Bullying, Orang Tua Bisa Mencegahnya dari Rumah -->

Kategori Berita

.

Bullying, Orang Tua Bisa Mencegahnya dari Rumah

Koran lensa pos
Jumat, 03 Oktober 2025

 

.    Firmansyah, S. Psi., MM. Kes


Oleh: Firmansyah

Bullying hingga saat ini masih menjadi masalah serius yang dicemaskan orang tua.

Orang tua kerap mendapat keluhan dari buah hatinya bahwa mereka menjadi korban bullying dari teman-temannya. Itu bagi anak-anak yang terbuka dan berani mengungkapkan perundungan yang dialaminya kepada orang tuanya. Tidak sedikit juga anak yang menutup diri dan takut melaporkan kepada orang tuanya. Ia pendam sendiri masalah perundungan yang dialami yang lambat laun berdampak terhadap kesehatan fisik dan mentalnya.

 
Mencermati banyaknya kasus perundungan yang terjadi, para orang tua akhirnya merasa tidak tenang memikirkan interaksi buah hati mereka di sekolah. Sekolah bukan lagi menjadi tempat yang nyaman bagi si anak dalam menempuh studi.

Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif dan negatif yang disengaja dan berulang-ulang, yang didasari oleh adanya ketidakseimbangan kekuatan, baik nyata maupun dirasakan, untuk menyakiti atau merendahkan orang lain.

Perilaku bullying bisa berbentuk fisik (kekerasan fisik), verbal (ucapan), sosial (mengucilkan), atau siber (melalui teknologi digital).

Dari kasus yang terjadi, pelaku bullying tidak hanya dilakukan orang dewasa. Anak remaja pun bisa menjadi pelaku bullying.

Bullying bila tidak dicegah berdampak tidak baik bagi perkembangan anak terutama dalam hal kesehatan mentalnya.

Dampak bullying pada anak sangat merusak, memengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka dengan menimbulkan kecemasan, depresi, bahkan isolasi sosial. Bullying yang terjadi juga dapat menyebabkan gangguan tidur dan makan.

Korban bullying mungkin juga akan mengalami penurunan prestasi akademik, kehilangan minat pada aktivitas, dan dalam kasus yang parah memunculkan keinginan untuk bunuh diri.

Untuk mencegah terjadinya kasus bullying di sekolah, para orang tua di rumah bisa mengingatkan anak-anaknya untuk tidak menjadi pelaku bullying. Kuncinya, orang tua harus menciptakan komunikasi terbuka dengan anak. 

Mengajarkan nilai-nilsi empati dan nilai-nilai positif, serta menjadi teladan perilaku yang baik dan sehat dari rumah juga bisa menjadi solusi untuk mencegah bullying.

Lainnya, untuk membentuk rasa kepercayaan diri anak, maka libatkan mereka dalam kegiatan sosial positif. Hal ini untuk mengembangkan keterampilan dalam berinteraksi.

Berikutnya dengan mengawasi secara seksama penggunaan media sosial dan memberikan penghargaan atas perilaku baik yang dilakukan anak.

Demikian pencerahan ini, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua terutama para orang tua dalam mencegah dan menanggulangi kasus bullying.