Oleh: Faisal Mawa’ataho
Sudah tujuh hari ini cakrawala di Bima dan Dompu terlihat buram dan berkabut. Jarak pandang di daerah terbuka yang biasanya mencapai belasan kilometer kini terlihat hanya kurang dari 10 kilometer saja. Pada saat penulis sedang berkendara menyusuri Pantai Amahami, Kota Bima pada Minggu, 11 Oktober 2026, pemandangan Pegunungan Doro Salunga (Kec. Donggo) dan G. Soromandi yang biasanya dapat jelas teramati kini sama sekali tertutupi oleh kabut asap putih yang menyebar di udara. Begitu juga ketika penulis berkendara di seputar Desa O’o, Dompu beberapa hari kemudian, tampak perbukitan di timur, barat dan selatan Dompu tertutupi oleh kabut putih. Bahkan G. Matua yang biasanya dapat terlihat jelas kini hanya tampak samar di kejauhan.
.
Bagi kebanyakan masyarakat, fenomena kabut asap di Bima dan Dompu ini tidak terlalu penting. Namun hal itu berbeda bagi penulis. Menurut penulis, ini masalah serius di tengah isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kabut asap yang mencemari udara di beberapa daerah di Indonesia seperti Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, hingga Papua Selatan. Kualitas udara yang kita hirup menjadi jaminan kesehatan masyarakat, sedangkan pencemaran udara skala besar wajib dianggap sebagai ancaman serius.
.
Ngoho dan Kabut Asap
Berdasarkan pengamatan penulis, situasi kabut asap di Bima dan Dompu ini telah berlangsung selama dua minggu. Pada minggu pertama saya hanya melihat objek perbukitan dan gunung-gunung di kejauhan tampak sedikit lebih buram daripada biasanya. Namun pada tanggal 11-13 kepekatan kabut yang menutupi cakrawala tersebut menyebabkan jangkauan pandangan hanya tersisa kurang dari 10 km saja. lalu pada 14-16 Oktober kepekatan kabut asap mulai berkurang dan jarak pandang berangsur meningkat. Pada dua hari terakhir, cakrawala di bagian barat sudah mulai bersih, namun di bagian timur –di arah Pegunungan Wawo dan G. Lambitu– tampak kabut asap masih menyelimuti langit.
.
Awalnya penulis menduga kabut asap tersebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di P. Kalimantan. Hal ini dikarenakan pada momen yang sama tengah terjadi karhutla yang ganas di pulau tersebut. Namun dugaan saya tersebut dibantah oleh masyarakat yang berpengalaman dalam urusan perladangan liar (baca: ngoho). Mereka menyebut bahwa kabut asap tersebut bersumber dari asap pembakaran lahan dan hutan yang baru saja ditebang untuk ditanami jagung. Penjelasan masyarakat ini juga dikuatkan oleh rilis resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bima.
.
Melalui halaman resminya di Facebook, BMKG Bima melaporkan bahwa sejak akhir September 2026 telah terdeteksi berbagai titik panas di sejumlah wilayah Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Bahkan pada awal Oktober jumlah titik panas tersebut telah melebihi 100 titik. Pada tanggal 5 Oktober, jumlah titik panas tersebut mencapai 146 titik. Pada tanggal 11 Oktober berkurang 3 titik menjadi 143 titik. Jumlah titik api sempat menurun hingga mencapai 90 titik pada tanggal 14 Oktober, namun kembali meningkat menjadi 158 titik pada tanggal 16 Oktober. Bahkan jumlah titik api pada tanggal 16 Oktober meningkat menjadi 180 titik api.
.
Pada Senin, 19 Oktober, kabut asap kembali menyelimuti cakrawala Bima dan Dompu. Bahkan tingkat kepekatan kabut asap kali ini lebih tebal dari kabut asap tanggal 11 Oktober. Berdasarkan pengamatan penulis, jarak pandang terhadap objek di kejauhan sangat terbatas. Bahkan G. Matua, Dompu yang pada hari-hari sebelumnya masih tampak samar, kini telah hilang sepenuhnya tertutup kabut asap.
.
Kemarau Panjang dan Potensi Karhutla
Selain menginformasikan jumlah titik panas yang bersumber dari pembakaran lahan dan hutan, BMKG Bima juga memperingatkan risiko kebakaran yang disebabkan oleh kemarau panjang. Hingga tanggal 17 Oktober 2026, selain masih terdeteksi sebanyak 123 titik api di Bima dan Dompu juga terdapat wilayah yang belum menerima hujan selama 145 hari. Hal tersebut menyebabkan wilayah tersebut mengalami kekeringan panjang serta meningkatkan resiko terjadinya bencana kebakaran.
BMKG juga mencatat bahwa Initial Spread Index (ISI) tercatat pada angka 18 atau sangat tinggi. Ini artinya bahwa api dapat menyebar sangat cepat dan sulit dikendalikan. Angin permukaan barat laut berkecepatan 12-18 km/jam juga dapat meningkatkan resiko perambatan api. Oleh sebab itu, potensi karthutla sangatlah besar sehingga harus diwaspadai.
.
Polusi dan Menurunnya Kualitas Udara
Karhutla menghasilkan asap dan partikel halus yang disebut particulate matter (PM). Asap itu sendiri mengandung karbon monooksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dikosida (SO2) yang dalam ambang batas tertentu sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
.
Dalam kasus kemunculan kabut asap di Bima dan Dompu, dapat kita duga bahwa kandungan zat-zat berbahaya di udara tidak setinggi yang terjadi di Kalimantan, Sumatra maupun Papua. Namun dalam jangka panjang, manusia yang menghirup udara yang telah terpapar gas-gas beracun ini beresiko terkena gangguan kesehatan dan fungsi paru-paru. Jadi serendah apapun tingkat polusinya, masyarakat Bima dan Dompu tetap harus mewaspadainya.
.
Menurut dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr. Zata Dini, Sp.P., paparan asap karhutla berbahaya bagi paru-paru manusia. Partikel halus yang disebut particulate matter berukuran 2,5 mikrometer (PM 2,5) serta gas beracun yang dihasilkan beresiko memicu peradangan saluran pernapasan hingga gagal pernapasan akut (https://umm.ac.id/ pakar-umm-ungkap-bahaya-asap- karhutla-bagi-paru-paru-dan-kualitas-kesehatan).
.
Menurut dokter spesialis paru-paru tersebut, asap dan partikel mikro yang dihasilkan oleh karhutla menjadi pemicu kambuhnya penyakit pada penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Selain itu, paparan asap dan partikel mikro itu mengancam kalangan amat rentan di tengah masyarakat seperti anak dan balita, ibu hamil, hingga lanjut usia.
.
Minim Perhatian Masyarakat dan Pemerintah
Fenomena kabut asap yang menyelimuti Bima dan Dompu seharusnya menjadi peringatan serius bagi masyarakat maupun pemerintah di tiga daerah di Bima dan Dompu. Sayangnya, persoalan ini tampaknya belum memperoleh perhatian yang memadai. Kabut asap seolah-olah dianggap sebagai fenomena biasa yang akan menghilang dengan sendirinya. Padahal, di balik kabut asap tersebut terdapat ancaman pencemaran udara yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Belum lagi jika ditinjau dari aspek kerusakan lingkungan akibat pembakaran hutan dan lahan.
Di sisi lain, pemerintah daerah perlu meningkatkan perhatian terhadap persoalan ini. Informasi mengenai ratusan titik panas yang terdeteksi oleh BMKG semestinya ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan, pengawasan wilayah rawan kebakaran, serta edukasi kepada masyarakat. Peringatan mengenai kemarau panjang dan tingginya risiko penyebaran api juga harus diikuti langkah pencegahan yang nyata. Tanpa pengawasan dan penanganan yang memadai, praktik pembakaran lahan dan hutan berpotensi terus berulang setiap musim tanam tiba.
Harus diakui, persoalan pembakaran lahan dan hutan akibat tradisi ngoho tidak cukup diselesaikan dengan menyalahkan para peladang, tetapi membutuhkan kesadaran dan tanggung jawab bersama. Masyarakat harus memahami bahwa pembakaran lahan dan hutan yang mereka lakukan dapat menimbulkan dampak yang melampaui batas kebun mereka. Sementara itu, pemerintah harus menyediakan pendampingan dan alternatif pengelolaan lahan yang lebih aman.
Jika kabut asap hanya dianggap sebagai kejadian musiman yang lumrah, ancaman terhadap kesehatan dan juga dampak lingkungannya akan terus berulang. Karena itu, sudah saatnya masyarakat dan pemerintah daerah memberikan perhatian lebih serius terhadap perlindungan hutan dan kualitas udara di Bima dan Dompu.
.
Jaga Hutan, Jaga Pasokan Udara Bersih Kita
Hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan, melainkan bagian penting dari ekosistem kehidupan yang menjaga keseimbangan lingkungan dan kualitas udara. Ketika hutan dibabat atau vegetasinya dihilangkan secara berlebihan dengan dalih ngoho, kita tentu telah kehilangan sebagian besar sumber pasokan udara bersih kita. Ketika hutan dan lahan yang ditebang kemudian dibersihkan dengan cara dibakar, resiko polusi dan turunnya kualitas udara tentu saja lambat laun akan kita rasakan.
Praktik ngoho dan pembakaran lahan perlu mendapat perhatian serius, semua elemen pemerintah dan masyarakat harus turun tangan untuk mengurangi jumlahnya. Masyarakat perlu didorong beralih pada sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan wiraswasta. Pemerintah daerah perlu kreatif dalam mendorong terciptanya lapangan kerja. Upaya ini penting agar kebutuhan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan dan keberlangsungan sumber pasokan udara bersih di Bima dan Dompu.
Perlu diingat, udara bersih adalah kebutuhan kita bersama. Udara yang tercemar dan terhirup oleh manusia bisa menimbulkan penyakit jika terjadi secara konsisten dan berulang. Oleh sebab itu, jangan menunggu sampai kabut asap semakin pekat atau kesehatan terganggu untuk mulai bertindak. Jaga hutan, hentikan pembakaran lahan dan ngoho yang semakin hari semakin masif. Lindungi pasokan udara bersih kita demi masa depan Bima dan Dompu.
(Penulis adalah Pemerhati Sosial, Budaya dan Lingkungan di Bima dan Dompu.

Komentar