Alimuddin: Tanam dulu, Sukses Kemudian -->

Kategori Berita

.

Alimuddin: Tanam dulu, Sukses Kemudian

Koran lensa pos
Jumat, 04 September 2026

 

Alimuddin, di tengah kebun tebunya





Dompu, koranlensapos.com - Berawal dari panen pertama yang mengecewakan, petani Tambora ini memilih belajar hingga hasilnya meningkat lebih dari lima kali lipat. Panen pertama Alimuddin pada 2023 jauh dari harapan. Dari lahan seluas 1,5 hektare, petani berusia 51 tahun asal Dusun Sorisumba, Desa Labuan Kenanga, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, itu hanya menghasilkan 20 ton tebu. Pendapatannya juga lebih rendah dibandingkan ketika ia menanam jagung. Namun, ia tidak menyerah.

"Namanya pemula. Belum tahu cara merawat, belum tahu jenis tebunya. Yang penting tanam dulu," kenang Alimuddin saat ditemui di lahannya pada 27 Juli 2026.


Ia kemudian banyak bertanya kepada petani yang lebih berpengalaman mengenai pemilihan varietas, perawatan, dan pemupukan. Perlahan ia memperbaiki caranya mengelola kebun. Pada panen berikutnya, produksi meningkat menjadi 110 ton dari lahan yang sama.
Menurut Alimuddin, salah satu hal yang membuatnya bertahan adalah kepastian yang lebih baik dalam merencanakan usaha tani. Informasi harga pembelian yang disampaikan lebih awal membantunya memperkirakan pendapatan. Penanganan pascapanen tebu juga dinilainya lebih sederhana dibandingkan jagung yang memerlukan proses penjemuran.

"Harganya sudah diumumkan di awal, jadi kita lebih tenang dan sudah bisa menghitung kira-kira hasilnya. Kalau jagung, ketika proses penjemuran terkena hujan, kualitas dan harganya bisa turun," ujarnya.

Peningkatan hasil tersebut membuat Alimuddin semakin yakin menekuni tebu. Pada 2025, ia menambah lahan seluas 1,7 hektare dan menghasilkan 80 ton pada panen pertama. Terbaru, ia menambah lagi 0,7 hektare sehingga saat ini mengelola total 3,9 hektare lahan tebu milik sendiri.

Bagi Alimuddin, tebu kini bukan sekadar tanaman. Kepada warga di sekitarnya, ia menyebut tebu sebagai "nomor dua dari emas". Ungkapan tersebut menggambarkan keyakinan pribadinya setelah melihat perubahan hasil panen dan manfaat yang dirasakan keluarganya.


Hasil usaha tani tersebut turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Dari hasil tebu, ia juga berharap dapat mewujudkan niat berumrah bersama keluarganya.
Kini Alimuddin aktif berbagi pengalaman dengan masyarakat di Desa Kawinda Na'e, Rasabou, dan Oi Panihi. Ia tidak menutupi kegagalan panen pertamanya. Justru pengalaman tersebut diceritakannya agar calon petani memahami bahwa hasil tidak datang secara instan, tetapi dapat ditingkatkan melalui proses belajar.

"Mereka sudah melihat bukti. Sejak menanam tebu, kehidupan kami berubah, pelan tapi pasti. Karena sudah melihat hasilnya, tidak sulit mengajak warga lain untuk ikut menanam," katanya.
Bagi Alimuddin, kisahnya bukan tentang keberhasilan yang datang tiba-tiba. Ia pernah mendapatkan hasil yang mengecewakan, tetapi memilih bertahan ketika banyak orang mungkin akan kembali ke tanaman sebelumnya. Pengalaman itu yang kini ia bagikan kepada warga lain.
Menurutnya, warga tidak perlu langsung memulai dengan lahan luas. Yang lebih penting adalah kemauan mencoba, mempelajari cara budidaya, dan merawat kebun secara konsisten. Ia berharap semakin banyak masyarakat setempat melihat tebu sebagai usaha tani yang dapat mereka kelola sendiri.
"Untuk apa ragu? Sepanjang kita mau berusaha dan tidak malas menggarap lahan, hasil yang kita capai akan terlihat," kata Alimuddin.

Keberadaan pasar bagi hasil panen menjadi salah satu alasan Alimuddin merasa lebih tenang menekuni tebu. Namun, bagi dirinya, bukti paling kuat tetap berasal dari kebunnya sendiri: dari 20 ton pada panen pertama, menjadi 110 ton setelah ia bersedia belajar. (*).