Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kisah Syekh Abdul Karim, Berdakwah Sambil Berjualan Tembakau

Senin, 12 Juli 2021 | 3:58 PM WIB Last Updated 2021-07-12T07:58:30Z

Penulis: Satyawadhi Eksha Ozananta



Syekh Abdul Karim berasal dari Makkah dan dia datang ke Jawa Banten mencari saudaranya yang bernama Abdul Karim seperti dirinya. Lalu kata orang di Banten saudaramu itu ada di Pulaua Sumbawa. Lalu berangkatlah ia ke Pulau Sumbawa.

Syekh Abdul Karim akhirnya sampai di Kesultanan Dompu. Di Kesultanan Dompu dia mendengar suara gendang dan serune bersahut-sahutan dari kejauhan. Rupanya orang-orang sedang berkumpul di Riwo untuk memberikan persembahan kepada Parafu.

Syekh Abdul Karim memutuskan untuk berdakwah di Dompu. Walau pun Kerajaan Dompu sudah berubah menjadi Kesultanan sejak hampir 300 tahun yang lalu, namun rupanya masyarakat masih belum bisa meninggalkan adat toho ra dore di parafu (memberi sesajen kepada roh nenek moyang).

Akhirnya Syaikh Abdul Karim yang merupakan pedagang kaya mencari cara agar masyarakat Dompu yang sudah Islam mau mendalami agama Islam bersamanya dan yang belum Islam agar mau masuk Islam. Syekh Abdul Karim kemudian berdagang tembakau kepada masyarakat Dompu. Tapi dia tidak mau dibayar dengan uang. Ia hanya mau dibayar dengan dua kalimat syahadat.

Singkat cerita akhirnya banyak orang Dompu yang masuk Islam dan yang belajar Islam kepada Syekh Abdul Karim. Dia punya banyak murid. Didengarlah kabar itu oleh Ncuhi Nowa yang memerintah berpusat di Doro Nowa. Ncuhi Nowa kemudian menikahkan anaknya dengan Syekh Abdul Karim. Dari pernikahannya dengan anak Ncuhi Nowa dia mendapat seorang anak bernama Syekh Ismail. Syekh Ismail punya anak bernama Syekh Subuh.

Singkat cerita, orang Kesultanan Dompu sudah Islam semua. Lalu cucu dari Syekh Abdul Karim bernama Syekh Subuh pergi ke Kerajaan Bima untuk mengislamkan orang Bima pegunungan atau Suku Donggo. Syekh Subuh berhasil mengislamkan suku Donggo di pesisir dan dia menikah dengan gadis asal Kampung Sarita di Donggo.

Karena ketinggian ilmu agamanya, Sultan Bima mengangkat Syekh Subuh menjadi Imam di Kesultanan Bima. Tapi dia lebih suka tinggal jauh dari istana di So Nggela di Teluk Bima. Sultan meminta Syekh Subuh untuk menulis Al-Qur'an berbahasa Bima-Dompu. Lalu Syekh Subuh membuat sebuah Al-Qur'an tulis tangan yang sangat indah. 

Al-Qur'an tulis tangan itu namanya La Lino. Sekarang sudah disimpan di Museum Al-Qur'an di Jakarta. Al-Qur'an tersebut adalah mahakarya Syekh Subuh dari Dompu, NTB.

Syekh Subuh memiliki seorang anak bernama Syekh Abdul Gani. Syekh Abdul Gani dikirim untuk belajar di Jawa dan ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Di sana, Syekh Abdul Gani berhasil menjadi ulama terkenal dan menjadi guru para ulama asal Indonesia seperti Syekh Nawawi Banten.

Lanjut ke Syekh Subuh. Jiwa ulamanya terus bergelora sehingga dia melanjutkan perjalanan dakwahnya mengislamkan orang Bima yang tersisa yang belum Islam. Dia berangkat ke Gunung Lambitu dan berdakwah di sana hingga dia meninggal dan konon dimakamkan di sana.

Di Doro Nowa ada beberapa makam kuno yang merupakan makam dari Syekh Abdul Karim dan Syekh Ismail. Begitulah kisah Syekh Abdul Karim Malanda Tambaku bersama anak keturunannya. Sampai saat ini anak keturunan Syekh Abdul Karim masih hidup di Dompu. Dulu mereka dipanggil Ruma Sehe kalo sekarang tidak lagi.

Begitulah cerita Syekh Abdul Karim dari Dompu yang merupakan kakek moyang Syekh Abdul Gani berdakwah dengan berjualan tembakau. Cerita ini sangat terkenal di masyarakat Dompu dan diceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
×
Berita Terbaru Update