Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Idul Qurban di Kesultanan Dompu Tahun 1947

Minggu, 25 Juli 2021 | 7:37 AM WIB Last Updated 2021-07-25T03:46:40Z
         Foto: Sultan Dompu terakhir. M. Tajul Arifin / MTA                   Sirajuddin.



Tanggal 12 September 1947 adalah pelantikan Sultan Muhammad Tajul Arifin (MTA) Sirajudin. Satu setengah bulan kemudian umat Islam merayakan Aruraja Na'e (Idul Qurban). Di Dompu Aruraja Na'e yang jatuh pada hari sabtu 25 Oktober 1947 dirayakan secara meriah.

Sehari sebelum Sholat Idul Qurban, dilakukan Upacara Penyambutan Hari Raya Idul Qurban. Upacara itu dihadiri oleh Sultan, Anggota Hadat, Anggota Hukum, Anggota Raad Dompu, Anangguru, Sarian dan Rakyat. Acara diisi dengan mpaa sila ro gantao (pencak silat dan kuntau), buja kadanda (seni ketangkasan bela diri menggunakan tombak, parise, dan sejenisnya. Juga dibunyikan tambo (tambur), genda (gendang), dan suli (seruling).

Jam 4 sore rombongan pasukan berkuda berangkat dari rumah Anangguru Kilo diikuti oleh pasukan Suba yang membawa tambur kerajaan. Sesampainya di muka istana mereka mempertunjukan ragamnya masing-masing. Lalu ketika sampai di hadapan sultan, mereka melakukan MAKKA.

Rombongan Pasukan Suba tiba dikepalai oleh RATO RENDA (Menteri Hankam) kemudian mengelilingi lapangan (sera) di depan istana. Paling depan ada pembawa tambur. Paling belakang ada Anangguru Sere yang melakukan pertunjukan Mpa'a Sere. Selesai melakukan sere, maka genda dan suli berhenti berbunyi. Kemudian pasukan betkuda pergi menyambut 2 tambur kerajaan di rumah Rato Bumi Jara dan Anangguru Mangaji di kampung Kari jawa.

Lalu datanglah pasukan itu membawa 2 tambur yang dilengkapi oleh anangguru masuk ke pekarangan istana. Anangguru melakukan permainan sere dan dibunyikan gendang dan suli untuk menyambut.

Kemudian Rato Renda, Rato Ngoco, dan rato-rato lain pegawai hadat, anangguru-anangguru melakukan MAKKA di hadapan Sultan Dompu. Maka masuklah Gelarang dan Kepala Kampung dari Kejenelian Dompu dan kempo dengan membawa alat alat Perjamuan menurut adat Dana Dompu yang disebut AMPA GALARA.

Setelah lengkap semua Gelarang, maka tuan Rato Dea (Menteri Dalam Negeri) memberi perintah kepada Gelara Katua untuk berpidato yang mengharapkan bahagia mulia selamat Tuan Sultan Dompu. Kemudian dibaca doa oleh tuan Imam Kerajaan Dompu. Kemudian RATO DEA menyampaikan titah Sri Sultan agar besok melaksanakan solat hari raya di Lapangan Kari Jawa. Acara ditutup dengan pidato dari Sri Sultan Dompu dan berakhir pada pukul 6 sore.

Pada tanggal 25 Oktober 1947 atau 10 Dzulhijjah dilaksanakan upacara sebelum Sholat Hari Raya. Jam 7 pagi rombongan pasukan kuda bertolak dari rumah Anangguru Kilo ke istana dengan diiringi oleh barisan tambur dan suba. Di muka gerbang istana telah siap rombongan hadat dan hukum, gelarang dan kepala kampung untuk menyambut.

Setelah sampai di halaman istana lalu dilakukan permainan sere dan pasukan kuda pergi menjemput 2 tambur kerajaan si rumah Rato Bumi Jara dan Anangguru Mangaji di Kari jawa seperti kemarin itu.

Setelah kembali ke istana dan lengkap mustahik semua, maka Ruma Hawo Sultan Tajul Arifin Sirajuddin berangkat ke lapangan Kari Jawa dengan didahului oleh barisan kuda, barisan suba, barisan tambur kerajaan, dan para anangguru kerajaan serta diiringi oleh pejabat hadat dan hukum kerajaan Dompu. Jalan dipenuhi oleh umat yang berangkat ke lapangan kari jawa.

Kemudian dilaksanakan sholat hari raya kurban. Dan sultan pun kembali ke istana diiringi oleh pasukan, pejabat dan rakyat seperti semula.

Setelah sampai di istana, maka semua pejabat hadat dan hukum juga para gelarang dan kepala kampung berkumpul di istana. Lalu Gelarang Katua, Gelarang Daha, dan Gelarang Hu'u berpidato dalam bahasa daerah yang disebut KANDEE (Bahasa yang berisi kata-kata himbauan, harapan serta peringatan). Kemudian dibacakan doa oleh Tuan imam kerajaan. 

Sejurus lamanya mereka dilayani dengan jamuan makan minum. Lalu diakhiri dengan menurunkan sedekah kepada rakyat lalu kemudian semuanya bubar. Pada sore harinya juga dilakukan upacara seperti sore yang kemarin dulu. Namun pada kesempatan itu ditutup dengan pidato dan pengarahan dari Sri Paduka Sultan Dompu Tajul Arifin Sirajuddin. (Penulis Satyawadi E. Ozananta, Sumber: buku Riwayat Kesultanan Dompu Setelah Tahun 1934. Halaman 154-161)


×
Berita Terbaru Update