Dompu, Lensa Pos NTB - Lembaga Studi Pengkajian Lingkungan (Lespel) Dompu akhirnya berhasil menunjukkan bukti bahwa sistem pertanian konservasi (PK) memiliki keunggulan dibandingkan pertanian secara konvensional. Hal itu terungkap saat panen jagung demplot yang dilaksanakan LSM yang bergerak di bidang lingkungan itu di lahan jagung milik Zulkifli, warga Desa Kampasi Meci Kecamatan Manggelewa Kabupaten Dompu NTB pada hari Selasa (19/3)
kemarin.
Uji coba penanaman jagung di areal tersebut terdiri dari 3 (tiga) cara (perlakuan). Pertama, menggunakan sistem PK olah lubang permanen. Kedua, uji coba dengan sistem PK olah alur riping dan ketiga, dengan sistem pertanian konvensional. Cara pertama dan kedua sama - sama menggunakan pupuk organik pra tanam tanpa memakai pupuk anorganik (pupuk kimia) dan dengan pengaturan jarak tanam. Kedua cara ini hampir mirip tetapi bedanya pada olah alur permanen pemberian pupuk organik dengan membuat lubang berukuran 40 x 40 x 40 cm. Di lubang tersebut dimasukkan pupuk organik ( pupuk kompos atau pupuk kandang) sekitar 7 kg. Lalu di setiap sudutnya ditanami jagung. Sedangkan cara kedua pemberian pupuk pra tanam pada setiap alur sebanyak 2,5 kg per meter.
Adapun cara ketiga menggunakan pupuk kimia sebanyak 2 kali. "Terbukti buah jagung yang menggunakan teknologi pertanian konservasi olah lubang permanen dan olah alur riping lebih besar - besar," ungkap Direktur Lespel Zulkarnain, S. Sos di sela-sela kegiatan panen jagung itu. Keunggulan lain yang langsung bisa disaksikan saat panen tersebut adalah jagung yang menggunakan sistem pertama dan kedua lebih cepat tua ketimbang yang menggunakan cara ketiga (konvensional).
Hal itu diakui oleh Zulkifli pemilik lahan jagung tersebut.
"Penanamannya di hari yang sama tapi yang ini (sistem konvensional) daunnya masih hijau. Padahal ini kami tanam pagi sedangkan yang di sana (sistem pertama dan kedua,red) ditanam sorenya," aku Zul. Untuk membandingkan hasil produktivitas jagung dari ketiga jenis perlakuan tersebut, kru Lespel yang didampingi Made Pukel dari World Neighbors (WN) dan Petrus Naibobe dari Yayasan Mitra Tani Mandiri NTT yang berkesempatan hadir pada acara tersebut membuat ubinan dengan ukuran 5 x 5 m2. Dari ubinan itu buah jagung ditimbang dan selanjutnya mereka melakukan analisa produksi dalam setiap Hektar. "Analisa kami berdasarkan hasil ubinan untuk olah lubang permanen 13,8 ton/Ha, olah alur 10,5 ton/Ha dan konvensional 8,0 ton/Ha. Ini analisa berat basah (kering panen,red)," papar Petrus Naibobe. (AMIN)
kemarin.
Uji coba penanaman jagung di areal tersebut terdiri dari 3 (tiga) cara (perlakuan). Pertama, menggunakan sistem PK olah lubang permanen. Kedua, uji coba dengan sistem PK olah alur riping dan ketiga, dengan sistem pertanian konvensional. Cara pertama dan kedua sama - sama menggunakan pupuk organik pra tanam tanpa memakai pupuk anorganik (pupuk kimia) dan dengan pengaturan jarak tanam. Kedua cara ini hampir mirip tetapi bedanya pada olah alur permanen pemberian pupuk organik dengan membuat lubang berukuran 40 x 40 x 40 cm. Di lubang tersebut dimasukkan pupuk organik ( pupuk kompos atau pupuk kandang) sekitar 7 kg. Lalu di setiap sudutnya ditanami jagung. Sedangkan cara kedua pemberian pupuk pra tanam pada setiap alur sebanyak 2,5 kg per meter.
Adapun cara ketiga menggunakan pupuk kimia sebanyak 2 kali. "Terbukti buah jagung yang menggunakan teknologi pertanian konservasi olah lubang permanen dan olah alur riping lebih besar - besar," ungkap Direktur Lespel Zulkarnain, S. Sos di sela-sela kegiatan panen jagung itu. Keunggulan lain yang langsung bisa disaksikan saat panen tersebut adalah jagung yang menggunakan sistem pertama dan kedua lebih cepat tua ketimbang yang menggunakan cara ketiga (konvensional).
Hal itu diakui oleh Zulkifli pemilik lahan jagung tersebut.
"Penanamannya di hari yang sama tapi yang ini (sistem konvensional) daunnya masih hijau. Padahal ini kami tanam pagi sedangkan yang di sana (sistem pertama dan kedua,red) ditanam sorenya," aku Zul. Untuk membandingkan hasil produktivitas jagung dari ketiga jenis perlakuan tersebut, kru Lespel yang didampingi Made Pukel dari World Neighbors (WN) dan Petrus Naibobe dari Yayasan Mitra Tani Mandiri NTT yang berkesempatan hadir pada acara tersebut membuat ubinan dengan ukuran 5 x 5 m2. Dari ubinan itu buah jagung ditimbang dan selanjutnya mereka melakukan analisa produksi dalam setiap Hektar. "Analisa kami berdasarkan hasil ubinan untuk olah lubang permanen 13,8 ton/Ha, olah alur 10,5 ton/Ha dan konvensional 8,0 ton/Ha. Ini analisa berat basah (kering panen,red)," papar Petrus Naibobe. (AMIN)

Komentar
