BANK SAMPAH, SOLUSI JITU WUJUDKAN LINGKUNGAN SEHAT

Kategori Berita

.

BANK SAMPAH, SOLUSI JITU WUJUDKAN LINGKUNGAN SEHAT

Koran lensa pos
Selasa, 18 Juni 2019

“Pada musim hujan biasanya jalan-jalan di pemukiman 
selalu banjir karena got tertutup sampah plastik, sekarang 
setelah ada bank sampah, berkurang banyak bahkan pada 
beberapa pemukiman tidak terjadi lagi”

“Mencengangkan” kata yang tepat untuk menggambarkan keberadaan sampah di Provinsi NTB. Betapa tidak, menurut data pada Bidang Sosial Budaya Bappeda Prov. NTB, setiap hari sampah pada 10 kabupaten kota mencapai 3.388 ton. Dari jumlah tersebut sebanyak 631 ton yang sampai ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),  baru 51 ton yang didaur ulang dan sekitar 80 persen atau 2.695 ton belum terkelola dengan baik. Karena itulah penanganan sampah menjadi salah satu program prioritas dalam RPJMD 2018 – 2023. Provinsi yang dikenal dengan sebutan Provinsi Seribu Masjid tersebut telah menjadikan “Bank Sampah” sebagai salah satu solusi untuk penanganan sampah, sebuah ikhtiar mewujudkan NTB Asri dan Lestari 2023, yaitu lingkungan hidup yang sehat, aman, dan nyaman untuk ditinggali. 
Bak gayung bersambut, Bank Sampah mendapat respon positif dari banyak kalangan di NTB, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, posyandu sampai sanitarian, karang taruna sampai pemerintah desa ramai-ramai membentuk dan berkegiatan bank sampah. Pemerintah provinsi telah mendorong pemerintah desa untuk mengalokasikan dana minimal Rp. 25 juta per tahun untuk bank sampah. Sedangkan Pemerintah Kabupaten mendorong puskesmas untuk setidaknya memiliki satu kelompok bank sampah dampingan desa. 

Salah satu kelompok bank sampah yang sudah berkembang baik adalah Bank Sampah Sutra dari Desa Pendua, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Kelompok yang berada di bawah organisai Karang Taruna ini dibentuk lima bulan lalu yang merupakan tindak lanjut dari pelatihan manajemen bank sampah yang difasilitasi oleh Project SEHATI (Sanitasi Berkelanjutan Untuk Wilayah Indonesia Timur) yang bermitra dengan Bank Sampah Sejahtera Mataram. Sedikitnya 20 anak muda Pendua telah mendapatkan pelatihan manajemen bank sampah dengan materi : administrasi bank sampah, jenis dan harga sampah. Berbekal karung sampah, alat timbang, dan sedikit modal yang diberikan oleh pemerintah desa mereka mulai keluar masuk lingkungan untuk melakukan sosialisasi bank sampah dengan himbauan “kumpulkan sampah dan jual pada tempatnya”. 

Sampai dengan saat ini bank sampah Sutra telah mengumpulkan dan menjual 6 ton sampah plastik dan kardus dari desanya kepada Bank Sampah Bintang Sejahtera Mataram, sebuah bank sampah yang berpusat di Kota Mataram yang bermitra dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten untuk Program Pendampingan Kelompok Bank Sampah Desa. Menurut ketuanya, Beti Kartika, selama lima bulan terakhir, mereka telah menimbang dan menjual dua kali. Bank sampahnya kini telah menjadi unit dan Bank Sampah Bintang Sejahtera Mataram, dimana jika jumlah sampah terkumpul sudah cukup, mereka akan datang untuk timbang, bayar dan angkut. Keberadaan bank sampah kini dirasakan manfaatnya oleh 694 rumah, 701 KK, dan 2.412 jiwa yang tersebar pada tujuh dusun di desa tersebut. Agus Salim, Kepala Desa Pendua menyebut bahwa bank sampah adalah salah satu alternantive untuk kebersihan lingkungan dan kegiatan produktif anak muda. “Pemerintah Desa mendukung keberlanjutan kegiatan bank sampah karena manfaatnya untuk kebersihan untuk mendukung lingkungan sehat, yang utama juga adalah alternative kegiatan produktif anak muda” kata kepala desa muda usia nan kreatif tersebut. Ke depan, pemerintah desa akan mendukung bank sampah untuk membuat kompos pupuk organik dari sampah daur ulang mengingat Desa Pendua dan desa-desa sekitarnya adalah desa pertanian dengan komiditi tanaman semusim dan sayur mayur.

Inovasi yang hampir sama terjadi di Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu. Adalah ibu Komalasari yang telah menjadi pelopor pembentukan Bank Sampah “Sahabat Mengajar” sejak November 2018. Sanitarian yang bekerja di Puskesmas Kempo tersebut berhasil menarik pelibatan ibu-ibu di posyandu dan anak-anak di sekolah untuk berperilaku hidup bersih dan sehat dengan tidak membuang sampah, menampungnya, dan menjual kembali ke pengepul. Tidak hanya itu, Ibu Komalasari juga berhasil menyakinkan pimpinan dan teman-temannya di Puskesmas Kempo dengan mendapat dukungan dana dari BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) untuk transportasi rekan-rekan sanitariannya menjadi admin saat menimbang sampah pada setiap kegiatan posyandu. Pimpinan Puskesmas juga membolehkan membayar biaya pengobatan menggunakan sampah, caranya setiap nasabah yang ingin berobat diberikan sticker khusus (tanda memiliki tabungan sampah) oleh bank sampah untuk ditunjukan kepada petugas di puskesmas. Mereka berhak mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana pasien lain yang membayar dengan uang.

Kini Bank Sampah Sahabat Mengajar memiliki 35 posyandu dampingan yang tersebar pada 8 desa di Kecamatan Kempo dengan jumlah nasabah sebanyak 205 orang. Sebagaimana yang tercatat pada buku tabungan anggota, jumlah tabungan sampai saat ini berjumlah 42.000 ton. Pada setiap hari posyandu, ibu-ibu membawa sampah untuk jimpitan (sumbangan untuk operasional posyandu) dan tabungan pribadi mereka. Setiap minggu bank sampah ini bisa menimbang dan menjual rata-rata satu ton sampah kepada CV Yoga Java yang memiliki gudang di pasar Manggelewa, 6 km dari rumahnya. 

Salah satu nasabah bank sampah, Ibu Ratna, mengatakan ada perubahan yang terjadi setelah terbentuknya bank sampah, yaitu lingkungan menjadi bersih, sampah plastik di pemukiman dan jalan-jalan berkurang. “Pada musim hujan biasanya jalan-jalan di pemukiman selalu banjir karena got tertutup sampah plastik, sekarang setelah adanya bank sampah berkurang banyak bahkan pada beberapa pemukiman tidak terjadi lagi” lanjut Ibu Ratna yang telah menjadi nasabah sejak pertama kali bank sampah Sahabat Mengajar terbentuk. Upaya Ibu Komalasari sang pelopor bank sampah mendapat apresiasi luas dari pihak lain, salah satunya menjadi tenaga kesehatan teladan kabupaten yang akan bersaing menjadi tenaga kesehatan teladan tingkat provinsi NTB Tahun 2019 (Sabaruddin/SEHATI Project Manager Yayasan Plan International Indonesia)