sisi lain Pemerintah Daerah juga perlu memberikan kontribusi bagi mahasiswa dan perguruan tinggi Kontribusi terhadap mahasiswa dalam bentuk bea siswa prestasi. Sedangkan kontribusi bagi perguruan tinggi bisa dalam bentuk bea siswa S3 bagi para dosen agar bisa lebih maju dan berkualitas yang pada muaranya akan meningkatkan IPM bagi daerah.
"Di kampus saya di Bogor seperti itu. Saya pikir bagus juga dilaksanakan di Dompu walaupun setiap tahunnnya hanya beberapa orang disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah," ujarnya.

Selain pelibatan mahasiswa dari perguruan tinggi setempat, menurut Kaimuddin juga bisa dengan melibatkan mahasiswa asal Dompu yang kuliah di luar daerah yang melaksanakan KKN. Apalagi dengan adanya program Kampus Merdeka yang sedang digaungkan saat ini memberikan keleluasaan bagi mahasiswa untuk Merdeka Belajar guna mengasah dan mempertajam ilmu pengetahuan yang diperoleh di kampus dengan terjun langsung ke tengah masyarakat. Selain memberikan edukasi dan penyuluhan, mahasiswa juga dapat menimba berbagai pengalaman langsung dari masyarakat.

Bukan hanya itu, lanjut Kaimudin, pemerintah daerah juga dapat menggandeng perguruan tinggi untuk melakukan penelitian-penelitian terkait dengan persoalan kerusakan hutan yang terjadi guna mengetahui akar permasalahan sekaligus menemukan solusi mengatasi permasalahan tersebut. Dikatakannya para akademisi diakui legitimasinya dalam melakukan penelitian.

"Penelitian ini bukan hanya masalah hutan tetapi semua persoalan-persoalan kekinian yang terjadi sehingga hasil penelitian para akademisi ini dapat dijadikan acuan bagi pemerintah di dalam menentukan kebijakan-kebijakan," jelasnya. 

Kembali kepada upaya pengembalian fungsi hutan, Kaimuddin juga menyarankan agar masyarakat dilibatkan dan diberi tanggung jawab di dalam merawat pepohonan yang telah ditanam dan manfaatnya akan kembali kepada masyarakat itu sendiri.
(emo).