Dompu, koranlensapos.com - Launching Kurikulum Muatan Lokal Budaya Dompu oleh Bupati Bambang Firdaus pada Hardiknas, 2 Mei 2025 lalu menjadi babak baru lahirnya semangat bersama dalam menguatkan identitas daerah bermoto Nggahi Rawi Pahu itu. (Ulasan ini tidak bermaksud mengecilkan upaya perjuangan terhadap pelestarian budaya Dompu yang dilakukan di masa pemerintahan sebelum-sebelumnya. Sebab upaya pelestarian budaya tetap berlangsung dari masa ke masa meski bergonta-ganti kepemimpinan di Bumi Nggahi Rawi Pahu).
Launching Kurikulum Mulok menandai dukungan Pemkab Dompu terhadap perjuangan menggali dan melestarikan budaya warisan leluhur yang kian tergerus perputaran zaman. Apalagi visi pembangunan Pemkab Dompu di bawah kepemimpinan Bambang Firdaus - Syirajuddin yakni "Mewujudkan Masyarakat Dompu yang Maju, Mandiri, Religius, Berkeadilan dan Berbudaya". Pelestarian budaya menjadi salah satu poin penting dalam menjalankan roda pemerintahan di daerah berjuluk "Bumi Padompo" itu.
Sejak itu, berbagai program kegiatan dalam upaya menggali dan melestarikan budaya terus dilakukan oleh Pemkab Dompu, terutama melalui OPD terkait seperti Dinas Dikpora dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah.
Dalam bulan April 2026 ini saja, Pemkab Dompu melalui Dinas Dikpora telah menggelar Festival Literasi Budaya untuk Memperingati HUT Dompu ke 211). Kemudian menyambut Hardiknas 2026 dilaksanakan Lomba Cerdas Cermat Budaya dan Menulis Sejarah Dompu. LCC Budaya yang berlangsung di RTH Karijawa, Selasa dan Rabu (28-29 April 2026) diikuti oleh regu tingkat SD dan SMP sederajat. Sedangkan Lomba Menulis Sejarah yang berlangsung di SDN 15 pada Rabu (29/4/2026) juga diikuti pelajar SD, SMP bahkan SMA sederajat.
Sekretaris Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, Muhammad Ihsan menjelaskan lomba penulisan sejarah Dompu ini sebagai wahana untuk menumbuhkan literasi budaya bagi peserta didik pada masing-masing satuan pendidikan.
Melalui kegiatan ini untuk
mengenalkan sejarah dan budaya Dompu sejak dini pada peserta didik SD, SMP dan SMA sederajat.
"Salah satu tujuan pelaksaan lomba menulis sejarah ini untuk membiasakan peserta didik mengekspresikan sesuatu dengan berpikir dan kemudian menuangkan dalam tulisan," jelas Ihsan.
Harapan ke depan, lanjutnya, dengan adanya lomba menulis ini, akan lahir penulis-penulis muda yang fokus pada sejarah dan budaya Dompu.
"Sehingga makin menambah referensi dan khazanah wawasan generasi muda kita dalam memahami sejarah dan budaya Dompu tercinta," tambahnya.
Dikemukakan Ihsan, hasil tulisan peserta didik dapat menjadi referensi tambahan bagi pengembangan materi Kurikulum Muatan Lokal dalam pembelajaran sejarah dan budaya Dompu.
Pemerhati sejarah dan budaya Dompu, Faisal Mawa'ataho mengapresiasi kegiatan lomba menulis sejarah Dompu yang digelar Dinas Dikpora untuk pertama kalinya ini.
"Meskipun ada banyak kekurangan, namun hal itu wajar mengingat ini kali pertama diadakan," ungkap tokoh muda yang produktif menulis tentang sejarah dan budaya Dompu ini.
Selain mengapresiasi, pria yang biasa disapa Uma Seo ini, juga memberikan saran kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu untuk melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap calon-calon penulis muda berbakat di setiap sekolah. Lomba-lomba menulis tentang sejarah dan budaya Dompu harus sering dilakukan untuk pembinaan dan pengembangan bakat bagi para pelajar SD, SMP dan SMA sederajat.
Uma Seo bahkan mengusulkan agar Pemda (melalui Dinas Dikpora maupun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) untuk mengadakan lomba maupun sayembara menulis sejarah dan budaya Dompu kepada mahasiswa maupun umum.
"Lomba harus diadakan di tingkat mahasiswa dan umum untuk menghasilkan output yang lebih akademik dan berbobot. Intinya pemerintah wajib mencoba mengadakan sayembara penulisan buku sejarah Dompu," usul Uma Seo. (emo).

Komentar