Jalan Panjang Forum Anak Dompu
Oleh: Andi Fardian
(Duta Anak Indonesia 2006-2008)
Forum Anak Dompu (FAD) adalah forum anak tertua di Indonesia. Informasi itu bisa saya pastikan validitasnya. Dulu, Dompu adalah kabupaten percontohan bagi forum-forum anak di Indonesia, dalam hal prestasi dan manajemen organisasi. Itu dulu. Anak-anak Dompu yang berprestasi antara tahun 2002 – 2014, sebagian besarnya, adalah anak-anak forum anak.
Kami bisa berdebat sengit di OSIS, pramuka, PMR, dan organisasi anak lainnya, tapi kalau sudah berkegiatan di FAD, kami bersatu. Di pertemuan OSIS se-Kabupaten Dompu, saya bisa berdebat keras dengan Abdullah (sekarang pengacara dan kalau tidak salah sekretaris KONI Dompu). Saat itu, posisi saya adalah Ketua Asosiasi Osis se-Kabupaten Dompu, tapi di FAD, Dul adalah ketua saya. Orang-orang seperti Fifi Kurniati, Wahyudi, Lili Asmawati, Hamdan, Iksan, Nurkamaliatun, Imam Alfafan, Intan, Teja, Didit, Habib, Dani, Saleh, Indah, dan banyak sekali generasi berprestasi Dompu adalah anak-anak berpretasi Dompu yang merupakan pengurus FAD. Sekarang, orang-orang ini terus mengukir prestasi di bidang dan pekerjaannya masing-masing.
Masalah prestasi? Antara tahun 2002 – 2014, FAD adalah forum anak paling berprestasi di Indonesia. Prestasi itu diukir mulai dari tingkat provinsi sampai internasional. Yang aktif dan keras berdebat di Kongres Anak Indonesia dan Forum Anak Nasional setiap tahun adalah anak-anak FAD. Ada yang jadi pimpinan sidang, fasilitator nasional, dan pembicara di forum-forum konsultasi anak nasional.
Satu lagi, jangan lupakan bahwa Forum Anak NTB, yang sejak tahun 2013 selalu dibangga-banggakan oleh setiap Gubernur NTB karena membuat NTB mendapatkan status sebagai Provinsi (Menuju) Layak Anak, dibentuk oleh alumni FAD. Pemuda Dompu yang berperan di sini. Sejak 2002, pembentukan Forum Anak NTB hanya menjadi wacana orang-orang di Mataram. Karena jenuh dengan budaya besar omong beberapa pihak di Mataram, alumnus FAD mengambil alih dan merealisasikan pembentukan Forum Anak NTB. Sekarang, banyak pihak di Mataram mengklaim karena Forum Anak NTB sudah stabil. Dari Yogya, saya tertawakan saja.
Kembali ke FAD. Mengapa saya menyebut rentang tahun 2002-2014 dalam hal FAD menjadi forum anak percontohan di Indonesia? Monggo, Anda bisa membaca tulisan refleksi saya pada tahun 2017. Saya berharap ini menjadi refleksi dan cambuk untuk menghidupkan lagi FAD. Berikut tulisan saya saat itu:
Jika ditanya forum anak mana yang paling tua umurnya atau yang pertama kali terbentuk di NTB? Maka saya memastikan Forum Anak Dompu. Sebelum perubahan nama akibat imbauan penyeragaman nomenklatur dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindugan Anak RI, namanya adalah Dewan Anak Dompu (DAD).
Dewan Anak Dompu dibentuk pada Mei 2002 pada acara Kongres Anak Dompu I yang bertempat di SKB Dompu. Kongres Anak Dompu I difasilitasi penuh oleh Plan Internasional wilayah Dompu. Saat itu, pengurus DAD dilantik langsung oleh Bupati Dompu Abubakar Ahmad (Ompu Beko) pada hari terakhir kegiatan kongres. Penutupan kongres ditandai dengan pelepasan Merpati sebagai rasa syukur atas terbentuknya DAD. Saya notice, jasa besarnya Ompu Beko, ya, di sini. Sehat selalu, Ompu.
Bahkan DAD adalah yang tertua di Indonesia. Mengapa saya berani mengambil kesimpulan demikian? Patokannya adalah Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) Nomor 23 Tahun 2002 disahkan pada tanggal 22 Oktober 2002 oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri. DAD dibentuk pada tahun yang sama, beberapa bulan bahkan sebelum UUPA disahkan. Kaitannya dengan ini, saya harus berterima kasih kepada Plan Internasional yang telah memfasilitasi pembentukan forum anak di Dompu. Saya sebagai mantan pengurus DAD harus dengan jujur mengapresiasi peran Plan mengkover peran pemerintah daerah dalam menyediakan wadah partisipasi anak di Dompu. Jauh sebelum isu anak dan forum anak menjadi perhatian banyak pihak seperti sekarang ini dari tingkat RT sampai tingkat nasional, Dompu sudah memiliki wadah partisipasi anak yang sangat mapan.
Tulisan ini menjadi refleksi untuk menoleh ke belakang sejauh mana FAD mampu memaknai diri dalam perjalanan panjangnya. Saya harus katakan bahwa anak-anak dari FAD adalah anak-anak yang berprestasi di berbagai event anak. Semua itu berkat pendampingan Plan. Pada tahun 2004, salah satu pengurusnya menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Anak Indonesia. Namanya, Wahyudi, anak Desa Adu. Saya yakin sebagian besar orang tidak pernah tahu bahwa dulu Indonesia pernah memiliki Dewan Anak Indonesia—yang kemudian bubar kerena kesulitan menjalin komunikasi antarpengurus seluruh Indonesia—yang terbentuk pada acara Temu Anak Nasional di Makassar. Pada kenyataannya, jauh sebelum Sekretariat Bersama Forum Anak Nasional seperti sekarang ini terbentuk, Indonesia pernah memiliki Dewan Anak Indonesia.
Dalam perjalanannya, FAD pernah mengalami hampir semua kondisi sebagai bagian dari dinamika eksistensinya sebagai organisasi anak. Kesimpulan awal yang dapat saya ambil adalah makin ke sini eksistensi FAD makin kehilangan gaungnya seperti yang pernah saya tulis pada kesempatan lain. Tahun 2002 sampai tahun 2014 merupakan masa jayanya karena difasilitasi oleh Plan. Setiap tahun Plan mengalokasikan dana untuk menunjang kelancaran pelaksanaan program kerja FAD. Pengurus FAD tidak pernah sepi berkegiatan karena selain menjalankan program kerjanya, mereka juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan dan program Plan. Saat itu pengurus FAD-lah yang diberikan kewenangan untuk menjadi Tim Redaksi majalah anak Hubbul Wathan. Majalah ini merupakan program Plan Wilayah Dompu. Tetapi yang mengumpulkan karya dan urusan-urusan lain adalah pengurus forum anak. Majalah Hubbul Wathan adalah majalah anak di Dompu yang kemudian identik dengan majalah Forum Anak Dompu.
Sejak tahun 2002, FAD tidak pernah absen dalam berbagai kegiatan di tingkat provinsi dan nasional karena pembiayaan di-back up oleh Plan. Termasuk beberapa kali mewakili Indonesia pada kegiatan internasional di luar negeri. Sekretariat FAD langsung include di Kantor Plan wilayah Dompu sehingga tidak pernah menemui kesulitan yang berarti ketika ingin mengadakan rapat—misalnya. Saya dan teman-teman yang saat itu menjadi pengurus hampir setiap hari “bermain” di Kantor Plan. Para staf yang kami panggil kakak pendamping sangat ramah kepada kami. Setiap dua tahun, FAD mengadakan acara kongres anak Dompu yang bertujuan disamping meng-update isu-isu anak, juga untuk melakukan pergantian pengurus. Semua pembiayaan kongres ditanggung oleh Plan. Forum Anak Dompu dimanjakan dan mendapatkan keberkahan dengan kehadiran Plan di Kabupaten Dompu.
Kejayaan FAD antara tahun 2002-2014 itu bukan tidak menyisakan kekhawatiran. Keadaan forum anak yang serba dipenuhi dan dijamin keberadaannya oleh Plan adalah sebuah bom waktu. Pada tahun 2008, akhir masa jabatan saya sebagai pengurus FAD, beberapa kakak pendamping mulai memikirkan seperti apa nasib FAD pasca Plan keluar dari Dompu. Terkait ini, Plan tidak punya alternatif exit strategy, kecuali menyerahkan kepada pemerintah daerah.
FAD dan Plan diibaratkan sudah seperti hubungan anak dan orang tua. Saya yang pada tahun 2009 sudah menyeberang ke pulau seberang juga mengkhwatirkan itu. Memang selama masa jayanya, program kerja FAD berjalan dengan lancar, namun di sisi lain, FAD menjadi serba bergantung pada Plan pada hampir semua hal. Jika anak ayam sudah kehilangan induknya, maka bayangkan apa yang terjadi? Seperti itulah yang dikhawatirkan oleh semua pihak. Oleh karena demikian, Plan mulai mendekatkan FAD dengan pemerintah daerah. Usaha itu tidak sia-sia. FAD berhasil mendapatkan SK Bupati. Dengan demikian, FAD mendapatkan dana rutin setiap tahunnya dari pemerintah daerah sampai sekarang. Is problem done? Not at all.
Apa yang dikhawatirkan terjadi juga. Sejak tahun 2010, Plan mulai mengurangi perannya untuk memfasilitasi FAD. Salah satunya adalah terkait fasilitasi pendanaan program kerja forum anak. Kendatipun sudah mendapatkan dana rutin dari pemda dan mulai pada tahun 2012, pendampingan forum anak mulai diambil-alih oleh BKKBN Dompu (bagian perlindungan anak di bawah naungan BKKBN), FAD justru makin kehilangan gaungnya. Jumlah kegiatan terlihat turun drastis. Praktis aktifnya forum anak adalah menjelang adanya pemilihan duta anak yang akan mewakili Dompu ke kegiatan tahunan Temu Anak NTB, Kongres Anak Indonesia, dan Forum Anak Nasional. Pendampingan Plan benar-benar selesai pada tahun 2014. FAD is suffering a panic attack.
Kendati sudah ada pemerintah yang mendampinginya. Kesulitan menyesuaikan diri dengan pendampingan pemerintah daerah dan ditambah lagi dengan persoalan ketergantungan terhadap Plan adalah petaka besar yang mengancam eksistensi FAD sampai hari ini. Kesulitan menyesuaikan diri tidak hanya dialami oleh forum anak, terapi juga dialami oleh pemerintah daerah. Pemerintah daerah yang pada awalnya tidak biasa luwes menghadapi forum anak, suka atau tidak suka harus memikul tanggung jawab pendampingan. Lain halnya dengan Plan yang memang sejak awal sudah akrab dengan masalah pendampingan organisasi anak dan masalah anak. Selain itu, pemerintah daerah juga membutuhkan waktu untuk mempelajari perannya.
Bagaimana dengan peran stakeholder lainnya seperti organisasi peduli anak di Kabupaten Dompu dalam konteks mendampingi Forum Anak Dompu? Ketika Plan masih aktif, ada Forum Peduli Anak Dompu (Forpad), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Dompu, dan beberapa organisasi peduli anak lainnya. Namun, sepertinya setelah berakhirnya masa kerja Plan, organisasi-organisasi tersebut juga ikut hilang. Bagaimana pun eksistensi organisasi peduli anak yang ada di Dompu bergantung pada Plan. Saya ambil contoh Forpad yang pendanaan program kerjanya di-back up oleh Plan. Untuk LPA Dompu, terakhir kali saya mendengar info perihal kondisi LPA yang sudah fakum sejak sebelum Plan berakhir masa kerjanya. Kondisi yang seperti ini sangat tidak menguntungkan bagi Forum Anak Dompu. Alih-alih mereka bisa membantu pemerintah mendampingi forum anak, kondisi interen mereka saja masih dipertanyakan. Selain itu, keadaan FAD makin mendekati kata fakum karena beberapa masalah interen yang mereka hadapi, seperti: belum memiliki sekretariat; semangat semu para pengurus yang hanya aktif dan rajin ketika mendengar info kegiatan di tingkat provinsi maupun nasional atau pemilihan duta; para senior yang dengan tega membiarkan pengurus berjalan sendiri; dan lain-lain. Kondisi inilah yang menyebabkan FAD tidak mampu mempertahankan dirinya tetap aktif seperti dulu.
Tentu keadaan di atas harus dicarikan solusinya. Solusi yang dapat saya tawarkan adalah siapapun yang menjadi pengurus harus berani berkorban (waktu, tenaga, dan pikiran) untuk berkomitmen mengembalikan kejayaan dan kecemerlangan FAD. Selain itu, pengurus perlu merubah cara berpikir. Jika selama ini berkunjung ke kantor BKKBN apabila dipanggil oleh Kepala Bidang Perlindungan Anak, maka sudah seharusnya diubah. Berkunjunglah kapanpun agar terjalin komunikasi yang baik dengan pemerintah yang mana dapat membuka kemungkinan berkembangnya usaha dan cita-cita forum anak—untuk segera memiliki sekretariat, salah satunya. Rajin-rajinlah menjalin komunikasi dengan kakak-kakak yang sudah berstatus mantan pengurus untuk belajar dan mendapatkan pengalaman di masa lalu. Untuk pihak pemerintah daerah, saya sarankan untuk lebih intens lagi mendampingi forum anak. Saya kira hanya dengan cara itu, FAD akan kembali menjadi wadah partisipasi anak di Kabupaten Dompu.
Tulisan ini bisa jadi menjadi kritikan kepada FAD itu sendiri, pemerintah daerah beserta stakeholder pemerhati anak yang ada di Dompu. Atau, sangat terbuka kemungkinan tulisan ini adalah kritikan terhadap diri saya sendiri yang membiarkan FAD berjalan sendiri. FAD jangan dibiarkan hanya menjadi organisasi formalitas yang aktif jika ada kegiatan dan fakum ketika tidak ada kegiatan. Saya berhenti aktif di FAD pada tahun 2009, kemudian beralih untuk merealisasikan pembentukan Forum Anak NTB pada tahun 2013 dan setahun kemudian benar-benar “purnatugas” dari kegiatan dan aktivitas anak.
Namun, tanggung jawab morallah yang membuat saya tidak pernah berhenti memikirkan, peduli, bahkan menulis terkait anak dan forum anak. Sekalipun kadang-kadang istri saya komplain, “Sudahlah bang, masanya abang sudah selesai. Lagi pula apa yang abang tulis belum tentu didengar oleh mereka.” Saya katakan pada istri bahwa kontribusi dan perjuangan tidak akan pernah selesai. Persoalan tulisan, harapan, serta kritikan didengar atau tidak, adalah soal lain dan tidak saya perdulikan. Saya masih memegang janji saya ketika memberikan sambutan di depan Menteri Pemberdayaan Perempuan Prof. Meutia Hatta dan beberapa pejabat pemerintahan lainnya sebagai finalis Pemimpin Muda Indonesia tahun 2009 di Hotel Borobudur Jakarta, bahwa penghargaan yang saya terima bukanlah akhir dari kontribusi saya pada urusan anak—termasuk forum anak—tetapi menjadi awal dari perjuangan dan kontribusi selanjutnya dan yang sesungguhnya.
Saya kira masalah-masalah yang dihadapi oleh FAD juga dialami oleh beberapa forum anak daerah di seluruh Indonesia. Cuma persoalannya, beberapa forum anak daerah tidak berani mengkritik dirinya sendiri atau mau jujur terhadap keadaan yang dialaminya dengan sebenar-benarnya. Hal tersebut bisa disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah karena takut dicap sebagai forum anak yang fakum sehingga berdampak pada menurunnya pamor sebagai forum anak yang aktif di mata forum anak yang lain. Padahal, berani mengkritik diri sendiri adalah obat yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit, termasuk penyakit pura-pura tidak melihat masalah pada diri sendiri sekalipun kasat mata.
Saya berharap FAD dapat mengembalikan kecemerlangannya di masa yang akan datang untuk mengemban amanah sebagai wadah partisipasi semua anak di Dompu. Seharusnya usia yang sudah 15 tahun dapat menjadi semangat untuk menjadi lebih baik daripada hari kemarin, bukan justru kemunduran yang terjadi. Begitu juga halnya dengan semua forum anak daerah di seluruh Indonesia.
Selamat berjuang. Salam dari Yogya. Saya bangga menjadi orang Dompu, berikut Forum Anak Dompu. Saya mengangkat tema forum anak sebagai salah satu topik disertasi saya. Itu adalah wujud bangga saya sebagai anak yang dibesarkan oleh forum anak.

Komentar