Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketika Sanggar Melepaskan Diri dari Dompo

Sabtu, 11 Juli 2020 | 12:36 PM WIB Last Updated 2020-07-11T05:05:04Z
Oleh : Faisal Mawa'ataho*


Kecamatan Sanggar dahulunya merupakan sebuah kesultanan kecil yang terletak di sebelah utara Kesultanan Dompo (Dompu) dan berpusat di Kore. Pada mulanya Sanggar merupakan bagian dari Kesultanan Dompo, namun berhasil melepaskan diri dari Dompo dengan bantuan Kesultanan Gowa-Tallo (Makassar). Sanggar memanfaatkan invasi Makassar ke Pulau Sumbawa tahun 1600-an dengan berpihak pada Makassar. Sebagai gantinya, Sanggar dimerdekakan dari Dompo yang saat itu diperintah oleh Sultan Jamaluddin (1590-1627).
Hal ini menjelaskan mengapa dalam struktur Kesultanan Dompo, ada sebuah Jabatan bernama ‘Bumi Kore. 'Bumi Kore merupakan penghubung wilayah Kore (Sanggar) dengan pusat kekuasaan Kesultanan Dompo (Saleh, Sekitar Kerajaan Dompu, 1985: hal. 78).

Masyarakat Sanggar, sebagian dari mereka, telah melihat dalam kedatangan orang-orang  Makassar terdapat kesempatan yang tak disangka-sangka untuk meraih kebebasan. Berdasarkan laporan dari Cornelis Spelman, sebelum dikuasai oleh Makassar, Sanggar tunduk dan patuh pada Dompo. Sebagai hadiah atas sikap Sanggar yang kooperatif, pada faktanya orang-orang Makassar membebaskan mereka dari Dompo (J. Noorduyn, Makasar and the Islamization of Bima dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 143, no: 2/3, 1987: hal. 320).

Ketika Makassar pertama kali menyeberang ke sini (Pulau Sumbawa, pen) dengan pasukannya, penduduk Sanggar segera dan tanpa menunda-nunda menyatakan tunduk dan bergabung dengan mereka, akibatnya penduduk Sanggar dinyatakan sebagai wilayah yang bebas dan merdeka, dinyatakan sebagai sekutu dari Makassar, tidak dibebani kewajiban untuk membayar upeti dan tidak pula diharuskan memiliki orang (bangsawan) yang akan tinggal di Makassar untuk melayani Sultan Gowa, kecuali jika terjadi perang atau ekspedisi besar (Speelman Notitie (1669), Algemeen Rijksarchief VOC 1166f . 886v dalam J. Noorduyn, 1987: hal. 320).

Menurut Noorduyn, penyebab pasukan Makassar memilih Sanggar sebagai titik infiltrasi ke Pulau Sumbawa bagian tengah adalah disebabkan oleh posisi geografis Sanggar yang strategis di Teluk Sanggar. Sanggar adalah pintu masuk paling mudah untuk menyerang Dompo. Selain itu, Makkassar memanfaatkan kondisi Sanggar yang sedang tidak akur dengan induknya, Kesultanan Dompo (Noorduyn, 1987: hal. 320).

Menurut lontara Gowa, rakyat Sanggar diberi kebebasan oleh Makassar sedangkan penduduk kerajaan-kerajaan lain yakni Kesultanan Dompo, Kerajaan Blma, Kerajaan Sumbawa, Kerajaan Papekat, dan Kerajaan Tambora dianggap sebagai budak dari raja Gowa-Tallo, yakni Sultan Alauddin (ibid, hal. 317). Dompo, yang telah menjadi sebuah kerajaan Islam (kesultanan) sejak naik tahtanya Sultan Syamsuddin (1545-1590) dianggap sebagai “budak” dari Makassar dengan sejumlah konsekwensi.

Konsekwensi itu yakni Dompo diwajibkan memberikan bantuan militer kepada Makassar ketika dibutuhkan dan kewajiban menyerahkan upeti tahunan. Sebenarnya ada juga kewajiban untuk menyerahkan salah satu putera raja untuk menjadi pelayan Sultan Gowa di Makassar. Namun menurut penulis, hal ini tidak lagi diperlukan karena sejak tahun 1619 (angka tahun ini merujuk kepada Lontara Gowa. Lihat Haris (1997), hal. 27. Angka tahun ini bertentangan dengan angka tahun di dalam Bo Sangajikai Bima), sejak tahun tersebut Pangeran Sirajuddin (anak dari Sultan Syamsuddin) dari Dompo telah berada di Makassar bersama La Ka’i (pangeran dari Kerajaan Blma). Sirajuddin adalah sepupu La Ka’i dan ikut bersama La Ka’i yang diselamatkan ke Makassar dari incaran pamannya Sangaji Mbojo La Salisi Mantau Asi Peka yang ingin membunuhnya. Sirajuddin telah dididik di Makassar untuk menjadi “orang” Makassar di Kesultanan Dompo.

Menurut penulis, peristiwa invasi Kesultanan Gowa-Tallo ke Kesultanan Dompo terjadi pada tahun 1627. Asumsi ini berdasarkan dua alasan: Alasan pertama bahwa sejak 1619 Pangeran Sirajuddin telah dididik dan dipersiapkan di Makassar untuk menjadi Sultan Dompu yang pro Makassar (sedangkan kakaknya, Sultan Jamaluddin yang saat itu berkuasa, terindikasi memiliki sikap anti Makassar. Tidak mau menjadi bawahan Makassar dan membantu Sangaji Mbojo Salisi Mantau Asi Peka untuk melawan Makassar.). Alasan kedua, menurut catatan Belanda, tahun 1627 adalah tahun berakhirnya kekuasaan Sultan Jamaluddin sekaligus tahun naiknya Pangeran Sirajuddin menjadi Sultan Dompu ketiga. 

(*Penulis adalah pemerhati sejarah budaya Dompu dan Bima).


×
Berita Terbaru Update