Di Bima, Hegel Cuma Bisa Bilang: Ya Sudahlah… -->

Kategori Berita

.

Di Bima, Hegel Cuma Bisa Bilang: Ya Sudahlah…

Koran lensa pos
Senin, 20 April 2026

 

Muhammad Rahul Mulyanto




Oleh: Muhammad Rahul Mulyanto*


Dialektika Hegel merupakan sebuah metode filosofis untuk memahami fenomena dan perkembangan pemikiran serta realitas melalui proses-proses penyatuan dan kontradiksi, yang disebut sebagai Tesis, Antitesis, dan Sintesis. Tiga bagian inti tersebut menjadi senjata dalam pemikiran Hegel.

Singkatnya adalah Tesis sebagai ide awal, Antitesis menjadi lawan untuk menyangkal tesis, dan Sintesis merupakan penyatuan dari tesis dan antitesis. Dalam kehidupan sehari-hari, sadar ataupun tidak, mahkluk sosial akan menggunakan hal yang demikian dalam proses diskusi dan debat, percakapan antar orang di perkampungan, dan bahkan percakapan yang setiap hari berlangsung di lingkungan kelurga kecil masih-masih orang. Dengan demikian, dialektika menjadi alat untuk komunikasi sehari-hari. Namun, dialektika Hegel tidak se-sederhana itu, ia menggali lebih dalam lagi mekanisme dialektika yang ia temukan.
Dialektika secara umum diketahui hanya sebagai alat berpikir atau debat yang berujung pada kompromi dan statis. Sedangkan dialektika Hegel sebuah mekanisme perkembangan realitas dan kesadaran untuk mencapai pada tahap yang lebih tinggi dari dialektika umum. Hegel juga pada dialektikanya, gagasannya tidak statis, melainkan selalu bergerak, dinamis, dan progresif.

Oleh karena itu, bagi Hegel dialektika bukan hanya milik manusia dalam ajang perdebatan semata. Hegel membentuk gagasan ini untuk memahami cara kerja dari realitas itu sendiri.
Bayangkan, suatu hari Hegel turun dari langit-langit filsafat dan memilih untuk mendarat di daerah terpenci, yaitu, Bima, Nusa Tenggara Barat. Mungkin Hegel sudah bosan hidup terlalu lama di dunia ide yang berbelit-berbelit untuk mencari hakikat kebenaran melalui dialektikanya.

Di pelosok timur Nusa Tenggara Barat. Bima, daerah yang indah dengan pantainya, namun tujuan Hegel bukan untuk melihat dan liburan di pantai-pantai indah tersebut. Ia datang dengan tujuan yang mulia, memperkenalkan dialektika pada masyarakat Bima. Sebuah cara pandang yang menurutnya mampu membuat cara berpikir manusia naik tingkat (walau hanya satu tingkat). Cara berpikir yang ditawarkan Hegel bukan hanya sekadar alat untuk perdebatan, tetapi untuk memahami sesuatu yang diperdebatkan.
Karena karakter masyarakat Bima yang dikenal dengan masyarakat yang selalu berapi-api, maka Hegel menilai bahwa Bima menjadi tempat yang tepat. Ia mengatakan bahwa Bima penuh semangat, dialektika pasti tidak akan kekurangan bahan di daeah tersebut. Bima, tempat di mana konflik bukan hanya teori semata, melainkan sebuah rutinitas. Maka, pikirnya sekali lagi bahwa dialektika memilih tempat yang tepat untuk berlabuh.
Pada perjalanannya Hegel merasa aman ketika pertama kali menginjak tanah Bima dengan kaki dan langkah dialektikanya. Ketika ia turun dari langit-langit filsafat yang penuh dengan ide dan pencarian kebenaran, Hegel beralih dan memilih Bima untuk berlabuh serta mulai menjelaskan tentang tesis, antithesis, dan sintesis kepada beberapa orang yang sedang berkumpul di posko perkampungan. Hegel berbicara dengan penuh keyakinan dan optimis yang besa. Ia menyampaikan “bahwa setiap pertentangan seharusnya tidak berhenti pada bagian terima dan menolak, melainkan harus melahirkan sebuah ide baru yang lebih tinggi dari perbincangan sebelumnya”. Begitulah cara kerja dialektika.
Ketika Hegel selesai menyampaikan dasar dari dialektika miliknya, orang-orang mengangguk, entah karena paham atau hanya sopan dan menghargai Hegel sebagai orang intelektual. Namun, seiring berjalannya waktu optimismenya Hegel mulai memudar, karena tidak jauh dari tempat ia menyampaikan dasar-dasar dari dialektika miliknya terjadi kericuhan kecil antarwarga. Ia terkejut karena kericuhan tersebut warga memilih untuk menutup jalan dan melakukan tindakan kekerasan daripada berdialog dengan mekanisme dialektika yang ia maksud. Akhirnya ia meninggalkan tempat tersebut, sekitar tiga atau empat meter ia berjalan ia melihat mahasiswa-mahasiswa yang juga menutup jalan pada saat melakukan aksi demo di depan politikus-politikus yang tidak adil pada rakyatnya. Hegel mulai bingung dan bertanya pada dirinya sendiri dengan kalimat “di mana letak dialektika pada daerah kecil ini?”.
Dengan penuh kesadarannya, ia berkata lagi “ini pasti antithesis”. Hegel mulai menunggu sintesis muncul di tempat itu, ia terus memperhatikannya, dan keadaan justru semakin buruk, mahasiswa mulai membakar ban-ban bekas dan melarang pengguna jalan untuk melewati jalan tersebut. Sintesis tidak datang. Keputusan-keputusan yang diambil hanya mengikuti emosi semata tanpa melibatkan proses berpikir yang sehat. Sekali lagi ia tidak melihat proses dialektika pada saat itu, baik itu dialektika secara umum dan dialektika versinya. Hegel mulai panik dengan situasi yang ia lihat. Ia membuka kembali bukunya mungkin saja ada gagasan yang ia lewati atau bahkan kurang tepat untuk hidup masyarakat Bima. Namun, semakin banyak ia membaca semakin sadar bahwa isi bukunya terlalu pelan untuk menghadapi situasi yang begitu cepat terjadi. Esoknya ia mencoba dengan pendekatan lain, yaitu adaptasi dengan karakter masyarakat daan situasi yang ia lihat. Hegel tidak lagi berangkat dari dialog-dialog yang ia lakukan selama hidupnya. Hidup intelektual yang sama sekali tidak ada keserasian dengan masyarakat Bima. 
Fenomena-fenomena yang menunjukkan bahwa masalah yang terjadi tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk menyelesaikannya. Cukup dengan suara tinggi dan senjata di tangan masalah dapat diselesaikan, walaupun akan melahirkan masalah lain. Itu urusan belakangan kalau kata orang Bima. Menyelesaikan masalah dengan masalah adalah salah satu jalan ninja masyarakat Bima. Argumen terbaik bukan berarti argumen yang rasional, tetapi yang paling cepat mengakhiri sesuatu.
Menarik, itu kata yang hanya bisa ia dengar dari mulutnya sendiri. Padahal ia sedang menghibur dirinya sendiri yang sedang bingung dengan situasi yang ia lihat langsung. Terkadang suara hatinya menyuruh untuk menyerah dengan misi dialektikanya. Akhirnya, Hegel mulai memutuskan untuk tidak memawa buku dan gagasan eropanya itu, karena terlalu jauh dan terlalu modern untuk masuk ke ranah yang masih minim literasi dan gagasan kemajuan. Tesis, Antitesis, Sintesis sudah mulai hilang ditelan senja Bima yang indah. Ia duduk dan menikmati Kopi Tambora dan menarik kesimpulan sendiri, “bahwa tidak semua masyarakat membutuhkan dialektika yang idealis semacam dirinya dan kawan-kawan intelektualnya”. Di Bima ia tidak hadir sebagai orang yang membawa perubahan dan dialektika akhirnya “MATI” di DANA MA MBARI.
Hegel memilih untuk pensiun dini, tepatnya di tengah sampah-sampah Taman Amahami.
*Penulis: Mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta