Semakin
berkembangnya tradisi buka puasa gratis di masjid-masjid menghidupkan bisnis
makanan. Pemesanan nasi kotak meningkat drastis untuk berbuka dan sahur. Hal
ini juga menunjukkan semakin tingginya kemampuan dan preferensi sebagian masyarakat
untuk berbagi. Setelah pelaksanaan shalat Tarawih, permintaan makanan dan
minuman juga naik.
Tradisi buka
puasa bersama yang dilakukan setiap hari sepanjang bulan Ramadhan merupakan
contoh penambahan jam bersosialisasi sekaligus peningkatan belanja makanan.
Tradisi ini juga meningkatkan permintaan akan jasa transportasi. Mal dan
restoran memperpanjang jam operasional malamnya. Fenomena diatas adalah salah satu gambaran
sederhana bahwa momentum Bulan Suci Ramadhan memberikan “energi” dan jika
dikaji secara ekonomi mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar. Inilah yang
kemudian disebut “Ramadhanomics”.
Ramadhan
memang bulan penuh berkah. Tidak hanya secara spiritual tetapi berkah secara
ekonomi. Bagi seluruh umat manusia.
Bukan hanya semata mata umat muslim. Seorang ekonom dalam blognya menulis
artikel Stimulus Bulan Suci Ramadhan dalam pola konsumsi.
Shelina
Janmohamed, penulis buku Generation M: Young Muslims Changing the World, menyimpulkan bahwa bulan Ramadhan mengubah
keseluruhan gaya hidup yang membawa dampak ekonomi positif. Janmohamed,
konsultan pemasaran Ogilvy Noor, dalam risetnya, “The Great British Ramadan”,
memperkirakan kenaikan permintaan 200 juta poundsterling setiap Ramadhan yang
meliputi pembelian financial planning dan asuransi,
makanan, baju, mainan, dan berbagai hadiah.
Dalam data
BPS setiap Bulan Ramadhan hingga jelang bahkan pasca Idul Fitri, pasti dikuti
oleh kenaikan harga harga barang dan inflasi rata rata mencapai 0,7%. Ini artinya
bisa dipastikan siapapun, usaha apapun, yang penting halal tentunya, di Bulan Ramadhan pasti akan mengeruk
keuntungan yang relatif lebih besar dari
bulan bulan selain Bulan Ramadhan. Menjadi “mendadak kaya”. Industri retail mencatat
kenaikan omzet 300%. Termasuk juga peranan ekonomi informal, PKL, dengan
penjualan takjil, kue lebaran dadakan. Jangan lupa pula, fenomena budaya mudik.
Secara hitungan gampang gampangan, jika saja diprediksi jumlah pemudik naik
10-15% tahun ini. Menurut data Kementerian Perhubungan RI secara keseluruhan
nasional jumlah pemudik lebaran 2018 diprediksi 19,5 juta orang. Dengan asumsi
jika saja satu orang membawa Rp. 2.000.000,- untuk transportasi saja, maka
total uang yang beredar Rp. 39 Triliun. Sebuah angka yang luar biasa.
Belum lagi kebutuhan
uang tunai selama Ramadhan dan Idul
Fitri tentu meningkat tajam. Bank Indonesia (BI) bakal menyiapkan tambahan uang
tunai sebesar Rp 167 triliun guna mengantisipasi melonjaknya permintaan uang
tunai jelang ramadan dan perayaan Idul Fitri 1438 H. Jumlah itu naik sekitar 14
persen dari jumlah tambahan uang beredar pada periode yang sama, yakni Rp146
triliun. Hampir terlupakan pula, potensi ekonomi umat yang terhimpun dalam
kewajiban Zakat sabagai bagian yang tidak terpisahkan dalam ibadah wajib di
bulan Ramadhan. Data Bimas
Islam Kementerian Agama RI menyebutkan, berdasarkan penelitian data terdahulu
potensi zakat nasional mencapai Rp 217 trilliun, namun yang baru terkumpul
hanya 0,2% atau Rp 6 triliiun per tahun. Inilah potensi kekuatan ekonomi
bulan Ramadhan. Masya Allah.
Segelas Cendol bagi Ekonomi
Kota
Jika saja 1
% dari nilai Rp.167 T itu mampir dan berputar di wilayah kota seperti Kota
Mataram, kota kecil dan heterogen ini, atau sekitar 1,67 T berarti lebih besar
dari APBD kota Mataram Tahun 2018 yang hanya sebesar 1,4 Triliun. Maka tentu
saja aktivitas ekonomi kota setidaknya harus menjadi berkah dan kenikmatan bagi
warga kota secara keseluruhan. Makanya jangan anggap remeh kekuatan pedagang
informal dan PKL yang mendadak menjamur. Jika 4000 PKL diasumsikan beromzet Rp.100.000
saja perhari maka Rp.400 juta uang
bertebaran di pusat pusat keramaian dan sepanjang jalan kota di setiap sore dan
malam hari selama Bulan Ramadhan. Maka
sesungguhnya ide even wisata religi “Festival
Pesona Khasanah Ramadhan” yang dipusatkan salah satu ikon kota ini yaitu
Masjid Hisbul Wathan Islamic Center adalah salah satu upaya upaya kreatif dalam
menangkap sedikit potensi dan peluang besar tersebut. Stand Kuliner khas,
pakaian muslim dan berbagai komoditas lainnnya telah menyatu dalam kekhusukan
malam taraweh malam Ramadhan. Dalam skala yang jauh lebih besar, hal ini meniru
kekuatan ekonomi Kota Makkah dan Madinah dalam promosi “Umrah Ramadhan” nya.
Ratusan ribu dan Jutaan umat muslim berduyun duyun mengunjungi Rumah Allah yang
tentu saja dengan berbekal segepok mata uang dari masing masing negeri dari
penjuru dunia. Pahala diobral. Uang bertebaran.
Lebaran rasa Pilkada
Satu hal
yang memicu Ramadhan dan Lebaran tahun ini sedikit unik adalah ada aroma politik
dalam obrolan selepas taraweh dan menunggu buka. Pilkada serentak semakin
memperkaya warna berbeda Ramadhan tahun ini. Transaksi ekonomi dan peredaran
uang nampaknya beririsan dengan biaya dan transaksi politik yang dipicu oleh
perhelatan agenda politik daerah tak lama setelah lebaran Idul Fitri. Aroma
politisasi dalam bingkisan lebaran sepertinya tak terelakan. Silaturahmi
keluarga dan reuni angkatan sekolah pasti terselip pesan pesan politik. Semua
calon tentu sudah menebar pesona dengan mengatur stamina dan amunisi di momen
lebaran ini. Ibarat perhelatan pilkada adalah sebuah lari marathon, maka
lebaran adalah sprint 100 meter
terakhir untuk mencapai garis finis. Sangat menentukan hasil akhir dari proses
perjuangan panjang yang menghabiskan semua energi dan kekuatan yang ada.
Ramadhanomics: Godaan
Meraih Lailautul Qodar?
Tak
diragukan lagi kekuatan ekonomi di Bulan Ramadhan. Dahsyat dan mencengangkan.
Dan akan makin menggila di hari hari menjelang Bulan menjelang Idul Fitri di
penghujung Ramadhan. Di sisi lain dahsyatnya kekuatan Ramadhanomics jangan
sampai juga melalaikan dengan Bonus 10 hari terakhir Ramadhan dengan Malam
Lailatul Qadr-nya.
Indahnya
Ramadhan, subhanallah. Hanya dengan
perintah beberapa ayat perintah di kitab suci Alquran, geliat ekonomi kota, ekonomi lokal bahkan
ekonomi dunia bergerak. Nikmat mana lagi
kau dustakan? Selamat menjalankan ibadah puasa dan berbuka dengan lezatnya
jajajan PKL, es cendol di teras megahnya menara IC, sambil menanti turunnya
malam lailatul qadar. Maha Besar
Allah yang maha pengasih dan pemberi rejeki.
(Penulis adalah ASN pada Pemkot Kota Mataram,
Pengurus DPW LDII NTB)

Komentar