BAGAIMANA MENULIS POPULER?

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

.

BAGAIMANA MENULIS POPULER?

Koran lensa pos
Jumat, 14 Oktober 2022

 

                    Ilyas Yasin*


Di beberapa pelatihan kepenulisan saya sering mendapatkan pertanyaan "sejuta umat": bagaimana proses kreatif menulis saya? 

Setiap orang tentu punya cara, gaya dan pengalaman berbeda-beda dalam menulis. Tetapi hemat saya tiap penulis memiliki banyak kesamaan. 

Berikut ini saya sampaikan beberapa trik, pandangan dan pengalaman saya. 

Pertama, setiap orang pada dasarnya bisa menulis. Menulis itu seperti berbicara; hanya berbeda caranya saja. Berbicara adalah menyampaikan gagasan secara lisan, sedangkan menulis menyampaikan gagasan secara tertulis atau melalui teks. 

Keterampilan menulis itu bisa dilatih dan tidak selalu dihubungkan dengan kodrat. 

Dalam kaitan ini ada dua hambatan menulis yakni hambatan teknis dan psikis. Hambatan pertama berkaitan dengan tatabahasa, penggunaan tanda baca dan seterusnya. 

Sedangkan hambatan psikologis menyangkut perasaan takut dan malu    jika tulisan dianggap jelek oleh orang lain. Hambatan kedua ini jauh lebih berat daripada yang pertama. 

Kedua, menulis itu harus jujur dan apa adanya. Artinya, tulislah apa yang ada dalam pikiran anda tanpa harus memikirkan penilaian orang lain. 

Sebaliknya melakukan sensor-diri sendiri adalah musibah terbesar bagi seorang penulis. Saya sering guyon, self-censorship itu bahkan lebih buruk dari kematian. Mengapa? 

Karena kebebasan adalah syarat mutlak bagi penulis. Tak masalah penulis kehilangan kebebasan secara fisik asal tidak direnggut kebebasan berpikirnya. Kebebasan adalah kemewahan bagi penulis. Intinya, bebaskan imajinasi anda dalam menulis! 

Tentu saja kebebasan dalam menyampaikan gagasan di sini harus dilakukan berdasarkan argumentasi, logis dan data bukan secara membabi buta apalagi memfitnah. 

Ketiga, harus rajin membaca baik teks/referensi maupun konteks/kenyataan, fenomena atau peristiwa yang ada. Dengan kata lain, seorang penulis harus mengaktifkan radar "kepo"-nya.

Tanpa itu maka tulisan biasanya akan dangkal, datar, kurang meyakinkan dan tentu saja tidak menarik orang untuk membacanya. Sering dikatakan, penulis yang baik sudah pasti pembaca yang baik. 

Menulis itu mirip seperti shoping di supermarket atau mall. Seberapa banyak barang yang dibeli sangat ditentukan oleh kekuatan  isi dompet anda. 

Saat anda hendak membeli sesuatu sedangkan uangnya tidak cukup jatuhnya ya membeli barang bajakan. Lebih buruk lagi, jika tak punya isi dompet maka anda sekadar nongkrong di mall dan pulang tanpa membawa apapun.

Kualitas tulisan sangat ditentukan oleh kualitas bacaan. 

Keempat, tidak ada resep, formula dan trik khusus  agar mampu menulis kecuali anda mengawalinya dengan merangkai huruf menjadi kata, kata jadi kalimat, kalimat jadi paragraf. 

Seperti disebutkan di atas, menulis itu soal latihan persis seperti orang belajar menyetir atau membawa motor. 

Pada awalnya jelas grogi dan ekstra hati-hati, tapi seiring latihan maka yang bersangkutan bisa membawa motor dengan satu tangan, bahkan tanpa memegang setir sama sekali. 

Banyak orang terkagum-kagum menyaksikan adegan dan olahraga ekstrem. Apa kuncinya? Latihan! Keterampilan menulis tidak ditentukan berapa kali pun seseorang mengikuti pelatihan kepenulisan bahkan mengajar materi kepenulisan tapi sangat bergantung pada latihan. 

Kelima, meski menulis itu memerlukan latihan dan ketekunan tapi tidak harus menuntut semuanya harus sempurna. Yakinlah bahwa tidak ada tulisan yang sempurna termasuk tulisan yang sedang anda baca ini. 

Tetapi itu tidak berarti bahwa anda harus menulis seadanya. Seorang penulis harus tetap punya tanggung jawab terhadap pembacanya. Jangan biarkan orang lain membuang waktu berharganya demi membaca tulisan "sampah".

Jangan menulis asal jadi atau asal ada. Menulis sebagai proses pemadatan ide-ide memang tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Menulis itu harus bagai orang susah tidur saat kasmaran. Anda harus benar-benar mencari posisi tidur yang nyaman hingga bisa pulas. 

Intinya, menulis itu membuat hormon kebahagiaan dan imun kita meningkat. Menulis itu menyehatkan jiwa dan raga. Jika kita sudah berhasil menyelesaikan satu tulisan, bikin lega. Persis bagai saat melepaskan kejombloan. 
(*Penulis : Dosen STKIP YAPIS Dompu).