Ternak Liar Jadi 'Preman', Muhtar: Dompu Lemah dalam Mengamankan Perda -->

Kategori Berita

.

Ternak Liar Jadi 'Preman', Muhtar: Dompu Lemah dalam Mengamankan Perda

Koran lensa pos
Selasa, 21 April 2026

 

Potret ternak liar di Dompu


Dompu, koranlensapos.com -  Pelepasan liar hewan-hewan ternak khususnya sapi di Kabupaten Dompu dinilai sangat mengganggu kenyamanan kehidupan sosial kemasyarakatan. 

Tokoh masyarakat Desa Adu Kecamatan Hu'u, Muhtar M. Saleh menyebut ternak liar di Kabupaten Dompu bagaikan 'preman' di areal pertanian. Hewan piaraan yang dilepasliarkan itu 'merampok' dan 'merampas' tanaman-tanaman di kawasan pertanian. 

Muhtar menyoroti pelepasan ternak di daerah bukan lokasi yang diizinkan akan sangat merugikan bagi keberlangsungan pengembangan pertanian dan tanaman pangan. Di saat masih banyak petani yang belum panen, pemilik hewan dengan semena-mena melepaskan ternak di lokasi berdekatan. Bukan hanya tanaman jagung yang mengalami kerusakan, pepohonan pisang, pepaya, singkong, dan berbagai jenis hortikultura yang ditanam petani untuk keberlangsungan hidup pun amblas disikat ternak liar, terutama sapi.

Mantan Kepala Desa Adu ini juga mengungkapkan, ternak liar juga ibarat 'preman' jalanan. Kecelakaan lalu lintas akibat ternak liar sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Akibat yang ditimbulkan mulai dari yang ringan hingga berat bahkan korban meninggal dunia.

"Keberadaan ternak liar sudah seperti preman," ungkapnya.

Muhtar menyebut Pemda Dompu lemah dalam melaksanakan Perda Ternak. Sudah ada Peraturan Daerah (Perda) yang melarang pelepasan ternak secara liar, namun terus terjadi hingga kini. Gonta-ganti kepemimpinan, tetapi soal ternak liar masih berlangsung tanpa perubahan.

"Dompu lemah dalam mengamankan Perda Ternak," kritiknya. 

Muhtar kemudian mendesak Pemda Dompu di bawah kepemimpinan BBF-DJ untuk benar-benar serius mengatasi persoalan ternak liar yang sangat merugikan ini.

"Kami mohon bapak Bupati Bapak Bambang Firdaus agar bisa mengatasi soal ternak liar ini," desaknya.

Keberadaan ternak liar memang terus menjadi masalah di berbagai lokasi di Kabupaten Dompu. Suara bising memekakkan telinga dari kalung besi atau kayu di leher hewan-hewan tersebut saja dirasakan sangat merusak ketenangan bagi warga yang hendak beristirahat di siang maupun malam hari. 

Belum lagi soal kerusakan tanaman yang ditimbulkan di areal-areal pertanian maupun di pekarangan rumah warga. Tanaman yang diharapkan dapat dinikmati hasilnya, akhirnya berbuah kekecewaan akibat disikat ternak liar.

"Padi saya di sawah 3 hektare, karena dimakan ternak hanya berhasil dipanen 3 karung," ungkap Khairul Rizal, seorang PPL di BPP Woja.


Bukan itu saja, bunga-bunga indah aneka jenis dan warna pun disantap oleh ternak liar. Padahal lokasinya dikelilingi tembok dan pagar yang kuat. Itupun sapi dan kambing bisa memasukinya. Seperti pengakuan H. Abdul Muis, pemilik Kitty House di Selaparang Desa Matua.

"Nggara bunga saya waura lelo, be si saronto wali ma na'e wati kone loa maru (bunga-bunga saya sudah hancur. Belum lagi suara kalung besarnya yang membuat tidak bisa tidur," aku wartawan senior itu. 

Tidak jarang juga dijumpai curhatan dari warganet di medsos, terutama kaum wanita karena beras yang disimpan dimakan kambing. Ada juga yang mengeluhkan padi atau jagung bahkan krupuk yang dijemur jadi santapan sapi liar. 

Di desa-desa, kasus petani melaporkan pemilik ternak akibat tanaman padi atau jagungnya dirusak ternak berkeliaran juga sering terjadi. Bahkan ada.juga kejadian ternak liar mati akibat terkena setruman listrik yang dipasang petani di lahan jagung miliknya. Maksud petani untuk menjerat babi hutan, namun ternak liar yang masuk dalam perangkap mematikan itu. Kalau sudah begini, siapa yang disalahkan?  (emo).