MOHAMMAD HATTA Sang Proklamator, Wakil Presiden Pertama, dan Bapak Koperasi Indonesia -->

Kategori Berita

.

MOHAMMAD HATTA Sang Proklamator, Wakil Presiden Pertama, dan Bapak Koperasi Indonesia

Koran lensa pos
Rabu, 19 Agustus 2026

 


Pendahuluan

Mohammad Hatta adalah salah satu tokoh yang sangat menentukan lahirnya Republik Indonesia. Ia berdiri di samping Soekarno ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sehari kemudian, Hatta ditetapkan sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Menyebut Hatta hanya sebagai "Wakil Presiden pertama" sebenarnya terlalu sederhana. Ia adalah seorang pemikir, organisator, pejuang kemerdekaan, diplomat, ekonom, pendidik, negarawan, dan tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap kehidupan rakyat kecil.

Bersama Soekarno, Hatta menjadi salah satu Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Naskah Proklamasi yang dirumuskan pada dini hari 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Tadashi Maeda merupakan hasil pemikiran Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo. Dalam rumusan tersebut, Hatta turut memberikan gagasan penting mengenai pemindahan kekuasaan.


1. Masa Kecil di Bukittinggi

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902.

Nama yang diberikan ketika lahir adalah Muhammad Athar. Ia berasal dari keluarga Minangkabau yang mempunyai latar belakang keagamaan dan perdagangan. Ayahnya, Muhammad Djamil, meninggal ketika Hatta masih sangat kecil, sehingga Hatta tumbuh terutama dalam pengasuhan ibunya dan keluarga besarnya. Lingkungan Minangkabau memberikan pengaruh besar terhadap kepribadiannya.


Dalam masyarakat Minangkabau, tradisi merantau, pendidikan, musyawarah, perdagangan, dan kehidupan surau memiliki tempat penting. Hatta kemudian tumbuh menjadi pribadi yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, kemandirian, disiplin, dan kehidupan bermasyarakat.


Sejak muda, ia telah memperlihatkan kemampuan berorganisasi. Ia pernah aktif dalam Jong Sumatranen Bond dan dipercaya menangani urusan keuangan organisasi.Pengalaman tersebut kelak sangat berguna ketika ia terjun ke dunia pergerakan nasional.


2. Pendidikan: Senjata Utama Hatta

Hatta tidak menjadikan pendidikan hanya sebagai sarana memperoleh pekerjaan.Baginya, pendidikan adalah alat untuk membangun kesadaran. Ia menempuh pendidikan dasar di Padang dan kemudian melanjutkan pendidikan di Batavia. Pada 1919 ia memasuki Prins Hendrik School, sekolah dagang di Batavia.

Pada 1921, Hatta berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan perdagangan di Nederlandsch Handels-Hoogeschool di Rotterdam. Ia tinggal di Belanda sekitar sebelas tahun.

Periode Belanda merupakan salah satu fase terpenting dalam pembentukan pemikiran Hatta. Di sana ia tidak hanya belajar ilmu ekonomi dan perdagangan. Ia belajar politik. Ia membaca berbagai pemikiran tentang demokrasi, sosialisme, nasionalisme, kolonialisme, dan perjuangan bangsa-bangsa yang tertindas. Dari sinilah Hatta berkembang dari seorang pelajar menjadi seorang intelektual pergerakan.


3. Perhimpunan Indonesia dan Perjuangan dari Belanda

Di Belanda, Hatta aktif dalam organisasi mahasiswa Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia.

Organisasi ini menjadi salah satu pusat pemikiran nasionalisme Indonesia di Eropa.

Hatta kemudian dipercaya menjadi pemimpin organisasi tersebut.

Ia menggunakan organisasi dan media sebagai sarana untuk memperkenalkan gagasan bahwa Indonesia harus menentukan nasibnya sendiri.

Hatta juga menghadiri kongres internasional yang membahas kolonialisme dan imperialisme.Pengalaman internasional tersebut membuat wawasan politiknya semakin luas. 


Ia melihat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia bukan sekadar persoalan antara orang Indonesia dan pemerintah kolonial Belanda. Kemerdekaan merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar: hak suatu bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri.


4. Hatta Ditangkap dan Membela Diri di Pengadilan

Aktivitas politik Hatta dan kawan-kawannya membuat pemerintah Belanda semakin memperhatikan Perhimpunan Indonesia.


Pada 1927, Hatta dan sejumlah aktivis lainnya ditangkap. Dalam persidangan, Hatta menyampaikan pembelaan yang kemudian terkenal dengan judul "Indonesia Merdeka".

Peristiwa ini penting karena menunjukkan karakter Hatta. Ia tidak hanya berani secara fisik. Ia juga berani berargumentasi menggunakan pengetahuan dan logika.

Hatta menjadikan ruang pengadilan sebagai tempat untuk menjelaskan kepada publik bahwa bangsa Indonesia memiliki hak untuk merdeka. Inilah salah satu ciri khas perjuangan Hatta: ilmu pengetahuan digunakan sebagai senjata perjuangan.


5. Pulang ke Indonesia

Setelah bertahun-tahun berada di Belanda, Hatta kembali ke Indonesia pada 1932. Sekembalinya ke tanah air, ia semakin aktif dalam pergerakan politik.

Hatta berusaha membangun gerakan yang memiliki dasar organisasi, pendidikan politik, disiplin, dan kesadaran rakyat.Ia tidak menyukai perjuangan yang hanya mengandalkan emosi.

Menurut pendekatan Hatta, kemerdekaan membutuhkan manusia Indonesia yang terdidik dan mampu mengatur negaranya sendiri.


6. Penangkapan dan Pembuangan

Pemerintah kolonial Belanda memandang aktivitas Hatta sebagai ancaman. Pada 1934, Hatta bersama Sutan Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya dibuang oleh pemerintah kolonial. Mereka mengalami masa pembuangan di beberapa tempat, termasuk Boven Digul dan Banda Neira.


Bagi Hatta, masa pembuangan bukan berarti berhenti berpikir.Ia tetap membaca, menulis, mengajar, dan berdiskusi. Justru di masa sulit tersebut terlihat bahwa Hatta bukan tipe pejuang yang bergantung pada jabatan atau panggung politik. Ketika ruang politik ditutup, ia tetap berjuang melalui pendidikan dan pemikiran.


7. Pertemuan Jalan Sejarah dengan Soekarno

Hatta dan Soekarno mempunyai karakter yang berbeda. Soekarno dikenal sebagai orator besar yang mampu membangkitkan massa. Hatta lebih tenang, sistematis, dan kuat dalam analisis.


Perbedaan karakter itu justru kemudian menjadi kekuatan. Keduanya menjadi pasangan yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Soekarno memiliki kekuatan mobilisasi politik. Hatta memiliki kekuatan argumentasi, organisasi, ekonomi, dan administrasi. Pasangan ini kemudian dikenal sebagai Dwitunggal Soekarno-Hatta.


Namun, penting dipahami bahwa hubungan mereka tidak selalu bebas dari perbedaan pandangan. Mereka bisa bekerja sama dalam persoalan tertentu, tetapi juga bisa berbeda secara tajam mengenai arah politik dan pemerintahan.


8. Menjelang Proklamasi

Pada Agustus 1945, situasi politik berubah sangat cepat. Jepang menyerah kepada Sekutu. Golongan muda mendesak agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan tanpa menunggu keputusan Jepang. Soekarno dan Hatta kemudian dibawa para pemuda ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945.


Setelah kembali ke Jakarta, Soekarno dan Hatta bersama Ahmad Soebardjo menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda. Di tempat tersebut dilakukan pembahasan mengenai teks Proklamasi. Soekarno menulis konsep awal, sedangkan Hatta dan Ahmad Soebardjo memberikan pemikiran dan masukan.


Salah satu kalimat penting dalam teks Proklamasi mengenai pemindahan kekuasaan merupakan gagasan yang diberikan Hatta. Pada akhirnya, naskah tersebut ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.


9. 17 Agustus 1945: Hatta Menjadi Proklamator

Pagi hari, 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta.Hatta berdiri di sampingnya. Dengan demikian, sejarah mencatat Soekarno dan Hatta sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia.


Keesokan harinya, 18 Agustus 1945, PPKI menetapkan Soekarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Dengan demikian, Hatta menjadi Wakil Presiden pertama dalam sejarah Republik Indonesia.


10. Wakil Presiden dalam Masa Revolusi

Menjadi Wakil Presiden pada 1945 bukanlah pekerjaan administratif biasa. Republik yang baru lahir menghadapi persoalan luar biasa besar.

Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan, membangun pemerintahan, mengatasi persoalan ekonomi, menghadapi Belanda yang ingin kembali, dan meyakinkan dunia internasional bahwa Republik Indonesia benar-benar ada.

Dalam situasi tersebut, Hatta memainkan peran penting dalam pemerintahan dan diplomasi. Ia juga mempunyai perhatian besar terhadap bagaimana negara baru tersebut membangun sistem politik dan ekonomi.


11. Hatta dan Demokrasi

Hatta memiliki keyakinan kuat terhadap demokrasi. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar mengganti pemerintah kolonial dengan pemerintah Indonesia.Kemerdekaan harus menghasilkan kehidupan politik yang memberikan ruang bagi rakyat. Karena itu, Hatta sangat memperhatikan lembaga perwakilan, musyawarah, partai politik, dan pembatasan kekuasaan.

Dalam perjalanan sejarah, perbedaan pandangan politik antara Hatta dan Soekarno semakin terlihat. Terutama ketika arah pemerintahan Indonesia bergerak menuju sistem Demokrasi Terpimpin.Hatta semakin kritis terhadap konsentrasi kekuasaan.


12. Hatta dan Ekonomi Kerakyatan

Inilah salah satu warisan pemikiran Hatta yang sangat penting. Hatta tidak membayangkan ekonomi Indonesia hanya dikuasai oleh negara atau segelintir orang kaya. Ia menginginkan ekonomi yang memberi ruang kepada rakyat untuk menjadi pelaku.Gagasannya kemudian sangat terkait dengan koperasi dan prinsip usaha bersama.

Perpusnas mencatat bahwa pemikiran Hatta mengenai perekonomian nasional menekankan usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan, yang kemudian berkaitan erat dengan Pasal 33 UUD 1945.

Karena itu Hatta kemudian dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Koperasi bagi Hatta bukan sekadar badan usaha. Koperasi merupakan cara agar masyarakat dapat bekerja sama dan memperkuat posisi ekonominya.


13. Mengapa Hatta Sangat Peduli kepada Rakyat Kecil?

Ada benang merah antara kehidupan pribadi Hatta dan pemikirannya.

Ia berasal dari lingkungan yang mengenal perdagangan dan kehidupan masyarakat. Ia kemudian belajar ekonomi. Ja melihat langsung kolonialisme. Ia memahami bagaimana ketimpangan ekonomi dapat membuat rakyat kehilangan kekuatan.

Karena itu, kemerdekaan politik menurut Hatta harus diikuti kemerdekaan ekonomi. Bangsa yang merdeka tetapi rakyatnya tetap miskin dan tidak memiliki kesempatan ekonomi belum sepenuhnya mencapai cita-cita kemerdekaan.

Inilah salah satu gagasan Hatta yang masih sangat relevan hingga sekarang.


14. Hatta sebagai Pribadi yang Sederhana

Hatta terkenal sebagai pribadi yang sederhana. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk memperkaya diri. Salah satu gambaran paling kuat tentang dirinya adalah kecintaannya terhadap buku. Buku menjadi bagian penting dalam kehidupan Hatta sejak muda. Bagi Hatta, kekayaan intelektual jauh lebih penting daripada kemewahan.

Karena itu muncul gambaran mengenai Hatta sebagai seorang negarawan yang hidup relatif sederhana meskipun pernah menduduki posisi tertinggi dalam pemerintahan Republik.


15. Hatta Mengundurkan Diri dari Wakil Presiden

Inilah salah satu episode paling menarik dalam kehidupan politik Hatta. Setelah bertahun-tahun menjadi Wakil Presiden, Hatta akhirnya mengundurkan diri.

Surat pengunduran dirinya disampaikan pada 20 Juli 1956 dan pengunduran dirinya berlaku pada 1 Desember 1956. Keputusan tersebut berkaitan erat dengan perbedaan pandangan politik antara Hatta dan Soekarno mengenai arah pemerintahan Indonesia.

Pengunduran diri Hatta memperlihatkan sesuatu yang sangat penting: Ia bersedia kehilangan jabatan demi mempertahankan prinsip yang diyakininya. 


Hatta tidak menggantungkan kehormatannya pada kursi Wakil Presiden. Ini merupakan salah satu alasan mengapa namanya tetap dihormati bahkan setelah tidak lagi berada dalam pemerintahan.


16. Hubungan Hatta dan Soekarno Setelah Tidak Lagi Menjabat

Pengunduran diri Hatta tidak berarti hubungan pribadinya dengan Soekarno otomatis berubah menjadi permusuhan.

Mereka tetap memiliki sejarah panjang sebagai dua tokoh utama perjuangan kemerdekaan.

Perbedaan politik tidak menghapus kenyataan bahwa keduanya pernah berdiri bersama pada saat paling menentukan dalam sejarah bangsa.

Ini menjadi pelajaran penting tentang perbedaan antara persahabatan pribadi, kepentingan politik, dan prinsip kenegaraan.


17. Hatta Setelah Tidak Lagi Menjadi Wakil Presiden

Setelah tidak lagi menjabat, Hatta tetap aktif memberikan pemikiran mengenai Indonesia.

Ia menulis, memberikan ceramah, menjadi penasihat, dan terus mengikuti perkembangan kehidupan politik dan ekonomi.

Ia tidak berhenti menjadi negarawan hanya karena tidak lagi memiliki jabatan.

Justru setelah meninggalkan pemerintahan, pemikiran Hatta semakin banyak dibaca sebagai bahan refleksi mengenai demokrasi, ekonomi, pendidikan, dan kehidupan bernegara.


18. Keluarga

Hatta menikah dengan Rahmi Rachim.

Mereka mempunyai tiga putri:

  1. Meutia Farida Hatta

  2. Gemala Rabi'ah Hatta

  3. Halida Nuriah Hatta

Kehidupan keluarganya juga memperlihatkan sisi Hatta sebagai seorang ayah.

Di balik tokoh politik yang serius, terdapat sosok yang sangat mencintai keluarga dan kehidupan intelektual.


19. Wafat

Mohammad Hatta meninggal dunia di Jakarta pada 14 Maret 1980, dalam usia 77 tahun.

Ia kemudian dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.

Pada 1986, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.


20. Tujuh Pelajaran Besar dari Kehidupan Bung Hatta

Pertama — Pendidikan dapat menjadi kekuatan politik

Hatta menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan kekuatan fisik.

Ilmu pengetahuan dapat menjadi alat perjuangan.

Ia belajar ekonomi, politik, sejarah, dan organisasi lalu menggunakan pengetahuannya untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Kedua — Jabatan bukan ukuran kehormatan

Hatta pernah menjadi orang nomor dua di Republik Indonesia.

Namun ia kemudian meninggalkan jabatan tersebut karena perbedaan prinsip.

Ini memberikan pelajaran bahwa seorang pemimpin seharusnya tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan akhir.

Ketiga — Kemerdekaan politik harus disertai kemerdekaan ekonomi

Indonesia merdeka bukan hanya berarti bebas dari penjajahan.

Rakyat juga harus memiliki kesempatan untuk hidup layak dan mempunyai kekuatan ekonomi.

Pemikiran inilah yang menjadi salah satu dasar perhatian Hatta terhadap koperasi dan ekonomi kerakyatan.

Keempat — Demokrasi membutuhkan etika

Hatta bukan hanya berbicara mengenai demokrasi sebagai mekanisme memilih pemimpin.

Ia juga memperhatikan moral dan tanggung jawab dalam penggunaan kekuasaan.

Demokrasi tanpa etika dapat berubah menjadi perebutan kekuasaan semata.

Kelima — Perbedaan tidak selalu berarti permusuhan

Hatta dan Soekarno mempunyai perbedaan pandangan yang tajam.

Tetapi keduanya tetap tercatat dalam sejarah sebagai dua Proklamator.

Pelajarannya: seseorang dapat berbeda pandangan dengan orang lain tanpa harus menghapus seluruh jasa dan kemanusiaannya.

Keenam — Kesederhanaan adalah kekuatan

Hatta memberikan contoh bahwa seseorang dapat mencapai posisi tinggi tanpa harus menjadikan kemewahan sebagai ukuran keberhasilan.

Kekayaan ilmu, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk kekayaan yang lain.

Ketujuh — Seorang pemimpin harus berani mengatakan "tidak"

Salah satu pelajaran terbesar dari Hatta adalah keberanian mempertahankan prinsip.

Ia tidak selalu mengikuti arus.

Ketika meyakini suatu kebijakan tidak sesuai dengan prinsipnya, ia berani menyatakan keberatan—bahkan ketika konsekuensinya adalah kehilangan jabatan.

Penutup

Lebih dari delapan dekade setelah Proklamasi, nama Mohammad Hatta masih mempunyai relevansi yang kuat.

Indonesia hari ini menghadapi persoalan yang berbeda dari zaman kolonial: ketimpangan ekonomi, kualitas pendidikan, tata kelola pemerintahan, konsentrasi kekayaan, politik kekuasaan, dan persoalan kesejahteraan rakyat.

Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama:

Untuk siapa negara ini dibangun?

Jawaban Hatta sangat jelas: kemerdekaan harus memberikan manfaat kepada rakyat.

Negara tidak boleh hanya menjadi arena perebutan kekuasaan.

Ekonomi tidak boleh hanya menghasilkan keuntungan bagi sebagian kecil masyarakat.

Pendidikan tidak boleh hanya mencetak orang yang pandai mencari pekerjaan, tetapi juga manusia yang memiliki kesadaran sebagai warga negara.

Dan kekuasaan seharusnya digunakan sebagai amanah, bukan sebagai alat untuk memperkaya diri.

Itulah sebabnya Mohammad Hatta tidak hanya penting untuk dikenang sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Ia penting dipelajari sebagai seorang pemikir tentang bagaimana sebuah bangsa yang baru merdeka seharusnya dibangun.

Dan mungkin inilah warisan terbesar Bung Hatta:

Indonesia merdeka bukan sekadar Indonesia yang bebas dari penjajahan, tetapi Indonesia yang rakyatnya memiliki martabat, kesempatan, pendidikan, kekuatan ekonomi, dan kebebasan untuk menentukan masa depannya sendiri. (Dari berbagai sumber).