Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pancasila, Rangkul Keberagaman di Bumi Nusantara

Selasa, 03 Maret 2020 | 4:05 PM WIB Last Updated 2020-03-03T08:05:58Z

Dompu, Lensa Pos NTB - Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang dirumuskan oleh para pendiri negara (The Founding Fathers) benar-benar mampu mempersatukan berbagai perbedaan dan keanekaragaman yang ada di Bumi Nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Demikian pemaparan Komandan Kodim 1614/Dompu, Letkol Inf. Ali Cahyono, S. Kom yang diwakili oleh Pasiter, Kapten Inf. M. Syafi'i dalam acara Workshop Penguatan Ideologi Pancasila dan NKRI Harga Mati" yang digelar di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dompu beberapa hari lalu.

"Rumusan sila-sila dalam Pancasila oleh para pendahulu kita dulu dengan mempertimbangkan keberagaman yang ada di negeri ini. Pancasila merangkul semua perbedaan-perbedaan yang ada di Bumi Indonesia sehingga bisa hidup rukun, damai, dan kuat," jelasnya.
Dijelaskan oleh mantan Danramil 1614-01/Dompu ini bahwa perbedaan suku bangsa, agama, bahasa, budaya, adat istiadat, maupun warna kulit yang ada di negeri ini merupakan kekayaan Bangsa Indonesia yang tiada duanya di negara manapun di dunia ini.
Karena itu, kepada generasi bangsa harus senantiasa ditanamkan nilai-nilai luhur Pancasila agar tetap bisa hidup berdampingan dengan saling menghormati dan saling menghargai antara satu sama lain tanpa memandang perbedaan yang ada. 

"Kalau bukan Pancasila sudah berpisah-pisah kita ini karena semuanya berbeda. Pancasila merangkul semuanya dalam satu wadah yang kuat sehingga walaupun berbeda suku bangsa, agama, adat istiadat, bahasa, warna kulit dan sebagainya, Pancasila mempersatukan semuanya," paparnya.

Lebih lanjut ia menegaskan generasi muda harus diberikan pemahaman yang baik dan benar tentang Wawasan Kebangsaan agar memiliki rasa nasionalisme dalam hidup berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

"Wawasan Kebangsaan bagi kita sebagai warga negara bukan sekedar slogan saja. Harus kita pahami dan direalisasikan dalam kehidupan kita. Harus melekat dalam pola pikir, pola tindak dan perilaku kita sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari rasa senasib sebangsa harus tetap kita tumbuh kembangkan. Makna Wasbang itu menempatkan persatuan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan," jelasnya panjang lebar.

Syafi'i kemudian mengemukakan untuk penanaman Wawasan Kebangsaan kepada generasi muda, Kodim 1614/Dompu  dan Koramil-Koramil setiap hari Senin hadir untuk memberikan pembinaan di sekolah-sekolah.
"Rasa cinta tanah air dan bangsa hendaknya ditanamkan terus kepada generasi kita," jelasnya.

Ia menekankan rasa kesetiakawanan sosial juga harus selalu diwujudkan. Salah satunya adalah memiliki sikap empati terhadap sesama. 
"Kalau ada apa-apa jangan tutup jalan karena itu mengganggu kepentingan umum apalagi kalau ada orang sakit atau mau melahirkan kasihan," katanya.

Dikatakannya Bumi Pertiwi Nusantara adalah negara kepulauan terbesar yang subur dengan posisi yang sangat strategis sehingga banyak bangsa lain ingin menguasainya.
Dengan kemajuan teknologi negara lain ingin menguasai Indonesia. Sesama warga diadu domba sehingga terjadi kekacauan yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu Syafi'i mengingatkan agar masyarakat jangan mudah dihasut, diadu domba dan diprovokasi oleh pihak manapun yang berkehendak untuk memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Ditegaskannya saat ini kita diperangi dengan teknologi komunikasi dan informasi yang memudahkan untuk menyebarkan isu-isu hoax yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. 
"Kalau kita tidak waspada ini berbahaya," ujarnya.

Yang berbahaya juga adalah peredaran narkoba yang merajalela di mana-mana yang sangat merusak fisik dan mental generasi bangsa.

Selanjutnya ia mengatakan nilai-nilai kebersamaan dan gotong-royong juga harus senantiasa ditumbuhkembangkan di tengah-tengah masyarakat. Meskipun dana desa sudah banyak, nilai kebersamaan dan kegotongroyongan harus tetap dipelihara. 
"Jangan sampai karena besarnya dana desa nilai gotong-royong kita hilang," pungkasnya. (AMIN).








×
Berita Terbaru Update