๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ ๐—ฃ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฆ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฆ๐˜‚๐—น๐˜๐—ฎ๐—ป: ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—•๐˜‚๐—บ๐—ถ ๐—–๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ต ๐—Ÿ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ต๐˜‚๐—ฟ -->

Kategori Berita

.

๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ ๐—ฃ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฆ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฆ๐˜‚๐—น๐˜๐—ฎ๐—ป: ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—•๐˜‚๐—บ๐—ถ ๐—–๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ต ๐—Ÿ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ต๐˜‚๐—ฟ

Koran lensa pos
Selasa, 02 Juni 2026

 

Sultan Muhammad Sirajuddin (Manuru Kupa)




Penulis: Aba La Kenan

Dompu bukan sekadar nama sebuah kabupaten di peta; di masa lampau, tanah ini menyimpan jejak kebesaran sebuah kesultanan yang gaungnya sudah terdengar sejak era Majapahit. Untuk membangkitkan kembali memori kejayaan itu, pada tahun 2002, Pemerintah Kabupaten Dompu mengambil sebuah langkah historis yang sangat emosional: menjemput pulang kerangka jenazah Sultan Muhammad Sirajuddin.

Beliau adalah Sultan Dompu ke-20 sosok raja yang rela kehilangan takhta demi mempertahankan prinsip melawan penjajah yang menghembuskan napas terakhirnya di pengasingan. Selama puluhan tahun, raganya bersemayam di pemakaman muslim Batu Kadera, Kupang. Misi besar penjemputan ini digagas dengan satu tujuan mulia: menempatkan kembali Sang Sultan di pangkuan keluarganya, beristirahat dengan tenang di kompleks pemakaman raja-raja Dompu di sekitar Masjid Agung Baiturrahman, yang dahulu merupakan pusat istana kesultanan.

Gagasan yang sudah lama diidamkan ini akhirnya menemui titik terang setelah melalui serangkaian lobi dan koordinasi panjang dengan pihak keluarga di Dompu, Bima, dan Jakarta, serta restu dari para tokoh masyarakat. Semuanya bermuara pada terbitnya Surat Keputusan DPRD Dompu di awal Januari 2002 yang menyetujui pemindahan kerangka jenazah, sekaligus upaya mendorong usulan agar almarhum kelak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Perjalanan menjemput sejarah ini tidaklah sederhana. Rombongan besar dibagi menjadi dua tim yang saling bahu-membahu. Tim pertama, yang memikul tugas krusial untuk membuka jalan dan melobi pemerintah daerah setempat, diberangkatkan lebih awal. Pergerakan tim ini berada di bawah komando Asisten I Tatapraja Setda Dompu, (Alm) Drs. H. Sudirman A. Majid. Dalam menjalankan tugasnya, beliau ditemani oleh Drs. Syafrin A. Mansyur yang hadir sebagai perwakilan dari pihak keluarga Sultan. Turut menyertai mereka adalah A. Madjid, MT. yang membawa mandat dari DPRD Dompu, serta Badaruddin H. Mahmud dari bagian Humas Pemkab Dompu.

Menyusul kemudian tim kedua yang dipimpin langsung oleh Bupati Dompu saat itu, H. Abu Bakar Ahmad, S.H. Beliau hadir membawa serta jajaran Muspida, anggota dewan, ulama MUI, hingga para ajudan dan wartawan untuk mengiringi kepulangan sang tokoh besar.

Pada Kamis, 17 Januari 2002, tim penjemput bertolak dari pelabuhan Bima menembus ombak menggunakan Kapal Ferry Cepat (KCF) Barito. Setelah mengarungi lautan selama kurang lebih 16 jam, rombongan akhirnya merapat di Pelabuhan Tenau, Kupang, menjelang senja. Di sana, mereka disambut dengan hangat oleh tim pertama yang telah menunggu bersama Asisten Tatapraja Kota Kupang, Drs. H.M. Kasim. Pusat kegiatan dan koordinasi pun segera dibangun di Hotel Flobamor II.
Keesokan harinya, Jumat 18 Januari, suasana haru mewarnai silaturahmi rombongan dengan Walikota Kupang, Kol. Inf. (Purn) Samuel Kristian Lerik. Sang Walikota tidak menutupi rasa berat di hatinya untuk melepas sosok Sultan yang sudah 65 tahun menjadi bagian dari Bumi Cendana. Namun, dengan keikhlasan yang mendalam, beliau merelakannya; menyadari bahwa jiwa Sang Sultan akan jauh lebih damai bila kembali bersanding dengan masyarakat dan tanah leluhurnya di Dompu.

Dukungan serupa juga mengalir saat rombongan bertamu ke Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur. Mereka disambut sangat akrab lewat upacara pengalungan selendang khas NTT oleh Gubernur Piet Alexander Tallo. Dalam perbincangan itu, tergambar jelas betapa Kupang memiliki ikatan sejarah yang kuat sebagai kota pembuangan para pejuang dan bangsawan Nusantara. Di pemakaman Batu Kadera tempat Sultan Sirajuddin beristirahat, ia tak sendiri; ia bertetangga dengan tokoh-tokoh besar lainnya, seperti Sultan Badaruddin dari Sumatera, salah satu panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro, hingga Sultan Pontianak, Habib Syarif Abdurrahman Abubakar Alqadrie.

Rangkaian hari Jumat itu terasa semakin syahdu ketika rombongan menunaikan ibadah di Masjid Baitul Qodim, Kelurahan Air Mata. Di masa pengasingannya, Sultan Muhammad Sirajuddin kerap menjadikan masjid ini sebagai tempat salat dan mengajarkan warga sekitar mengaji. Masjid ini begitu dihormati; bahkan warga setempat meyakini kekeramatannya, mengingat sejarah mencatat ini adalah satu-satunya masjid di Kupang yang luput dari amukan massa saat kerusuhan melanda pada tahun 1990-an.

Kisah di sekitar masjid ini semakin menyentuh ketika rombongan bersua dengan keluarga H. Hasan Toha Mustafa. Selama puluhan tahun, keluarga ini dengan setia merawat peninggalan Sang Sultan: sebuah tasbih kayu sawo berwarna hitam dan alat pemotong pinang dari besi yang biasa disebut cekaraty. Dengan penuh keikhlasan, benda-benda pusaka itu diserahkan kembali kepada Bupati Dompu, menyambung lagi benang merah sejarah yang sempat terputus antar-generasi.
Malam harinya, di Restoran Teluk Kupang, ketegangan dan kelelahan mencair dalam jamuan makan malam yang hangat. Acara ini bukan sekadar pertemuan seremonial antar pejabat, melainkan reuni dua sahabat lama Bupati Dompu dan Walikota Kupang yang rupanya pernah bersama-sama menimba ilmu di Lemhannas Jakarta. Di tengah riuhnya hiburan dan kilat kamera, semangat kebersamaan dan penghormatan yang tinggi kepada almarhum Sultan begitu kental terasa. Semua restu telah didapat, semua persiapan telah matang.

Sabtu pagi, 19 Januari 2002, udara Kota Kupang terasa lebih sejuk. Di kompleks pemakaman muslim Batu Kadera, ketegangan bercampur haru menyelimuti rombongan. Fajar hari itu menjadi saksi dimulainya prosesi yang sudah dinantikan selama puluhan tahun: pembongkaran makam.

Lantunan ayat suci Al-Qur'an dan zikir menggema pelan, mengiringi setiap ayunan cangkul yang menggali tanah pekuburan tersebut. Di bawah tatapan penuh doa, kerangka jenazah Sultan Muhammad Sirajuddin diangkat kembali ke atas bumi. Setelah lebih dari enam dekade terbaring di tanah pengasingan, sisa-sisa jasadnya dibersihkan dengan penuh kehati-hatian, disucikan kembali sesuai syariat Islam, dan dikafani dengan kain putih yang baru. Kerangka tersebut lalu dibaringkan ke dalam sebuah peti kayu yang telah disiapkan secara khusus, seolah menjadi singgasana terakhirnya dalam perjalanan pulang.

Tugas di Bumi Cendana telah paripurna. Peti jenazah Sang Sultan kemudian diarak menuju pelabuhan. Perjalanan laut belasan jam membelah ombak menuju tanah Sumbawa tak lagi terasa melelahkan, melainkan dipenuhi dengan rasa syukur yang membuncah. Lautan yang dahulu memisahkan Sang Sultan dari rakyatnya saat dibuang oleh kolonial, kini menjadi jalan mulus yang mengantarkannya pulang.

Setibanya di Pelabuhan Bima, suasana seketika berubah menjadi lautan manusia. Kabar kepulangan Sang Sultan telah menyebar ke seluruh penjuru. Dari pelabuhan, iring-iringan panjang kendaraan perlahan bergerak menuju Kabupaten Dompu.

Sepanjang jalan raya yang membelah wilayah Bima hingga memasuki batas kota Dompu, pemandangan luar biasa tersaji. Ribuan rakyat tumpah ruah ke pinggir jalan. Tak ada yang mengomandoi, namun tangis haru pecah di mana-mana. Kalimat tauhid, salawat, dan isak tangis saling bersahutan menyambut mobil yang membawa peti jenazah almarhum. Generasi tua yang mungkin hanya mendengar kisahnya dari memori masa lalu, hingga generasi muda yang baru menyadari besarnya sejarah tanah kelahiran mereka, semuanya tertunduk hormat.

Puncak keharuan terjadi ketika iring-iringan itu tiba di kompleks Masjid Agung Baiturrahman. Di tempat inilah Sang Sultan akhirnya kembali "bertakhta". Diiringi penghormatan kebesaran, doa dari para ulama, dan derai air mata rakyatnya, kerangka jenazah Sultan Muhammad Sirajuddin diturunkan ke peristirahatan terakhirnya di kompleks pemakaman keluarga raja-raja Dompu.

Perjalanan panjang Sang Sultan telah paripurna. Beliau mungkin kehilangan kerajaannya di masa lampau, namun hari itu menjadi pembuktian abadi bahwa ia tidak pernah kehilangan takhta di hati rakyatnya. Kembalinya Sang Sultan akan terus hidup sebagai tonggak sejarah yang menginspirasi generasi Dompu dari masa ke masa. (๐™ณ๐š’๐šœ๐šŠ๐š›๐š’๐š”๐šŠ๐š— ๐š๐šŠ๐š›๐š’ ๐š‹๐šŽ๐š›๐š‹๐šŠ๐š๐šŠ๐š’ ๐šœ๐šž๐š–๐š‹๐šŽ๐š›).