Material Tak Dibayar PT. NK Seorang Suplayer di Saneo Sampai Cerai dengan Istrinya

Kategori Berita

.

Material Tak Dibayar PT. NK Seorang Suplayer di Saneo Sampai Cerai dengan Istrinya

Koran lensa pos
Kamis, 05 September 2019
Para suplayer duduk di emperan Gedung DPRD Dompu usai mengadukan penundaan pembayaran material oleh PT. NK, Kamis siang (5/9) ini
Dompu, Lensa Pos NTB -  Akibat material pasir yang disuplai untuk pembangunan Tahap II Dam Rababaka Komplek (RBK) tidak dibayar oleh pihak Pelaksana PT. Nindya Karya (NK), seorang warga Desa Saneo, Herman harus bercerai dengan istrinya.
Hal itu diungkapkan oleh Naufal Arif dari Gempar kepada media ini di Halaman Gedung DPRD, Kamis siang (5/9).
"Bukan hanya cerai dengan istrinya, Herman juga rumahnya disita orang karena hutangnya tidak mampu dibayar. Ini gara-gara pihak PT. NK tidak membayar material pasirnya sekitar 90 juta " ungkap Arif.
Bukan hanya Herman yang kecewa dengan sikap PT. NK, tapi juga ada beberapa orang lainnya yang menjadi suplayer pemasok pasir di proyek tersebut.
Di antaranya ada 4 orang lagi, yakni Fasul, Oma, Makruf, dan Irwansyah.

"Kami berempat ini telah memasukkan pasir 1.689 m3 dengan nilai uang Rp. 387 juta," ungkap Fasul, salah satu suplayer mewakili rekan-rekannya.

Fasul mengatakan mereka sudah melakukan penagihan kepada perusahaan tersebut agar hak mereka segera ditunaikan. Bahkan berkali-kali melakukan pertemuan di Gedung DPRD yang dimediasi oleh para anggota DPRD Kabupaten Dompu, juga dimediasi oleh Kapolres dan Dandim 1614 Dompu. Tetapi faktanya hingga kini belum ditunaikan juga.

"Waktu pertemuan di DPRD tanggal 19 Agustus lalu janji dari Pak Andi Humas PT. NK seminggu lagi akan dibayar. Setelah itu dia minta undur lagi kami sabar menunggu sampai sekarang. Kesabaran kami sudah sampai pada puncaknya," kata Fasul.

Ia mengatakan setiap hari mereka bertengkar dengan istri di rumah gara-gara penundaan pembayaran dari PT. NK ini.

"Uang kami bukan sedikit ini. Satu orang rata-rata 90 juta," kata Fasul sembari mendesak agar perusahaan tersebut segera melunasinya.

"Kami setiap hari bolak-balik ke DPRD ini meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib kami ini. Kami sudah 3 bulan terlunta-lunta seperti ini. Kalau pulang ke rumah bertengkar terus dengan istri. Belum lagi kami ini dikejar-kejar oleh rentenir karena belum bisa bayar utang," ucapnya kecewa. (AMIN)