Buku "Untuk Nggahi Rawi Pahu-ku" (Edisi Kawara Dana ro Rasa) karya Andi Fardian yang ke-16. Buku ini ditulis Andi Fardian untuk kado Ultah Dompu ke- 205 pada 11 April 2020 lalu. Andi Fardian berasal dari Desa Ranggo Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu NTB yang kini berdomisili di Sleman-DIYAndi Fardian: Gali Identitas Dompu Butuh Riset Akademik dan Metodologik yang Komprehensif
Koranlensapos.com - Identitas Dompu masih menjadi perdebatan hingga kini. Ada pendapat yang mengklaim bagian dari suku Mbojo (Bima). Sebagian lagi mengklaim Dompu adalah etnis mandiri yang terpisah dari Mbojo (Bima).
Peneliti independen bidang sosiolinguistik dan pembangunan sosial, Andi Fardian mengungkapkan
perdebatan mengenai status identitas Dompu sebagai etnis mandiri atau bagian dari kelompok Mbojo (Bima) menunjukkan adanya ketegangan konseptual antara pendekatan linguistik, historis, dan sosial dalam memahami identitas lokal.
"Kedekatan bahasa antara Dompu dan Bima yang hanya berbeda secara dialektal sering dijadikan dasar untuk mengkategorikan Dompu sebagai bagian dari etnis Bima," ungkap Andi dalam artikelnya yang berjudul "Membaca Ulang Identitas Dompu: Etnis, Sub-Etnis atau Hibrid?".
Namun menurut Andi, pendekatan ini cenderung reduktif dan mengabaikan kompleksitas pembentukan identitas Dompu.
“ [...] bahasa dalam konteks Dompu tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas, tetapi juga sebagai arena negosiasi yang mencerminkan relasi sosial dan historis yang kompleks," jelasnya.
Secara historis, lanjutnya, Dompu memiliki legitimasi sebagai entitas politik dan budaya yang mandiri. Namun tak bisa dipungkiri pula bahwa proses asimilasi jangka panjang telah mendorong terjadinya integrasi yang signifikan dengan Mbojo.
“Dompu memiliki jejak historis sebagai entitas politik yang pernah berdiri sendiri dan memiliki struktur sosial yang khas. Sejarah ini menjadi sumber legitimasi bagi sebagian pihak untuk mempertahankan klaim Dompu sebagai etnis mandiri. Namun, dinamika sejarah juga menunjukkan adanya proses integrasi dan asimilasi dengan kelompok lain,” paparnya.
Menurut penulis buku berjudul "Lembo Ade", "Melihat Dompu dari Jauh", "Dompu, Nggahi Rawi Pahu yang Dirindukan" maupun "Kolom-Kolom untuk Dompu-ku" ini dibutuhkan riset dan kajian akademik secara komprehensif guna menggali lebih dalam tentang identitas Dompu. Riset dan kajian akademik ini tentunya harus dilakukan oleh para pakar yang memiliki bidang keilmuan tertentu. Misalnya pakar di bidang sejarah, sosiologi, antropologi, linguistik, arkeologi, dan sebagainya. Kolaborasi dan hasil penelitian para pakar ini menjadi sangat krusial untuk menyimpulkan identitas Dompu yang sesungguhnya.
"Satu-satunya cara agar perjuangan identitas Dompu bisa diperhitungkan adalah dengan menempuh cara-cara akademis dan metodologis. Tidak ada cara lain. Kita harus objektif. Tidak boleh atas dasar asumsi," ulasnya.
Dikemukakan dosen dan penulis buku produktif ini, kajian-kajian tentang Dompu umumnya masih terbatas pada deskripsi budaya dan sejarah lokal. "Penelitian yang secara khusus membahas identitas Dompu dalam kerangka teoretis yang komprehensif masih sangat terbatas," sebutnya.
Di sisi lain, sambungnya, penelitian tentang hubungan antara Dompu dan Bima lebih banyak menyoroti aspek linguistik tanpa mengaitkannya dengan dimensi sosial yang lebih luas. Pendekatan ini cenderung menghasilkan kesimpulan yang reduktif karena hanya melihat satu variabel. "Padahal, identitas etnis merupakan fenomena multidimensional yang melibatkan berbagai faktor," tandasnya. (emo).

Komentar