Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pekka, Tulang Punggung Ekonomi Keluarga

Rabu, 22 September 2021 | 4:19 AM WIB Last Updated 2021-09-21T20:19:32Z

 

      Kegiatan pertemuan Pekka


Dompu, koranlensapost.com - Perempuan Kepala Keluarga ? Ya. Begitulah adanya. Para perempuan ini menjadi single parents (orang tua tunggal) bagi keluarganya. 

Ketua Serikat Pekka (Perempuan Kepala Keluarga) Kabupaten Dompu, Marlia menyebutkan lembaga ini berdiri di Dompu sejak 3 tahun lalu. Anggotanya terdiri dari perempuan yang telah bercerai dengan suaminya, perempuan yang suaminya telah meningggal dunia, anak perempuan (gadis) penanggung jawab ekonomi keluarga, perempuan korban poligami, perempuan yang suaminya sakit menahun, bahkan perempuan yang suaminya pergi jauh dan tidak pernah kembali. 


"Kumpulan perempuan anggota Pekka ini sudah ada 300 orang yang berada di dua Kecamatan di 5 desa dampingan," sebut Marlia saat mengikuti Rapat Koordinasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Gedung PKK Dompu beberapa hari lalu.

Ia menyebut anggota Pekka berada di Kecanatan Woja yakni Desa Saneo (4 kelompok), Bakajaya (4 kelompok), Nowa (2 kelompok), dan Kelurahan Simpasai (2 kelompok). Sedangkan di Kecamatan Dompu baru ada di Desa Mangge Asi (1 kelompok).


"Kami mulai merintis program-program pengembangan bidang usaha produktif, dan peningkatan kapasitas," ungkap wanita asal Saneo penulis novel "Gadis di Ujung Maut" itu 


Ia mengemukakan untuk menghidupkan sektor ekonomi, maka dibentuklah tabungan simpan pinjam. Para anggota kelompok menabung sedikit demi sedikit sesuai kemampuan. Setelah itu dipinjamkan kepada anggota yang membutuhkan untuk modal usaha.


"Ada yang menabung 10 ribu, ada yang mampunya 5 ribu. Setelah itu ada anggota yang membutuhkan diberikan pinjaman," ujarnya.


Dikatakannya tabungan simpan pinjam itu baru ada di Desa Saneo dan di Desa Bakajaya dan telah mencapai ratusan juta.
"Alhamdulillah tabungan anggota sudah ada sekitar 300 juta. Bahkan di Bakajaya ada Kelompok Pekka Mart yang menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi anggota misalnya beras dan lain-lain sehingga tidak lagi membeli di luar," ucapnya.


Dikatakannya tabungan simpan pinjam ini digalakkan agar wanita Pekka tidak terjerat dalam gerakan ekonomi kapitalis semacam rentenir. 


Pekka juga peka dengan persoalan sosial dan pembangunan. Para anggota dilatih untuk bisa berbicara di depan umum menyampaikan gagasan-gagasan demi memperjuangkan nasib kaum wanita yang masih kerap dimarjinalkan. Demikian pula ide-ide untuk pembangunan dan kemajuan desa maupun daerah. Ia meminta para anggota Pekka di mana pun berada agar bisa hadir menyuarakan aspirasi pada saat rapat pembahasan program pembangunan di tingkat desa (RKPDes, Musrenbangdes) agar pemerintah desa dapat mengakomodir persoalan-persoalan perempuan dalam program-program pemberdayaan dan program pembangunan.




Lebih lanjut Marlia juga menyoroti fakta kerusakan hutan yang begitu masif di Kabupaten Dompu ini akibat ulah manusia yang hanya mementingkan keuntungan pribadi dan bersifat sementara. Ia mengatakan hutan telah menyediakan potensi sumber daya yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat sekitarnya. Ia contohkan di wilayah Saneo tempat ia tinggal. Dulu sebelum terjadi kerusakan hutan di wilayah tersebut air melimpah-limpah karena kondisi mata air di hutan masih utuh. Namun kini akibat aksi pengrusakan hutan yang demikian parah dari tahun ke tahun mengakibatkan warga di desa tersebut mengalami krisis air. Kaum wanita kena imbasnya. Harus mencari air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga setiap saat.


Di desa tersebut dulu sangat terkenal sebagai penghasil kemiri. Kaum wanita tinggal memungut biji kemiri yang berjatuhan di bawah rerimbunan tanaman kemiri untuk dijual menopang ekonomi keluarga.
Kini kemiri tinggal cerita di wilayah hutan Saneo karena telah dibabat habis oleh masyarakat sendiri yang tergiur dengan jagung. Demikian pula tanaman rempah-rempah sangat banyak di hutan, akan tetapi dengan adanya kerusakan hutan maka semua itu ikut punah pula. Karena itu Marlia meminta kepada pemerintah dan aparat terkait agar bersikap tegas dalam menjaga wilayah hutan dari kerusakan yang lebih besar lagi. Karena kelestarian hutan menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat. Kerusakan hutan pasti membawa banyak dampak kerusakan dan bencana. Yang paling penting lagi, kata Marlia adalah kesadaran masing-masing anggota masyarakat agar menahan diri tidak memperluas lagi areal penanaman jagung di kawasan hutan demi kesejahteraan bersama dan demi anak cucu di masa-masa mendatang.

"Semoga ada kesadaran melindungi hutan agar terjaga dan lestari. Sehingga sumber daya hutan bisa dimanfaatkan," pintanya. (emo). 



×
Berita Terbaru Update