Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Asal Mula Qaro'a Pidu di Dompu

Selasa, 26 Oktober 2021 | 6:25 AM WIB Last Updated 2021-10-25T22:25:59Z

 

                Qaro'a Pidu


Dompu, koranlensapos.com - Keluarga Kesultanan Dompu masih menyimpan dengan baik satu Mushaf Al-Qur'an dengan tulisan tangan. Mushaf tersebut bernama Qaro'a Pidu. Dinamakan demikian karena memiliki 7 (tujuh) macam bacaan atau yang biasa dikenal dengan sebutan Qira'atus Sab'ah.

Bagaimana asal muasal Qaro'a Pidu tersebut dan siapakah penulisnya ?

Budayawati Ir. Nurhaidah mengisahkan hal tersebut.
Pada abad ke 16 Masehi, Syekh Nurdin, seorang mubalig dari Mekkah datang ke kerajaan Dompu dan mengislamkan anak raja Dewa Ma Wa-a Taho yang kemudian bernama Sultan Syamsuddin,  sultan pertama Dompu sekaligus menandai perubahan dari bentuk kerajaan menjadi kesultanan.
Syekh Nurdin juga bertemu dengan Ruma na-e (paman Dewa Ma Wa-a Taho). Beliau sebagai seorang yang tertua dan berkuasa di wilayah Dorompana. Namun beliau tidak menerima agama Islam, tetapi menyerahkan putrinya untuk diislamkan, diberi nama Siti Khadijah yang kemudian menikah dengan syekh Nurdin.  
Dari pasangan Syekh Nurdin dan Siti Hadijah, lahirlah putri Joharmani, Abdul Gani dan Abdul Salam. Hubungan kekerabatan yang sudah terjalin melalui ikatan perkawinan menjadikan Syekh Nurdin leluasa menyebarkan Islam di lingkungan Sampana Asi ro Kakara. 

Setelah mengajarkan Islam dalam beberapa waktu lamanya di Dompu, Syekh Nurdin kembali ke Mekkah. Adapun putrinya yang bernama Joharmani menikah dengan Sultan Syamsuddin.  
Sedangkan Abdul Gani dan Abdul Salam di usia balig, berangkat ke Mekkah untuk belajar ilmu agama pada guru Syekh Nurdin, sekaligus menemui ayah mereka Syekh Nurdin.  

Abdul Gani wafat saat menuntut ilmu,  sementara Abdul Salam setelah menyelesaikan pendidikan agamanya kembali ke Dompu dengan membawa sebuah Al Qur-an tulisan tangan pemberian gurunya.  Al-Qur-an tersebut ditulis pada tahun 1100 H,  dikenal oleh orang Dompu sebagai 'Qaro-a Pidu' (Qira ah Tujuh), dan masih tersimpan sampai saat ini sebagai Pusaka Warisan Kesultanan Dompu. 
Syekh Abdul Salam wafat di Dompu, dan nama beliau menjadi nama komplek pemakaman "Rade Sala(m)". (Tim).


×
Berita Terbaru Update