Terkait Demo di DPRD, Ini Suara Hati Beberapa Siswa, Kepsek dan Wakasek SMAN 1 Dompu

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

.

Terkait Demo di DPRD, Ini Suara Hati Beberapa Siswa, Kepsek dan Wakasek SMAN 1 Dompu

Koran lensa pos
Minggu, 04 September 2022

 

Aksi demo di depan Kantor DPRD Dompu, Kamis (1/9/2022)


Dompu, koranlensapos.com - SMAN 1 Dompu letaknya sangat dekat dengan Kantor DPRD Kabupaten Dompu. Hanya dibatasi jalan raya yaitu jalan protokol Soekarno-Hatta.

Tidak mengherankan jika ada aksi unjuk rasa di gedung Wakil Rakyat itu didengar dan diketahui pula oleh para siswa di sekolah favorit itu. Bahkan bila ada penembakan gas air mata aparat kepolisian, tidak dapat terhindarkan, hembusan asapnya juga akan memasuki lingkungan sekolah itu dan memerihkan mata.

Demikian pula aksi demo penolakan kenaikan harga BBM sekitar tiga puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps HMI-Wati Cabang Dompu pada Kamis (1/9/2022) tiga hari lalu. 

Salah satu siswi di sekolah tersebut mengaku aksi demo diketahuinya mulai sekitar pukul 09.00 Wita. Sedangkan mulai ramai terdengar saat jam istrahat tiba sekitar pukul 10.00 Wita.

Hal itu sontak menimbulkan rasa keingintahuan dari sejumlah siswa. Karena bersamaan dengan jam istarahat, mereka berhamburan menuju ke halaman sekolah guna menyaksikan secara langsung insiden bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian yang mengawal jalannya unjuk rasa itu.

Saat itulah terjadi penembakan gas air mata yang dilakukan aparat kepolisian untuk meredam kebrutalan massa aksi.
Tak ayal lagi, semburan asap dari gas air mata itu memasuki lingkungan sekolah itu. Akibatnya beberapa siswa merasakan perih di matanya. Namun kemudian berangsur-angsur membaik setelah mereka membasuh wajah.

"Ada dua orang cowok di kelas 3 di atas yang kena. Di kelas kita ada 4 atau 5 orang yang kena. Mereka merasakan panas di matanya," aku siswi yang enggan menyebutkan identitasnya ketika ditemui wartawan saat duduk bergerombol di salah satu berugak di halaman sekolah itu pada Jumat sore (2/9/2022) sekitar pukul 14.00 Wita.

Siswi lain juga mengaku terganggu dengan adanya kejadian semacam itu.

"Kami merasa terganggu kalau terjadi hal yang seperti ini. Kami merasa tidak nyaman," ucapnya.

Sementara siswa lain dalam tanggapannya menyampaikan bahwa demo itu baik untuk menyuarakan aspirasi masyarakat kecil, tetapi menurutnya akan lebih efektif bila dilakukan dalam bentuk diskusi. 

"Sebaiknya untuk menyuarakan aspirasi rakyat lewat diskusi saja. Kalau untuk merusak sepertinya tidak," katanya. 

Siswa berseragam Pramuka itu mengemukakan bahwa demo anarkis itu akan berdampak pada kerusakan fasilitas negara. Perbaikan kembali menggunakan uang negara sehingga ujungnya akan merugikan kepentingan rakyat.  

"Kan begini fasilitas dirusak lalu dibeli lagi pada akhirnya yang rugi juga kita semua," ujarnya.

Siswa yang lain lagi berpendapat demo anarkis itu memberi contoh kurang baik pada siswa. Siswa yang kurang mematuhi aturan di sekolah akan berusaha ingin melihat aksi itu bahkan ingin mengikuti.

"Apalagi kalau yang kepo," timpal siswi lain.

Menurut siswi lain sikap tegas perlu dilakukan oleh aparat kepolisian guna menghindari pengrusakan fasilitas negara.

"Mau nggak mau polisi harus melakukan seperti itu. Polisi harus tegas," ucapnya.

Tetapi siswa lain berkomentar walaupun polisi harus bersikap tegas tetapi juga harus mempertimbangkan lagi penggunaan gas air mata karena mengkhawatirkan terjadinya dampak yang tidak baik bagi kesehatan masyarakat sekitar termasuk bagi siswa SMAN 1 Dompu yang jaraknya sangat dekat itu.

"Mungkin perlu dipikirkan lagi penggunaan gas air mata itu," usulnya.


Salah seorang wali murid menyayangkan terjadinya penembakan gas air mata yang dilakukan aparat kepolisian. Apalagi sampai memasuki lingkungan sekolah yang menjadi pusat pendidikan bagi anak-anak bangsa. Di sekitarnya pun banyak pemukiman masyarakat.

"Sebaiknya di kawasan padat penduduk begitu pakai water canon saja," usulnya.

Kepala Sekolah, Muhammad Ihsan yang ditemui awak media di ruang kerjanya pada Jumat menjelang sore hari itu mengaku saat peristiwa itu terjadi sedang berada di Kantor UPTD Dikpora Kabupaten Dompu. Karena saat ini dirinya mendapatkan amanah sebagai Plt. KCD Dikpora Kabupaten Dompu. 

"Kami belum tau kejadiannya kemarin apakah memang ada yang melempar ke dalam atau akibat hembusan angin dari luar," ucapnya.

Diakuinya hampir setiap hari didengarnya ada aksi demo di Kantor DPRD Kabupaten Dompu. Namun itu tidak terlalu mengganggu karena setelah itu massa pendemo diterima oleh anggota DPRD untuk selanjutnya melakukan audiensi.

Namun bila terjadi aksi dalam eskalasi memanas akhirnya aparat kepolisian melakukan penembakan gas air mata, dampaknya juga dirasakan di sekolah. Para siswa yang berada di lantai dua merasakan perih di mata akibat asap dari gas air mata yang terbawa angin. Demikian juga bagi siswa yang berada di halaman bila saat kejadian bersamaan dengan jam istrahat.

"Saat jam istrahat itu anak-anak biasanya ada yang sholat Dhuha atau pas sholat Dzuhur pasti ada anak yang berada di depan juga (di halaman depan sekolah,red). Kalau orasi biasa itu tidak apa-apa karena itu menyampaikan aspirasi rakyat hanya sebentar saja dan kami tidak merasa terganggu tapi kalau ada lemparan batu atau ada asap aktivitas anak-anak dan juga kesehatan ikut terganggu," akunya.


Kepsek ini juga mengaku saat unjuk rasa terkait penolakan terhadap UU Omnibuslaw beberapa bulan lalu juga mendapatkan dampak dari asap gas air mata yang dihembuskan oleh angin dari arah jalan raya saat aparat kepolisian menghalau massa aksi.

"Waktu demo terkait Omnibuslaw mata saya juga perih terkena asap gas air mata," sebutnya.

Berdasarkan pengalaman selama ini, lanjutnya bila ada aksi demo yang memanas, maka para guru mengimbau kepada para siswa untuk tidak berada di halaman sekolah. Hal itu dilakukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan para siswa.

Ihsan kemudian menyarankan bila ada rencana aksi demo, surat tembusan juga hendaknya ditujukan pula ke SMAN 1 Dompu agar bisa diantisipasi lebih awal sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap para siswa.


Wakasek Kurikulum, Amar Hadi mengungkapkan saat terjadinya demo sekitar pukul 10.10 Wita dirinya berada di ruang guru usai jam mengajar. Tiba-tiba mendengar ada suara semacam lemparan mengenai atap seng di salah satu ruangan. Selang beberapa detik kemudian didengarnya lagi ada suara dentuman. Mulanya ia belum mengetahui bahwa saat itu sedang terjadi demo dan sempat menanyakan kepada guru-guru lain mengenai apa yang terjadi setelah mendengar suara dentuman itu.

Sesaat kemudian para siswa yang berada di lantai atas nampak terlihat risau. Rupanya beberapa anak merasakan perih di bagian mata akibat asap dari gas air mata yang dihembuskan oleh angin dari arah jalan raya depan Kantor DPRD Kabupaten Dompu. Namun keperihan itu tidak lama
dirasakan setelah dicuci dengan air.

Untuk melindungi para siswa, para guru menyampaikan penegasan agar berada di halaman tengah dan tidak ada yang keluar menuju halaman depan apalagi keluar dari lingkungan sekolah.

Amar menuturkan sejak masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) saat PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), pihaknya telah memperkenalkan mengenai keberadaan sekolah yang berdekatan dengan Kantor DPRD, Kantor Pemda, Kejaksaan Negeri, Dunas Dikpora dan lainnya. Tujuan pengenalan itu sebagai pembekalan itu agar mereka tidak kaget ketika mengetahui sering terjadi aksi demo. Selain itu, simulasi tentang mitigasi kebencanaan juga sering dilakukan untuk melatih siswa agar busa tenang dan tidak panik ketika menghadapi kondisi yang sulit.

Diakuinya pula tidak jarang terjadi ada pendemo yang masuk ke dalam lingkungan sekolah karena dikejar oleh aparat. 

Menurut Amar, semua yang dirasakan sebagaimana tersebut di atas memang merupakan kelemahan, namun semua itu bisa menjadi kekuatan yang positif karena akan menempa mental siswa menjadi lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan. Dengan pembekalan yang diberikan kepada para siswa membuat mereka mampu menghadapi situasi demikian itu dengan tenang. Meski demikian tidak bisa dipungkirinya ada juga siswa yang masih panik menghadapi kondisi yang demikian. Tugas guru untuk menenangkan siswa.

Akhirnya, Amar menyampaikan saran kepada Anggota DPRD maupun aparat kepolisian, bila terjadi aksi demo supaya lebih mengedepankan pendekatan persuasif dan komunikasi. 

Wakasek Kesiswaan, Dewi Kurniasih  menyebutkan saat terjadi aksi massa di hari Kamis itu bersamaan dengan jam istrahat yang pertama. Terjadinya keributan di luar memantik rasa keingintahuan para siswa sehingga ada yang berhamburan ke halaman depan. 

"Yang namanya anak-anak itu kepo-nya luar biasa pingin tau apa yang terjadi lalu ada yang lari ke halaman depan," tuturnya.

Tidak dipungkirinya bahwa selama ini lingkungan SMAN 1 Dompu mendapatkan impact (dampak) jika terjadi aksi unjuk rasa di luar. Kebisingan menjadi hal yang biasa dialami. Kendati demikian keadaan tetap kondusif. Kegiatan Belajar Mengajar juga tetap berlangsung sebagaimana biasa. 

"Memang kemarin itu kami sudah tau ada demo tapi kami tidak memprediksi ada tembakan gas air mata, cuma mungkin kemarin itu agak panas situasinya mungkin ada chaos juga kemarin tapi kami tidak bisa memastikan," sebutnya.

Dikatakannya selama ini untuk mengantisipasi terjadinya sesuatu di luar prediksi, hal yang paling menjadi fokus diperhatikan pihak sekolah adalah menjaga keselamatan seluruh siswa dengan mengamankan di halaman tengah. Termasuk saat kejadian di hari Kamis itu, pasca adanya percikan gas air mata mengenai beberapa siswa dan juga guru, maka seluruh siswa diarahkan untuk masuk ke bagian dalam dari lingkungan sekolah itu agar lebih aman.

"Ada beberapa anak yang terkena gas air mata itu ada juga guru yang kena tapi tidak merasakan perih sekali termasuk saya juga kena tetapi kami fokusnya mendorong siswa agar masuk ke dalam," kata Dewi.

Menurutnya terkait keselamatan siswa, pihak sekolah siap pasang badan. Artinya keselamatan siswa menjadi hal utama dari para guru di sekolah itu ketika terjadi sesuatu yang dianggap membahayakan. (emo).