YBC Desak Pordasi NTB Jangan Lagi Gunakan Joki Cilik di Arena Pacuan Kuda

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

.

YBC Desak Pordasi NTB Jangan Lagi Gunakan Joki Cilik di Arena Pacuan Kuda

Koran lensa pos
Kamis, 24 Maret 2022

 




Aksi-aksi ketangkasan para joki cilik di arena pacuan kuda 

Dompu, koranlensapos.com - Pacuan kuda merupakan olahraga tradisional yang sangat digemari masyarakat Dompu maupun Bima hingga kini. Setiap ada event pacuan kuda, masyarakat selalu antusias untuk menyaksikan secara langsung kuda-kuda yang melesat kencang laksana sambaran angin. Panas terik matahari atau hujan mengguyur tiada menyurutkan minat masyarakat untuk menonton secara langsung olahraga ketangkasan berkuda itu.

Olahraga balap kuda ini tidak terlepas dari keberadaan para joki. Kelincahan dan ketangkasan mereka menunggangi kuda-kuda tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para penonton. Apalagi di Dompu maupun Bima, para joki yang digunakan rata-rata masih berusia sangat belia. Umurnya rata-rata antara 5 sampai 10 atau maksimal 12 tahun. 

Terkait penggunaan anak-anak sebagai joki ini telah lama diperjuangkan oleh lembaga-lembaga pemerhati anak agar ditiadakan. Karena hal tersebut termasuk dalam kategori eksploitasi anak.
Direktur Yayasan Bina Cempi (YBC), Siti Aisyah Ekawati, S. Ag menolak dengan tegas pemanfaatan anak-anak untuk dijadikan joki cilik. Menurutnya hal itu bertentangan dengan Undang-Undang  Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
                 Direktur YBC, Siti Aisyah Ekawati, S. Ag

"Joki cilik itu termasuk eksploitasi anak, mempekerjakan anak. Anak itu belum waktunya untuk disuruh bekerja mencari nafkah apalagi yang berbahaya seperti itu. Usia anak adalah usia bermain," tegasnya.

Lebih lanjut Eka juga mengkritisi penggunaan joki cilik dengan alasan untuk melestarikan budaya. Dikatakannya pacuan kuda memang budaya yang telah berlangsung secara turum temurun di Bima dan Dompu. Tetapi menggunakan joki cilik bukan merupakan budaya. 

"Bahkan Ruma Mari (almarhumah Dr. Hj. Siti Maryam, tokoh sejarawan dan bangsawan Bima, putri Sultan Salahuddin Bima,red) menolak ketika dalam suatu festival ingin ditampilkan joki cilik. Beliau mengatakan itu bukan budaya kita," tandasnya.

Dikatakan Eka, meninggalnya joki cilik Muhammad Alfian (6), asal Desa Dadibou Kecamatan Woha Kabupaten Bima 4 (hari) pasca terjatuh saat latihan pacuan kuda di Desa Panda Kecamatan Belo Kabupaten Bima pada tanggal 9 Maret 2022 lalu semakin menambah catatan buram bagi olahraga ketangkasan berkuda itu. Sekitar 2 tahun sebelumnya anak kecil dari Bima juga bernama Salsabila telah menjadi korban karena terjatuh dari kuda. Anak-anak yang terjatuh dari kuda sudah tidak bisa dihitung lagi.

"Saya minta kepada Pordasi NTB agar tidak lagi menggunakan anak-anak sebagai joki kuda karena itu termasuk eksploitasi anak dan sangat membahayakan bagi keselamatan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Jangan mempertaruhkan nyawa anak-anak demi kesenangan para bigboss dan orang-orang dewasa," desaknya. 

Selain itu, ia meminta agar ada regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi NTB atau Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur tentang larangan penggunaan joki anak ini.

"Sehingga ke depan tidak ada lagi orang yang mengeksploitasi anak untuk dijadikan joki cilik dengan alasan apapun," ujarnya.

Di sisi lain mantan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Dompu ini menengarau bahwa arena pacuan kuda bukan lagi murni untuk olahraga tetapi kerap menjadi ajang perjudian. Mulai dari judi tingkat rendah hingga tingkat tinggi. Tingkatan ini disesuaikan dengan besar kecilnya taruhan. Mulai dari puluhan ribu hingga puluhan juta rupiah. Yang dijadikan ajang perjudian adalah kuda-kuda yang diadu di arena pacuan itu. Apabila kuda yang dipertaruhkan menang, maka dia yang akan memenangkan perjudian itu.

"Judi itu kan dilarang oleh agama. Hasil berjudi itu haram. Di situ banyak anak-anak dan menyaksikan langsung orang-orang tua yang taruhan judi itu. Ini kan mempertontonkan perbuatan tidak baik kepada anak-anak. Anak-anak itu suka meniru. Bagaimana anak-anak kita mau baik kalau orang tua memberi contoh yang tidak baik," kritiknya. (emo).