Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menengok Geliat Posyandu Keluarga Integrasi dengan Bank Sampah di Kecamatan Kempo

Jumat, 20 Desember 2019 | 6:32 AM WIB Last Updated 2019-12-20T13:15:02Z
Faisal, S. KM, Kepala UPT Puskesmas Kempo

Dompu, Lensa Pos NTB - Terobosan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Keluarga Integrasi dengan Bank Sampah yang dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Kempo Kabupaten Dompu bekerja sama dengan stakeholder terkait patut diapresiasi.

Seperti apakah model kegiatan Posyandu Keluarga Integrasi dengan Bank Sampah tersebut ?

Kepala UPT Puskesmas Kempo, Faisal, S. KM yang ditemui awak media di ruang kerjanya  mengungkapkan hal itu.

Faisal menjelaskan program tersebut baru berjalan sekitar setahun ini. Pencanangannya pada bulan Januari 2019 di 35 Posyandu yang ada di Kecamatan Kempo dengan komitmen bersama seluruh lintas sektor untuk pelaksanaan Posyandu Keluarga Integrasi dengan Bank Sampah.

Pada saat pelaksanaan Posyandu Keluarga di 35 pos di atas, masyarakat yang berkunjung ke Posyandu  datang membawa sampah plastik. Sampah tersebut ditimbang oleh petugas dengan mengacu pada daftar harga yang sudah ditetapkan. 

Ada 3 opsi dalam pelayanan sampah ini, yakni gerakan pengobatan dengan sampah; gerakan menabung dengan sampah; dan jimpitan Posyandu dengan sampah.

Bagi warga yang tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan dan ingin berobat, maka ia boleh mengganti sampah yang dibawanya dengan stiker pengobatan bila nilainya telah mencapai Rp. 5.000,-.
Karena berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Dompu, pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan (Faskes) Puskesmas atau Pustu sebesar Ro. 5.000,-.

"Mau berobat di Puskesmas atau Pustu tinggal bawa stiker itu," jelasnya.

Sedangkan bagi masyarakat yang telah memiliki kartu BPJS-Kes, maka sampah yang dibawanya bisa menjadi tabungan baginya. Uang hasil penjualan sampahnya dimasukkan dalam buku rekening tabungannya.

Bisa pula sampah plastik yang disetorkan warga diwujudkan menjadi jimpitan Posyandu untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi bayi dan balita. Dana jimpitan ini untuk mengantisipasi bila terjadi keterlambatan anggaran PMT dari Dana Desa.

Ia menyebut tujuan utama pelaksanaan program ini adalah mengubah perilaku masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan. Daripada sampah rumah tangga dibuang di sembarang tempat yang menimbulkan pencemaran lingkungan, lebih baik dibawa ke Posyandu dan dapat bernilai ekonomis.

Diakuinya dari hasil kerja keras semua elemen dalam membangun kesadaran masyarakat tidak membuang sampah di sembarang tempat ini baru ada 205 nasabah yang telah memiliki rekening tabungan dari hasil sampah.

Sedangkan uang yang terwujud dari hasil sampah plastik ini telah mencapai sekitar Rp. 75 juta. Yang ada di rekening nasabah saat ini sekitar Rp. 12 juta.
Tetapi ia merasa optimis bahwa kesadaran masyarakat terhadap program ini dalam mewujudkan Zero Waste telah disambut dengan baik oleh masyarakat di Kecamatan Kempo.

Ia menegaskan kegiatan jual beli sampah plastik ini sama sekali tidak mengganggu aktivitas Posyandu Keluarga karena dilakukan setelah pelayanan kesehatan selesai dilakukan.

"Kegiatan bank sampah ini ada registrasi khususnya setelah 5 langkah pelayanan Posyandu sudah beres semuanya. Sama sekali tidak mengganggu pelayanan," ujarnya.

Faisal menjelaskan melalui Program Posyandu Keluarga Berintegrasi dengan Bank Sampah ini terutama adalah mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan untuk mewujudkan Zero Waste. 

"Artinya Program Zero Waste jalan. Walaupun yang sudah punya kartu (BPJS) juga daripada membuang sampah sembarangan lebih baik 'membuang' ke Posyandu," jelasnya. 

Menurutnya mengubah perilaku masyarakat tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak bisa dilakukan secara instant, tetapi membutuhkan proses panjang dan kerja keras dari semua pihak terkait.
Ia optimis dukungan dan kerja keras serta kerja bersama lintas sektor di Kecamatan Kempo sudah membuahkan hasil nyata untuk perubahan perilaku masyarakat setahap demi setahap.

Dari pelaksanaan Program ini masyarakat semakin sadar lingkungan. Lingkungan menjadi lebih bersih. Disebutnya sebelum ada program ini sampah berserakan di mana-mana bahkan menyumbat saluran irigasi dan selokan-selokan.
"Walaupun belum bisa dikatakan bersih total tapi setidak-tidaknya sudah banyak perubahan yang bisa dilihat," tuturnya.
Begitu pula penyakit berbasis lingkungan. Dalam setahun terakhir ini nol penemuan penyakit malaria dan diare berkurang.

Kesuksesan program ini mengilhami banyak pihak untuk melakukan studi banding agar bisa diterapkan di daerah masing-masing.
Seperti pada Selasa (17/12/2019), rombongan dari UPT Puskesmas Penanae Kota Bima di bawah pimpinan Kepala Puskesmas Hj. Fitriani, S. KM., M. Kes melakukan kegiatan Kaji Banding tentang pelaksanaan Posyandu Keluarga Integrasi dengan Bank Sampah di UPT Puskesmas Kempo.
Demikian pula pada hari Sabtu (14/12/2019) lalu, rombongan 10 orang dari UPT Puskesmas Unit I Kecamatan Sumbawa Kabupaten Sumbawa di bawah pimpinan Kepala Puskesmas Kartiawan, S. KM., M. PH juga telah melakukan studi banding di UPT Puskesmas Kempo mengenai pelaksanaan Posyandu Keluarga Berintegrasi dengan Bank Sampah ini.
Pada minggu lalu juga dari beberapa Kampung KB di Kecamatan Woja menyambangi Puskesmas Kempo umtuk belajar tentang model Posyandu Keluarga Integrasi dengan Bank Sampah itu.
Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Siti Rohmi Jalilah juga sudah menyempatkan untuk mengunjungi langsung pelaksanaan Bank Sampah di Desa Dorokobo Kecamatan Kempo.
Plant International dan lembaga SIMAVI dari Belanda juga sudah pernah meninjau langsung kegiatan tersebut. (AMIN).







×
Berita Terbaru Update