Buku "Dou Dompoe Legenda & Sejarah" yang ditulis Adiansyah Dompu
Koranlensapos.com - Dompu adalah sebuah kerajaan tua di Indonesia. Cerita-cerita tutur masyarakat setempat secara turun temurun menjadi bukti tentang peradaban Dou (orang/masyarakat) Dompu di masa lampau. Bukti-bukti warisan (peninggalan) sejarah masa lampau yang ditemukan di sejumlah tempat di wilayah Kabupaten Dompu juga menguatkan tentang itu.
Adiansyah Dompu dalam bukunya berjudul "Dou Dompoe, Legenda & Sejarah mengungkap sejumlah hasil penelitian para arkeolog tentang peradaban dan kehidupan Dou Dompu di masa lampau. Berbicara Dou Dompu tidak hanya membahas etnis, melainkan juga bahasa dan budaya masyarakat yang mendiami Pulau Sumbawa bagian tengah itu.
"Berdasarkan bukti temuan arkeologis yang ada, ternyata
pulau Sumbawa telah dihuni oleh manusia sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lampau. Bukti-bukti berupa penemuan bercirikan zaman Megalitik menunjukkan bahwa di wilayah Dompu telah berkembang masyarakat prasejarah dimana bukti arkeologis peninggalan peradaban kuno tersebut masi bisa dibuktikan sampai saat ini," ungkap tokoh pegiat sejarah dan budaya Dompu yang berdomisili di kota gudeg Yogyakarta ini.
Di Situs Nangasia yang ada di Kecamatan Hu'u misalnya, telah beberapa kali dilakukan penelitian oleh tim dari Balai Arkeologi Denpasar secara bergelombang dari tahun 2003, 2004 sampai 2005. Hasil penelitian para arkeolog itu memberikan gambaran tentang sejarah kuno peradaban Dompu mengenai cara masyarakat zaman dulu hidup dan bermukim.
"Situs pemukiman di dekat pantai ini merupakan salah satu situs gerabah yang luas di Nusa Tenggara Barat dan diperkirakan termasuk situs tertua yang diduga berasal dari masa neolitik, sekitar 2500 SM," ungkapnya.
Masih di Kecamatan Hu'u tepatnya di So Langgodu Doromanto ditemukan pula benda-benda purbakala tinggalan cara dan tradisi megalitikum.
"Pada saat itu masyarakat masih memegang dengan kuat kepercayaan terhadap arwah leluhur dan gunung suci sehingga tidak mengherankan jika nenek moyang Dou Dompo mempersiapkan berbagai sarana pemujaan dan penghormatan berupa menhir, kubur tempayan batu, kubur duduk, susuan batu kandang dan sebagarnya," ulasnya mengutip tulisan Ayu Kusumawati dan Haris Sukendar.
Di Situs Doro Mpana yang berada di Kelurahan Kandai Satu juga banyak ditemukan peninggalan Dompu masa lampau. Situs ini pertama kali dieksavasi pada tahun 2018 berdasarkan laporan dari Lurah Kandai Satu saat itu, Dedy Arsyk. Dedy melaporkan tentang adanya temuan benda-benda yang diduga sebagai tinggalan arkeologi yaitu berupa fragmen gerabah, keramik, fragmen logam, rangka manusia, dan batu dimpa. Di bukit Dorompana, ditemukan banyak peninggalan berupa situs purbakala dalam berbagai bentuk aktivitas. Aktivitas penguburan misalnya, ditemukan Rade Mbolo (Kuburan Bulat) dan juga Batu Dimpa (Baru Timpa).
"Fragmen keramik asing membuktikan adanya hubungan dengan dunia luar. Keramik Dinasti Song dari Tiongkok abag X-XIII M ditemukan di dalam kotak eksavasi. Fragmer keramik asing lainnya berasal dari Tiongkok Dinasti Ming (XV-XVI M), dan Dinasti Qing (Abad XVII-XIX M). Selain itu ditemukan pula keramik Thailand dan Vietnam," ungkapnya mengutip tulisan hasil penelitian arkeolog Ni Putu Juliawati dari Balar Denpasar.
Situs Dorobata lebih menguatkan lagi. Situs kuno di Kandai Satu ini terletak di sebuah bukit berbentuk teras berundak sebanyak 7 tingkat. Struktur ini menunjukkan di masa lalu pernah dipergunakan sebagai tempat pemujaan terhadap roh leluhur, kekuatan alam dan para dewa di masa Ncuhi yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu-Buddha.
Doro Bata merupakan situs yang memiliki nilai penting, bagi sejarah kebudayaan masyarakat Dompu, yang masih dapat disaksikan jejak jejaknya hingga saat ini. Situs yang diduga dibangun ketika Dompu mendapatkan pengaruh kebudayaan Majapahit pada abad ke-14. Lokasi ini diduga ditinggalkan pada abad ke-19 ketika meletusnya gunung Tambora (Rema, LN. Juliawati N.P.E,, dan Prihatmoko: 2018).
Situs ini pernah menjadi lokasi dimana istana Kesultana Dompu pernah berdiri kokoh di sekitar tahun 1545 yang dibuktikan dengan adanya struktur-struktur lain di sekitarnya.
Situs ini menunjukkan bahwa pernah ada istana yang berdiri
di kompleks ini. Contohnya keberadaan pemakaman dan terdapatnya makam ulama besar di pemakaman tersebut yang biasanya dalam tradisi Kesultanan, seorang Ulama besar selalu dimakamkan di sekitar Masjid istana.
Hal ini menunjukkan bahwa lokasi tersebut memang pernah berdiri Istana Kesultanan Dompoe sebelum Istananya dipindahkan ke lokasi di mana telah berdiri Masjid Raya Dompu saat ini. Lokasi ini ditinggalkan setelah terjadi kerusakan parah pada struktur bangunan pasca meletusnya Gunung Tambora tahun 1815.
Pemilihan tempat yang tinggi untuk menjadi lokasi berdirinya sebuah komplek istana menjadi pertimbangan utama karena bisa dengan mudah memantau dan menghadapi serangan musuh lebih cepat, baik dari darat maupun laut.
Pemilihan lokasi pemukiman yang dekat dengan sumber mata air dan sungai dalam pendirian Situs Doro Bata nampaknya juga dilandasi oleh adanya kepercayaan kepada arwah leluhur dan kekuatan alam ( Nyoman Rema, 2019 ).
Ada lagi Situs Wadu Nocu di Saneo, Situs Lesung Batu Puma fmdi bukit Rumu (Kecamatan Hu'u), Situs Kuburan Ta'a dan di lokasi-lokasi yang lain.
"Dari uraian tentang peradaban Dou Dompoe tersebut di atas, kita bisa simpulkan bahwa peradaban Dou Dompu sudah ada sejak abad 2500 SM bahkan sejak zaman prasejarah. Sementara eksistensi Kerajaan DOMPO bisa dilacak pada abad ke-14 sampai abad ke-7 M dimana Dompu sudah membangun peradaban manusia modern dan sudah eksis sebagai sebuah Negeri yang besar di Nusantara bagian Timur sehingga harus ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit," tulis Adiansyah Dompu dalam buku tersebut di atas.
Ia menegaskan eksistensi Dou Dompu di masa lampau memberikan bukti yang kuat bahwa Dompu memiliki identitas berupa etnis (suku), bahasa dan budaya sendiri. (emo).

Komentar