Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KELOR, BUNG NASRIN DAN PARAMAKARYA 2021

Sabtu, 20 November 2021 | 4:07 PM WIB Last Updated 2021-11-20T08:07:56Z

 Oleh : Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M. Si*

     Sekda NTB Drs. L. Gita Ariadi, M. Si bersama Owner CV. Tri Utami Jaya, H. Nasrin H. Mukhtar usai menerima penghargaan Paramakarya 2021


Gara-gara ketemu Bung Nasrin - pengusaha teh kelor kidom ( CV. Tri Utami Jaya ), di Grand Sahid Hotel Jakarta kemaren ( 18/11/2021 ),  kami ngobrol panjang tentang kelor ( moringa oliefera ).

Bukan sembarang ngobrol. Tapi kisah  kelor yang  mengantar Bung Nasrin mendapat PARAMAKARYA AWARD 2021 dari Menteri Tenaga Kerja yang diserahkan oleh Wakil Presiden Republik Indonedia - Prof KH. Ma'ruf Amin. 

Obrolan menjadi menarik karena nimbrung Ibu dr. Ety Kumolowati,  Staff Ahli Gubernur DIY bidang sosial kemasyarakatan. Kami orang jawa tidak makan kelor. Kelor itu digunakan untuk mandikan mayat. Kelor konon untuk  lumpuhkan tuah kesaktian kata dr Ety sembari tersenyum.

Bung Nasrin spontan menimpali. Berarti kami lebih sakti bu. Dari kecil sampai setua ini saya tetap makan kelor. Kesaktian saya tidak luntur-luntur. Malah dengan makan dan minum teh kelor saya makin sakti. Bisa dapat PARAMAKARYA AWARD 2021. Kata Bung Nasrin sambil tersenyum penuh kesyukuran. 

Kebetulan,  dari seorang rekan yang bergelar Profesor di Malang  sayapun pernah dapat cerita mistis kelor itu. Kelor jadi pembersih bagi mereka yg memiliki black magic. Saya lahir di Banyuwangi. Kenal dengan  santet juga susuk untuk tampil memikat. Kelor biasanya dihindari untuk dimakan. Mungkin takut santet dan susuknya memudar.

Kelor ditanam dimuka rumah untuk tolak black magic. Kelor Digunakan memandikan mayat. Bila di badan jenazah ada susuk atau black magic lainnya akan  keluar dari tubuh mayat. Karenanya orang jawa tidak makan daun kelor. 

Orang jawa  masih ada yang percaya. Tapi saya sendiri sekarang sering makan kelor untuk sayur dan biasa disiapkan di keluarga saya. kata mas Profesor itu. 

Itulah kekayaan khasanah budaya nusantara. Tiap daerah/suku punya mitosnya sendiri. Di beberapa daerah/suku, termasuk orang sasaq lomboq ada yang percaya khasiat pohon bidara-buaq gol yang sama seperti daun kelor bagi orang jawa.
Pohon gol atau bidara ada yang meyakininya bisa mengusir makhluk halus. Peluntur ilmu. Sering digunakan untuk mandikan mayat. Saya juga menanam beberapa pohon. Tujuannya simple. Kalo ada yang cari tinggal diberikan. 
Namun seiring berjalannya waktu,  lambat laun mitos itu kian memudar.

Dari berbagai litetatur, kini kita paham betbagai kandungan nutrisi kelor melebihi kedelai misalnya. Digunakan untuk perempuan yang menyusui, namun tidak lancar air susunya.

Kelor mengandung vitamin B6, vitamin B2, vitamin C, vitamin A, zat besi, dan magnesium. Daun kelor juga mengandung protein nabati. Satu mangkuk daun kelor (sekitar 21 gram) mengandung protein 2 gram. Berbagai riset tentang khasiat daun kelor kini terus berkembang.

Sebagai bahan makanan dan minuman, daun kelor berkhasiat bagus. Pasaran kelor dijawa kini cukup bagus kata Mbak Yetty seorang teman di Surabaya yang mengaku sebagai agen yang  ikut memasarkan produk Moringa  Lombok di Jawa Timur. Omzetnya lumayan juga untuk ukuran UMKM. Tapi sekarang ada UMKM di Jogja sebagai pesaing kelor Lombok.

Kelor kini jadi primadona. Apakah itu yang membuat Bung Nasrin tertarik berbisnis teh kelor Kidom dari awal ?

Ternyata tidak. Bisnis ini hanya kecelakaan saja katanya. Memang sejak tahun 1993 - 2016, Bung Nasrin  usahanya membuat jamu. Ini tentu tak lepas dari perjalanan hidupnya yang setamat SMP  ( usia 16 tahun ),  Nasrin kecil sudah merantau ke Makassar. Bekerja sebagai cleaning service di sebuah perusahaan jamu.
Tahun 2016, usaha jamunya mengalami kendala. 

Januari 2016, Bung Nasrin bertemu mitra/buyer dari Jerman. Sanggup beli daun kelor kering setiap bulan 1 ton. Karena sudah miliki alat procesing jamu, Bung Nasrin  menawarkan daun kelor untuk digiling  menjadi bubuk. Si Buyer setuju. Bulan Maret 2016
perjanjian disepakati.  Namun ketika akan pengiriman ke Jerman, si buyer hilang kontak. Kecewa dan pusing tujuh keliling itu pasti. Tapi saya tidak mau putus asa. Saya berpikir dan mencoba lagi, cerita bung Nasrin.

Juni 2016 Bung Nasrin mudik  lebaran ke kilo Dompu ( Kidom ). Ternyata disana sudah banyak kelor kering di masyarakat. Muncul ide memproduksi Teh daun kelor.

Perjuangan usaha kelor ini tidaklah mudah. Cibiran, pesimisme dan larangan bertubi-tubi. Bisnis kelor dipandang sebelah mata dan tidak marketable. Dari 10 teman yang saya tanya, 8 orang diantaranya tidak mendukung. Buang-buang uang dan waktu saja, katanya. 

Bung Nasrin -  rupanya tidak mau menyerah. Prinsip hidupnya yang harus FOKUS, KREATIF, INOVATIF dan jadilah  MASTER mengharuskannya untuk terus maju.

Dalam kondisi terpuruk, terlebih tibanya era covid 19, tak menyurutkan tekadnya untuk maju. Sisa dana yang dimiliki pengusaha kelahiran dompu tahun 1972 ini ingin investasi beli mesin untuk bisnis kelornya. Tentangan makin keras. Ibaratnya,  dari 10 teman yang saya tanya, 15 orang menentang. Semua teman tidak mendukung dan  menolak, tapi saya terus lanjutkan ikhtiar.

Saya yakin Allah SWT pasti punya rencana yang terbaik. Tak diduga tak dinyana, di era covid 19 yang sangat sulit itu saya justru mendapat limpahan rakhmat yang luar biasa, kata Bung Nasrin. 

Kebijakan Bapak Gubernur dan Ibu Wakil Gubernur NTB, untuk memasukkan produk dan komoditi lokal sebagai isi paket JPS Gemilang benar-benar membantu kami para UMKM  survive. Teh kelor, minyak kelapa, minyak kayuputih/minyak atsiri, jajan kering, Teri, ikan asin,  ikan kering, telur, beras, garam, sabun cuci tangan yang merupak produk UMKM lokal memang menjadi isi paket JPS Gemilang I, II, III maupun JPS Gotong Royong. Tak satupun barang pabrikan dibeli untuk isi paket JPS Gemilang meski harganya mungkin lebih murah,  kualitas dan kemasannya lebih bagus. 

Kita harus serap produk UMKM  lokal agar mereka survive. Meski harganya sedikit lebih mahal, kualitas nya lebih rendah tapi itulah affirmative policy dan learning cost proses industrialisasi. Suatu saat kita bisa hasilkan produk yang berkualitas dan harga yang bersaing, kata Gubernur NTB - Dr. H. Zulkiefliman
syah SE MSc. yang basis ilmunya memang  Ekonomi Industri.

Dengan wajah yang serius, Bung Nasrin berterima kasih kepada pemprop NTB yang telah menyerap produknya di masa pandemi covid 19. Kebijakan itu membuat kami survive dan bisa meninglatkan omzet meski dalam situasi sulit akibat pandemi covid 19.

Kemampuan bertahan dan meningkatkan produktivitas 3 tahun berturut-turut termasuk 2 tahun di era pandemi covid 19 ini, berbuah manis dengan diraihnya PARAMA AWARD 2021 ini.

Selain Bung Nasrin, Gubernur  NTB juga meraih Penghargaan serupa. Pemprop NTB berada pada posisi 15 dari 24 provinsi penerima PARAMAKARYA 2021. 

Terpilihnya pemprop  NTB  tidak lepas dari peran Pemprop yang hadir memfasilitasi, mendorong dan membina UMKM melalui program industrialisasi. Program industrialisasi melahirkan banyak UMKM baru di mana produk-produknya bisa bersaing di tingkat provinsi,  nasional bahkan export.

PARAMAKARYA AWARD 2021 adalah kado manis jelang 63 tahun usia NTB  tanggal 17 Desember 2021 mendatang. Dirgahayu NTB. 
(*Penulis adalah Sekretaris Daerah Provinsi NTB).
×
Berita Terbaru Update