Manuru Kupa, dari Batu Kadera ke Dompu

Kategori Berita

.

Manuru Kupa, dari Batu Kadera ke Dompu

Koran lensa pos
Minggu, 30 Mei 2021

 




Pepatah lama mengatakan, bahwa BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA PARA PAHLAWANNYA.
Demikian pula dengan apa yang kini tengah dirintis oleh masyarakat (baca : pemerintah) kabupaten DOMPU-NTB menyangkut IDENTITAS Kabupaten Dompu sebagai suatu daerah yang eksis di wilayah NTB maupun Indonesia. 

Upaya untuk menggali kembali kisah kepahlawanan SULTAN DOMPU Muhammad Sirajuddin dalam melawan kolonialisme sudah saatnya diketahui secara luas oleh warga Dompu sendiri maupun bangsa ini. 

Ketika kesultanan menjadi lambang feodalisme, beliau sebaliknya menjadi pemimpin yang merakyat sehingga pada akhirnya harus diasingkan oleh penjajah, agar jauh dari tanah leluhurnya,  jauh dari simpati rakyat pada waktu itu. 

Sultan Dompu akhirnya dibuang ke Kupang oleh pemerintah kolonial.  Namun di sanapun beliau tetap mendapat simpati masyarakat, bahkan sampai dengan akhir hidupnya,  simpati itu tidak pernah pudar.
Sebagai penulis yang pernah tinggal di Dompu dan berasal dari tempat sultan dibuang,  merupakan KEBANGGAAN bisa memberikan sedikit cerita bagaimana RASA SIMPATI dan HORMAT kami dari Kupang terhadap almarhum SULTAN DOMPU ini. 

Saya tidak banyak mengetahui akan sejarah beliau,  namun semasa ketika masih di Kupang,  setiap menjelang bulan suci Ramadhan ataupun Idul Fitri,  kami sekeluarga selalu berkunjung ke tempat paman dan bibi di kawasan Fontein-Air Mata (Kupang)  karena keluarga kami majemuk,  maka setiap hari raya kami berkumpul untuk menziarahi makam paman di kawasan pekuburan Islam Batu Kadera (sekitar 1 km dari kampung Islam Air Mata). 
Di pekuburan Batu Kadera inilah dikuburkan jenazah SULTAN DOMPU.  saya mengetahui ini dari bibi kami,  kuburan sultan merupakan yang paling ramai diziarahi.  Sebagian besar masyarakat muslim Kupang,  bahkan menganggapnya sebagai tempat yang keramat dan membawa berkah. 

Begitu SEGAN,  HORMAT dan CINTANYA masyarakat Kupang terhadap beliau,  sehingga ketika kerangka beliau dipindahkan kembali ke Dompu,  merupakan kehilangan yang mendalam dari masyarakat Kupang pada umumnya,  secara khusus masyarakat muslim yang ada di kawasan Fontein,  Air Mata dan Batu Kadera. 

Ini sebuah pertanyaan reflektif,  kalau masyarakat KUPANG-NTT begitu mencintai beliau,  mengapa kita yang di Dompu tidak,  bahkan SUDAH SAATNYA KITA MENGANGKAT INI BAHWA SULTAN DOMPU BUKAN HANYA MILIK WARGA DOMPU,  TETAPI JUGA MILIK WARGA NTT BAHKAN MERUPAKAN MILIK NASIONAL.  

Pemimpin yang dicintai adalah pemimpin yang juga mencintai rakyatnya tanpa membedakan suku,  agama,  ras,  warna kulit.  Dan SULTAN DOMPU menunjukkan itu, di Batu Kadera dia dicintai, demikian kini pula di Dompu. 
Semoga Tuhan memberkahi sehingga beliau diketahui di negeri ini. 

Terimakasih
Mataram,  medio Desember 2002
Ttd. 
Pendeta Sonny Masse,  S. th. 

Sumber :
Bk.  PROSES PEMINDAHAN KERANGKA JENAZAH ALMARHUM SULTAN MUHAMMAD SIRAJUDDIN DARI KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR KE KABUPATEN DOMPU NTB-JANUARI 2002.