Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketiadaan Pupuk di Pasaran Kembali Dikeluhkan Petani

Jumat, 25 Desember 2020 | 7:49 AM WIB Last Updated 2020-12-24T23:49:01Z


Dompu, koranlensapost.com - Saban tahun sejak program jagung digulirkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu, petani selalu mengeluhkan kesulitan untuk mendapatkan pupuk. Terutama pupuk urea dan NPK bersubsidi. 
Keluhan yang sama kembali berulang di penghujung tahun 2020 ini. Tanaman jagung sudah setinggi betis, tetapi pupuk yang dibutuhkan belum tersedia.

Melalui usulan kelompok tani sudah pula diajukan kepada pengecer sebagai syarat permintaan ke pihak distributor. Namun itu pun masih menunggu. Penantian yang tak pasti.
"Katanya bulan Januari (2021) baru ada pupuk," ungkap salah seorang petani setelah mendatangi kembali ke pihak pengecer untuk yang ke sekian kalinya.

Bukan hanya petani jagung, petani padi di sawah juga keluhannya sama. Tanaman padi membutuhkan pupuk untuk menunjang pertumbuhan dan peningkatan produktivitas, tetapi pupuk yang dicari tak jua didapatkan. Harapan hampa. Ibarat kata pepatah jauh panggang dari api. 

Tetapi di balik keluhan sebagian petani tentang ketiadaan pupuk ini, juga memunculkan keheranan. Seperti diungkapkan oleh seorang petani jagung asal Kelurahan Simpasai. Ia mengaku heran karena pupuk tidak ada di tingkat pengecer. Tetapi ia mengaku setiap hari melihat pupuk dalam jumlah ton-tonan diangkut menggunakan truck.
"Katanya tidak ada pupuk, tapi kenapa setiap hari ada truck memuat pupuk ? Lalu pupuk-pupuk itu dibawa ke mana ?," ujar petani itu heran.

Sementara itu, Direktur CV. Santya Makmur Kelurahan Montabaru Kecamatan Woja Kabupaten Dompu Rifaid yang sempat dimintai tanggapan oleh wartawan terkait persoalan pupuk tersebut juga merasa kasihan dengan petani yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pupuk.
Salah satu distributor pupuk urea Kaltim yang melayani Kecamatan Woja dan Kilo ini mengaku bahwa kuota pupuk bersubsidi memang masih jauh dari kebutuhan petani.
"Kuota pupuk kita dari 11 ribu naik menjadi 20 ribu lebih ton itu pun belum cukup. Baru cukup itu sekitar 35 ribu ton. Tapi yang lebih tahu masalah ini sebenarnya Kepala Dinas (Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu,red). Lebih bagusnya tanyakan beliau saja," ujarnya sembari mengarahkan wartawan mengonfirmasi Kadistanbun Dompu. 

Dikatakannya alur distribusi pupuk dari Distributor ke Pengecer berdasarkan usulan kebutuhan yang diajukan oleh Kelompok Tani kepada Pengecer. Selanjutnya surat tersebut dilanjutkan ke Distributor sebagai acuan untuk distribusi pupuk. Namun itu pun melalui proses. Tergantung ketersediaan pupuk yang disuplai oleh perusahaan berdasarkan kuota yang telah ditetapkan.

"Saat ini memang pupuk urea lagi kosong. Pupuk non subsidi juga sudah habis dibeli oleh petani. Saya sendiri mau pupuk padi juga belum ada pupuk," akunya sembari berharap semoga bulan Januari 2021 pihak perusahaan sudah mengirim pupuk ke Dompu.

Ketika ditanyakan apakah ada kemungkinan pengecer 'nakal' dengan memainkan harga pupuk atau menjual kepada selain kelompok tani ?
Rifaid mengaku belum mendapatkan informasi tersebut. Ia mengatakan setiap 4 (empat) bulan sekali perwakilan dari Pupuk Kaltim mengontrol dan tetap memantau kinerja para pengecer. Dari 19 pengecer yang ada di Kecamatan Woja dan Kilo, pihaknya belum mendapatkan laporan atau pengaduan dari masyarakat adanya pengecer yang 'nakal'. 
"Hingga saat ini kami belum mendapat laporan. Kalau ada yang seperti itu akan ada surat dari Dinas Perdagangan (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten.Dompu,red) yang akan melayangkan surat teguran dan akan disampaikan kepada kami," ujarnya.

Untuk mengatasi kesulitan pupuk, Rifaid juga menyarankan kepada petani untuk manfaatkan alternatif. Salah satunya dengan menggunakan pupuk organik. Ia mengatakan reaksi pupuk organik memang tidak secepat dan seefektif pupuk kimia. Tetapi pupuk organik juga cukup efektif untuk mengembalikan unsur hara yang terkandung di dalam tanah.
"Karena kita sudah terus-terusan memakai pupuk kimia, maka unsur hara tanah hilang. Sehingga tingkat kesuburan tanah semakin berkurang," paparnya.

Alternatif lain yang ia sarankan adalah dengan mengistrahatkan lahan setahun atau dua tahun guna mengembalikan unsur hara tanah. 
"Bila tanah memiliki banyak unsur hara, maka tanah akan subur sehingga akan mengurangi kebutuhan terhadap pupuk," pungkasnya. (AMIN).

×
Berita Terbaru Update