Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Urgensi Bermain dan Risiko Penggunaan Gadget Berlebihan Bagi Anak

Selasa, 23 Juni 2020 | 7:13 AM WIB Last Updated 2020-06-22T23:13:53Z
Oleh : Ihlas Hasan*


Seorang filsuf Belanda, Johan Huizinga menulis sebuah buku berjudul “Homo Ludens; A Study of Play Element in Culture”. Buku tersebut pertama kali diterbitkan pada tahun 1938, yang mengupas tuntas tentang pentingnya bermain bagi manusia. Huizinga berpendapat bahwa bermain (playing) itu tidak kalah pentingnya dari dua kegiatan manusia: yakni berpikir dan bekerja. Itu sebabnya ia memperkenalkan istilah baru, Homo Ludens, guna menggenapi dua istilah lain yang telah lama populer sebelumnya: Homo Sapiens & Homo Faber. Jadi tiga atribut utama manusia adalah: thinking – working/making – playing.

Menurut Huizinga, bermain adalah unsur yang permanen disegala jenjang hidup manusia, bahkan meresapi dan menyemarakkan bidang-bidang kebudayaan lainnya. Aktivitas bermain merupakan kegiatan yang dilakukan atas dasar senang dan tanpa melihat hasil akhir. Kegiatan yang dilakukan dengan suka rela, tidak dipaksa atau adanya tekanan pihak-pihak lain. Huizinga menolak anggapan yang memandang bermain hanyalah sebagai suatu jenjang dalam proses pertumbuhan masa kanak-kanak. Pandangan ini menganggap bermain sekedar kegiatan pengisi waktu luang bagi anak-anak. Baginya, ini persepsi yang keliru.

Bermain dengan segala macam ragamnya adalah salah satu pencapaian tertinggi dari spesies manusia. Tanpa bermain, tidak satu pun dari pencapaian lain dapat diperoleh. Nilai bermain sangat penting bagi siapapun termasuk untuk orang dewasa, apalagi bagi anak-anak usia dini. Dalam konteks anak usia dini, bermain adalah fase penting untuk membantu menstimulasi tumbuh kembang serta meningkatkan berbagai macam kecerdasannya, salah satunya--kecerdasan kinstetik. Kecerdasaran kinestetik adalah memungkinkan anak untuk menggunakan seluruh atau sebagian tubuh untuk membuat produk atau belajar memecahkan masalah.

Namun kini, orientasi dan jenis permainan mulai berubah, seiring dengan munculnya era digital kiwari yang menggeser aktivitas bermain anak. Semula dari permainan tradisional (berbasis aktifitas fisik) beralih ke permainan digital (digital game). Anak-anak dibombardir dengan produk teknologi canggih dan akses internet yang kian mendominasi, di mana gadget dan game online saat ini telah menjadi ‘pandemi’ di kalangan anak-anak.

Data dari lembaga International Telecommunications Union tahun 2015 menyatat, sebanyak 3,2 miliar orang dari populasi dunia saat ini dapat mengakses teknologi digital, termasuk anak usai dini (bayangkan ini data 5 tahun lalu, bagaimana dengan rilis data per 2020). Saat ini anak-anak usia dini dengan mudah mengakses teknologi seperti android. Padahal dampaknya bagi kesehatan dan psikologi anak, sangat buruk. Anak-anak mengalami kecanduan (addiction) gadget, hingga mempengaruhi kondisi sosial pribadi anak. Anak-anak akan terisolasi dari kehidupan sosial dan mengalami kendala dalam mengelola emosi dengan baik. Anak-anak menjadi introvert dan tidak sabar, timbul masalah interpersonal dan kurangnya keterampilan komunikasi dan menjauhkan mereka dari alam dan lingkungan sekitar. 

Mestinya anak-anak usia 2-8 tahun harusnya didorong untuk bermain di luar ruangan yang memiliki fungsi memperkaya, merangsang, dan menawarkan pengalaman yang menantang untuk memenuhi kebutuhan perkembangannya. 

Bermain di alam terbuka memberi kebebasan kepada anak untuk berimajinasi, bereksplorasi, dan menciptakan sesuatu. Berbagai temuan penelitian menjelaskan bahwa anak-anak yang melakukan aktifitas bermain dengan aktifitas jasmani secara reguler dapat membantu mempromosikan perkembangan multi-kecerdasan bagi anak.
(*Penulis adalah Akademisi di Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima).
×
Berita Terbaru Update