Kisah Abdul Wahab Sirajuddin (Ruma To'i) dan Sang Istri Setia Siti Rukiyah (Uma Kau) -->

Kategori Berita

.

Kisah Abdul Wahab Sirajuddin (Ruma To'i) dan Sang Istri Setia Siti Rukiyah (Uma Kau)

Koran lensa pos
Kamis, 04 Juni 2026

 

Foto Ruma To'i Abdul Wahab Sirajuddin dan istri, Siti Rukiyah (Uma Kau)


Oleh: Yayat Nurhidayat, SKM

Kisah kehidupan Abdul Wahab Sirajuddin (Ruma To'i) bersama istrinya, Hj. Siti Rukiyah (Uma Kau) merupakan salah satu fragmen sejarah lokal yang penuh keteguhan, heroisme, dan kesetiaan setelah runtuhnya kekuasaan politik Kesultanan Dompu.


Abdul Wahab Sirajuddin adalah putra sulung dari Sultan Dompu ke-20, Sultan Muhammad Sirajuddin (Sultan Manuru Kupa). Sebagai anak tertua, ia memegang gelar adat Ruma To'i yang menandakan posisinya sebagai calon pewaris tahta Kesultanan Dompu.

Pada tahun 1934, Belanda secara sepihak menjatuhkan hukuman pengasingan kepada Sultan Muhammad Sirajuddin karena menolak tunduk pada kontrak politik kolonial. Belanda membuang Sultan Muhammad Sirajudin beserta kedua anak lelakinya, Abdul Wahab dan adiknya (Abdullah Sirajuddin) di Kupang NTT. Abdul Wahab dan Abdullah sangat setia mendampingi ayah mereka ke tanah pembuangan. 

Selama masa pengasingan politik tersebut, Abdul Wahab menjadi tulang punggung keluarga dalam keterbatasan ekonomi dan pengawasan ketat tentara Belanda. 

Sang Sultan Muhammad Sirajuddin wafat di desa Air Mata Kupang tahun 1937 di usia 90 tahun. Sepeninggal sang ayah, Abdul Wahab dan adiknya Abdullah berangkat ke Gowa, Makassar. Di sana, Abdul Wahab memperdalam ilmu agama Islam dan memperlancar kemampuan bahasa Arabnya selama dua tahun.


Setelah Jepang mengambil alih kekuasaan dari Belanda pada tahun 1942, keluarga Sultan diizinkan kembali ke Dompu. Namun, situasi politik sudah berubah total dan sistem Kesultanan perlahan dihapuskan.

Abdul Wahab Sirajuddin (Ruma To'i)


Abdul Wahab setelah pulang ke Dompu memilih jalan hidup yang sunyi dan bersahaja. Ia bersama istrinya, Siti Rukiyah (Uma Kau), menetap di Kampung Rato, Karijawa. Di sinilah pasangan ini menjalani sisa hidup mereka di tengah-tengah masyarakat awam, jauh dari kemewahan istana kuno. 

Berbekal ilmu keagamaan yang ia perdalam selama masa pengasingan di Makassar, Abdul Wahab aktif naik-turun mimbar di masjid-masjid Dompu. Ia dikenal sering berkhotbah dan berdakwah menggunakan bahasa Arab yang fasih, menjadikannya tokoh agama dan adat yang sangat dihormati di wilayah Karijawa.

Kesetiaan Siti  Rukiyah (Uma Kau) Merawat Memori Sejarah dengan Abdul Wahab.

Nama Uma Kau (Siti Rukiyah) menjadi sangat penting karena bisa hidup dan mendampingi Abdul Wahab. Setelah Abdul Wahab Sirajuddin wafat, Uma Kau tetap tinggal dengan kesendirian ditemani Rusmalia, anak semata wayang hasil buah cinta dengan Abdul Wahab Sirajudin, di rumah mereka di kampung Rato, Karijawa.

Di masa tuanya, Uma Kau menjadi salah satu saksi hidup utama dan narasumber kunci bagi generasi muda serta sejarawan yang ingin meneliti sejarah pengasingan Sultan Dompu. Melalui ingatan dan cerita lisan dari Uma Kau-lah, detail-detail kisah perjalanan spiritual dan intelektual Abdul Wahab Sirajuddin selama diasingkan di NTT Kelurahan Air mata (Kampung Air Mata) Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang dapat diketahui.

Kisah Abdul Wahab Sirajuddin dan Uma Kau di Kampung Rato Karijawa adalah contoh nyata dari potret bangsawan Dompu yang melepas jubah kekuasaannya demi mengabdi pada jalur agama, pendidikan, dan kebudayaan di masyarakat pasca-kolonial.

Siti Rukiyah (Uma Kau) dalam merawat suaminya, Abdul Wahab Sirajuddin (Ruma To'i), hingga akhir hayatnya di Kampung Rato, Kelurahan Karijawa, adalah salah satu potret kesetiaan terdalam dan ketabahan seorang istri bangsawan Dompu. 
Setelah melewati badai politik dan masa-masa berat pengasingan kolonial di luar daerah, pasangan ini memilih menghabiskan sisa hidup mereka dalam kesederhanaan yang jauh dari kemegahan istana. Perjalanan dedikasi Uma Kau dalam merawat sang suami hingga mengembuskan napas terakhir.

Memilih Hidup Bersahaja dan Menolak Kemewahan


Meskipun Abdul Wahab Sirajuddin merupakan Putra Mahkota (Ruma To'i) yang berhak atas takhta, situasi pasca-pembuangan membuat mereka kehilangan segalanya secara materi. Uma Kau dengan ikhlas mendampingi suaminya tinggal di sebuah rumah panggung sederhana di Kampung Rato, Karijawa.

Hj. Siti Rukiyah (Uma Kau) 


Dalam menopang kehidupan sehari-hari, selama suaminya mendedikasikan waktu untuk umat—menjadi ulama, berkhotbah, dan mengajar bahasa Arab tanpa pamrih, Uma Kau bertindak sebagai tiang rumah tangga. Ia memastikan seluruh kebutuhan dasar suaminya terpenuhi dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Ketabahan Merawat Suami di Kala Sakit dan Usia Senja

Uma kau menjadi pelayan setia sebagai istri yang berbakti, Di masa-masa tua Abdul Wahab yang mulai didera sakit akibat kelelahan fisik dari masa pengasingan yang panjang, Uma Kau merawatnya secara mandiri. Ia menyuapi, membersihkan, dan menyiapkan ramuan tradisional untuk meringankan sakit suaminya. 

Uma Kau dikenal sangat menghormati kedudukan suaminya tidak hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai figur pemimpin adat dan agama yang dihormati masyarakat Dompu. Ia selalu memastikan rumah mereka tetap tenang agar sang suami bisa beristirahat dan beribadah dengan khusyuk di kala sakitnya.

Detik-Detik Terakhir dan Keikhlasan Melepas Wafatnya Sang Suami

Siti Rukiyah mendampingi sang suami hingga hembusan napas terakhir. Saat kondisi kesehatan Abdul Wahab Sirajuddin terus menurun hingga menjelang wafatnya, Uma Kau tidak pernah beranjak dari sisi tempat tidur suaminya. Ia terus membimbing dan membisikkan doa-doa di telinga sang suami hingga sang Ruma To'i meninggal dunia dengan tenang di pangkuannya di Kampung Rato. 

Wafatnya Abdul Wahab merupakan pukulan besar, namun Uma Kau melepasnya dengan keteguhan iman yang luar biasa. Ia menyadari bahwa tugas suaminya sebagai penjaga marwah Kesultanan Dompu di masa-masa sulit telah selesai dengan husnul khatimah.
Sang pangeran tanpa mahkota Abdul Wahab Sirajuddin akhirnya wafat. Kepergian Abdul Wahab meninggalkan duka mendalam, namun Uma Kau melepasnya dengan keteguhan iman seorang istri bangsawan.

Merawat "Memori dan Warisan" Pasca-Kematian Abdul Wahab

Bagi Uma Kau, merawat suami tidak berhenti saat Abdul Wahab meninggal dunia. Pengabdian terbesarnya justru berlanjut setelah suaminya wafat yakni menjaga marwah keluarga. Ia mendidik putri mereka, Rusmalia, dengan nilai-nilai ketegasan dan keluhuran budi sang ayah. Didikan inilah yang mengantar putri semata wayangnya Rusmalia menjadi wanita yang kuat dan memegang teguh wanita Dou Dompu.

Uma Kau menghabiskan sisa umur panjangnya di rumah Rato Karijawa dengan setia merawat ingatan perjuangan suaminya. Kepada para cucunya dan generasi muda Dompu, ia dengan detail menceritakan kembali kisah hidup dan perjuangan Abdul Wahab, agar sejarah sang suami tidak pernah terkubur zaman.

Kisah Uma Kau di Karijawa adalah simbol dari filosofi perempuan Dompu sejati, teguh mendampingi saat jaya maupun terpuruk, setia merawat hingga ajal menjemput, dan menjaga nama baik suami bahkan hingga ke liang lahat.