Harga Gabah Turun, Tapi Beras Naik ? Ini Penjelasan dan Imbauan Kadistanbun Dompu

Kategori Berita

.

Harga Gabah Turun, Tapi Beras Naik ? Ini Penjelasan dan Imbauan Kadistanbun Dompu

Koran lensa pos
Selasa, 19 Maret 2024
               Padi di sawah

Dompu, koranlensapos.com - Para petani mengeluhkan harga penjualan gabah yang cenderung menurun. Informasi yang dihimpun media ini langsung dari petani, pada bulan lalu harga gabah kering panen mencapai Rp. 700.000 per kuintal. Namun setelah itu terjadi penurunan hampir setiap hari hingga kini berkisar antara Rp. 580.000 - 590.000 per kuintal.

Di tengah kondisi anjloknya harga gabah, masyarakat justru dihadapkan pada persoalan naiknya harga beras. Berdasarkan sumber data dari Petugas Informasi Pasar (PIP) Distanbun Dompu tertanggal 15 Maret 2024, harga beras medium di tingkat pengecer Rp. 15.000/kg. Sedangkan beras premium Rp. 16.000/kg.

Sejumlah kalangan menyebut harga beras mestinya berbanding lurus dengan fluktuasi harga gabah. Bila harga gabah turun, maka harga beras pun akan ikut turun. Tetapi faktanya tidak demikian. Harga gabah turun, namun harga beras masih tinggi. 
Mengapa demikian?

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Muhammad Syahroni yang dikonfirmasi media ini mengungkapkan secara panjang lebar mengenai hal tersebut dari berbagai sudut pandang.

Dikemukakan Syahroni, sebenarnya produksi padi di Kabupaten Dompu mengalami surplus. Namun ada sejumlah 
fenomena teknis dan kebiasaan petani yang kadang memengaruhi harga gabah sekaligus harga beras ini.

Kadis menyebut akhir-akhir ini ada pergeseran kebiasaan masyarakat (petani). Jika beberapa tahun lalu, petani-petani saat musim panen, rata-rata menyimpan stok gabah untuk cadangan pangan selama setahun. Namun kini kebiasaan itu sudah mengalami pergeseran. Petani tidak lagi menyimpan stok gabah, tetapi usai pemanenan langsung menjual. 

"Sekarang rata-rata petani kita tidak memiliki stok gabah seoerti dulu tetapi langsung jual gabah karena kebutuhan biaya sekolah anak dan kebutuhan lain," ungkapnya.

Kedua, lanjutnya rata-rata gabah  dijual ke pengusaha di kabupaten Sumbawa karena dinilai harga pembelian lebih tinggi.

"Akibatnya banyak beras kita diimpor kembali dari Sumbawa, sehingga harga beras juga akan lebih tinggi," sebutnya.

Dikatakannya kebiasaan petani menjual gabah ke pengusaha di luar daerah ini berimbas pula pada 'kematian' penggilingan-penggilingan kecil yang ada di kampung-kampung. Penggilingan-penggilingan kecil di kampung yang biasa melayani masyarakat yang datang membawa gabahnya untuk digiling terpaksa ditutup. Pasalnya para petani kini tidak lagi menstok gabah. Mereka langsung membeli beras kemasan yang dijual di toko.

"Penggilingan-penggilingan kecil sudah banyak yang mati suri karena petani cenderung menjual gabah ke pengusaha luar karena diiming-imingi harga jual yang tinggi. Sehingga hal ini mempengaruhi juga kesadaran petani untuk menyetok gabah sebagai cadangan pangan," jelas pejabat yang familiar disapa Dae Roni tersebut. 

Terkait fenomena di atas, Kadis menyampaikan beberapa imbauan kepada petani.

Pertama, para petani diharapkan menanam varietas yang memiliki produktivitas tinggi dan diminati pasar. Karena ada bbrapa varietas yang beredar  saat ini yang "tidak disukai" pembeli seperti Inpari 42 karena alasan rendemennya rendah. Jadi posisi tawar petani kurang, berapapun penawaran pasar cenderung akan cepat dijual karena kebutuhan biaya, termasuk biaya panen. 

Kedua, usahakan petani menjual hasil dalam bentuk beras, bukan gabah. Karena selisih harga gabah dan beras saat ini sangatlah tinggi, jadi keuntungan itu banyak diperoleh oleh pelaku usaha. Kalaupun terpaksa, agar menjual gabah sesuai kebutuhan saja dan sebagian masih disimpan untuk cadangan kebutuhan pangan.

Ketiga, pemanenan padi sebaiknya pada kondisi cuaca yang ideal agar kualitas gabah tetap terjaga dalam keadaan baik, sehingga gabah tidak mudah ditawar-tawar harganya karena alasan kualitas. 

Keempat, kalau bisa dan memungkinkan dan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) masih aktif, manfaatkan Gapoktan dalam hal penjualan secara bersama atau Gapoktan yang membeli gabah dengan harga yang layak. Gapoktan langsung bertindak sebagai "pengusaha beras" dan memiliki unit usaha penggilingan padi. 

Kelima, petani wajib menyimpan sebagian gabahnya untuk stok pangan sampai waktu panen berikutnya, sehingga petani  tidak merasakan "mahalnya harga beras" ketika beras mengalami kenaikan.
Keenam, petani diharapkan menggunakan sistem penanaman jajar legowo dan pemupukan berimbang agar mendapatkan produktivitas yang lebih maksimal (7-8 ton per hektare). (emo).