Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tak Disangka, Kakek Pemulung Ini Pejuang Kemerdekaan RI

Sabtu, 12 Oktober 2019 | 12:12 PM WIB Last Updated 2019-10-12T04:12:55Z
Sang Pejuang To'o M. Saleh bersama cucunya Syakban sedang beristrahat di bawah pohon mete depan Kantor Gapensi Dompu

Dompu, Lensa Pos NTB - Ternyata seorang kakek tua yang sehari-hari menarik gerobak tua di sekitar Kantor Pemda Dompu ini adalah seseorang yang pernah berjuang untuk kemerdekaan negeri ini dari cengkeraman penjajah Belanda.

Dalam obrolan dengannya saat rehat di bawah naungan pohon jambu mete depan Kantor Gapensi Dompu, Sabtu siang (12/10/2019), kakek tua yang bernama To'o ini menceritakan kisah hidupnya saat ia daerah ini diduduki penjajah Belanda dan Jepang dan selanjutnya serdadu NICA. 

Menariknya kakek yang diperkirakan berusia 91 tahun tetapi masih energik ini masih mengingat tanggal, bulan dan tahun saat kejadian-kejadian yang ia alami. Ia juga hafal nama tokoh-tokoh pejuang nasional dan pejuang di Dompu saat itu.

Saat terjadinya Perang Soriutu tahun 1942, ia berusia 14 tahun. Waktu itu ia mengikuti orang tuanya berladang di daerah Soriutu bersama petani yang jumlahnya sangat banyak bahkan ada yang berasal dari Bima. Bersama rekan-rekannya mereka diajak oleh Hama Belanda untuk menghadang satu kompi tentara Belanda dalam perjalanan dari Sumbawa menuju Bima. Saat itu para tentara Belanda ini sudah waktunya meninggalkan Indonesia. (To'o menyebut Hama Belanda ini adalah orang Potu tetapi tinggal di Buna. Karena posturnya tinggi besar dan dadanya bidang sehingga ia biasa dipanggil dengan sapaan Hama Belanda).

Taktik yang digunakan masyarakat untuk melumpuhkan pasukan Belanda saat adalah dengan menyiapkan batu-batu besar di lereng-lereng gunung di atas jalan yang dilalui kendaraan Belanda. Karena untuk menghadapi langsung tentara Belanda yang jumlahnya banyak dengan persenjataan lengkap tidak memungkinkan.

 "Belanda senjatanya lengkap sedangkan kami hanya menggunakan  bambu runcing, cila mboko (parang) dan  lira (kayu yang digunakan untuk membuat tenunan," katanya.

Ia mengungkapkan beberapa hari sebelumnya para petani sudah menyiapkan batu-batu besar di atas gunung. 

"Para wanita juga ikut membantu mendorong batu-batu besar itu bersama-sama lalu diletakkan di bagian pinggir gunung," ujarnya.

Setelah mendapatkan informasi iring-iringan tentara Belanda dalam perjalanan dari Sumbawa menuju Bima, maka di gunung-gunung di daerah Banggo dan sekitarnya masyarakat sudah bersiap-siap menunggu di atas gunung. Saat kendaraan tentara Belanda melintas, batu-batu besar itu digulingkan.

Walhasil batu-batu besar itu menutup jalan bahkan ada yang menimpa kendaraan Belanda.
Pasukan tentara Belanda dibuat kalang kabut sehingga lari kocar-kacir hingga ke persawahan warga. Para tentara Belanda itu mati diserang oleh masyarakat termasuk kaum wanita juga menyerang," ungkapnya. Meskipun usianya baru 14 tahun, To'o muda bersama teman-temannya berhasil membunuh beberapa orang tentara Belanda.

Pada tahun 1945 setelah Jepang takluk dari sekutu dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta, ternyata tentara Jepang belum meninggalkan Dompu saat itu.

"Di sini masih ada Kenpetai Jepang. Kenpetai itu polisinya orang Jepang. Kantornya di Uma Basri depan Kantor Kelurahan Potu sekarang," sebutnya.

Di kantor itu bendera Jepang masih berkibar. Karena itu To'o muda yang saat itu berusia 17 tahun memanjat tiang bendera itu untuk menurunkan bendera Jepang dan memggantinya dengan bendera Merah Putih.

"Setelah saya pasang bendera Merah Putih, saya turun bendera Jepang saya lipat rapi lalu saya serahkan kepada Kenpetai Jepang," tuturnya.
Ia menambahkan adanya bendera Jepang itu dilipat rapi dan kemudian diserahkan kepada Kenpetai Jepang sebagai tanda penghormatan atas kebaikan mereka saat itu. "Apalagi orang Jepang itu sudah somba (takluk) harus diperlakukan dengan baik juga," ucapnya.

 Ia mengatakan tentara Jepang saat itu berlaku baik di Dompu suka memberikan makanan kepada anak-anak. Meskipun ada sisi buruknya juga yaitu kalau melihat gadis cantik akan dibawa meskipun di depan orang tuanya.
Sehingga saat itu setiap anak gadis disuruh makan sirih pinang agar tidak menarik dalam pandangan tentara Jepang.

Mengenai bendera merah putih yang ia pasang di depan Kantor Kenpetai Jepang di Potu itu, kakek yang biasa dipanggil Pande ini menyebut bendera itu dijahit tangan oleh bapak M. Saleh Zakaria.
"Saleh Zakaria itu pimpinan kami beliau yang menjahit bendera itu dengan tangannya," kenangnya.

Saat ini To'o tinggal bersama iatrinya di kaki gunung Para Pimpi Kelurahan Potu Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu (sebelah selatan Jembatan Rabalaju). Setiap hari ia kerap terlihat mendorong gerobak bersama cucunya, Syakban (murid kelas 3 di SDN 05 Dompu). (AMIN).

×
Berita Terbaru Update