Progres, Permasalahan, serta Solusi Dalam Pengembangan Padi, Jagung, dan Porang Bagian Dari JARAPASAKA

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

.

Progres, Permasalahan, serta Solusi Dalam Pengembangan Padi, Jagung, dan Porang Bagian Dari JARAPASAKA

Koran lensa pos
Sabtu, 24 Desember 2022

 

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Muhammad Syahroni, SP., MM



Dompu, koranlensapos.com - Pengembangan komoditas padi, jagung, dan porang adalah program unggulan Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu di bawah kepemimpinan Bupati H. Kader Jaelani dan Wakil.Bupati H. Syahrul Parsan (AKJ-SYAH) periode 2021-2026. Ketiga komoditas tersebut merupakan bagian dari Program Unggulan JARAPASAKA (Jagung, Porang, Padi, Sapi, dan Ikan).

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Muhammad Syahroni, SP., MM menguraikan progres, permasalahan, serta solusi dalam pengembangan ketiga komoditas unggulan itu.

Dikatakannya, dalam menjalankan program Jara Pasaka dengan segala keterbatasannya, Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu sudah berusaha optimal menjalankannya sesuai skenario yang diinginkan. Termasuk di dalamnya program pengembangan padi, jagung dan porang.

Komoditas padi dan jagung walaupun masih dijumpai beragam masalah, namun pada prinsipnya sudah on the track sebagaimana mestinya. 

"Hanya saja yang menjadi kendala saat ini adalah terkait dengan nilai jual dan penambahan akan nilai tambah produk," jelasnya.

Kendala yang masih terjadi adalah fluktuasi harga dan ketersedian sarana produksi seperti pupuk masih menjadi sebuah permasalahan yang harus dirampungkan.

Dijelaskannya proses budidaya dalam meningkatkan produksi, relatif tidak ada masalah yang signifikan. Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) baik itu hama penyakit relatif aman. Begitu juga kaitan gangguan karena bencana alam relatif tidak banyak.

Pemerintah Daerah dalam hal ini Distanbun Kabupaten Dompu selalu merespon cepat setiap ada serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)  dengan memberikan bimbingan teknis maupun bantuan sarana pestisida pada lahan petani yang terserang OPT.

Disebut Syahroni, yang masih berkendala saat ini adalah nilai tambah produk. Seperti komoditi padi masih dominan fokus menjual dalam bentuk gabah. 

"Masalah ini hingga kini masih menjadi kendala dan perlu diupayakan langkah perbaikan," ujarnya.

Syahroni mengemukakan pemerintah juga sedang berupaya serius meminimalisir berbagai permasalahan terkait komoditi padi ini. Terutama nilai tambah produk yg muaranya akan berkaitan dengan harga.

Terkait hal ini, Pemda Dompu tidak tinggal diam. Hal ini dibuktikan pada tahun 2022 ini telah dibangun 3 lumbung pangan. 

"Dengan adanya 3 lumbung pangan,  petani tidak lagi menjual padi dalam bentuk gabah tetapi menjual dalam bentuk beras karena dalam lumbung pangan tersebut sudah tersedia fasilitas penggilingan beras atau Rice Milling Unit (RMU) dan petani dapat menunda penjualan produknya dengan menunggu harga yang lebih baik," urainya.

Kemudian langkah besar lainnya yang sedang dilakukan pemda Dompu adalah bekerja sama dengan BULOG pusat.

"Saat ini sedang dalam tahapan perencanaan terkait pembangunan pabrik penggilingan dan pengolahan beras modern atau Modern Rice Milling Plant," sebutnya.

Selanjutnya terkait program pengembangan komoditas jagung, Pemerintah sudah memperjuangkan
Harga Pokok Pembelian (HPP) yang awalnya dengan harga Rp. 3.100 menjadi Rp. 4.200.

"Regulasi ini menjadi alat intervensi ketika harga turun di bawah HPP," terangnya.

Ditambahkannya saat ini sudah diupayakan adanya fasilitas Corn Drying Center (CDC) yang akan diresmikan penggunaannya Maret 2023 nanti. 

"Keberadaan CDC tersebut diharapkan harga jagung akan bersaing,  selama ini hanya dominasi gudang-gudang swasta yang mendrive harga. Ke depan akan memiliki kompetitor, sehingga harga jagung menjadi menarik," ulasnya.


"CDC adalah pendanaan yang bersumber dari APBN dalam hal ini Bulog Pusat yang kehadirannya ketika nanti beroperasi dapat mengkatalis upaya menaikan harga”, tandasnya.

Ditegaskannya sebagaimana layaknya ilmu ekonomi, jika suatu wilayah ada kompetitior maka harapannya jika selama ini harga selalu didrive swasta, minimal ke depan bisa diseimbangkan oleh pemerintah tidak saja melalui regulasi namun juga melalui operasional di lapangan.

Dijelaskannya dari sisi pemerintah dalam 5 tahun terakhir ini terkait komoditi jagung sudah tidak ada program perluasan areal tanam dan hanya fokus pada intensifikasi.

Terkait masalah pupuk yang selama ini terkadang menjadi pemicu gejolak sosial di masyarakat, pihak pemerintah terus berupaya memperjuangkannya.

Ditegaskan Kadistanbun bahwa Bupati Dompu dan Pemda Kabupaten Dompu memiliki komitmen kuat memperjuangkan peningkatan kuota pupuk ini. Terbukti tahun 2022 ini kuota pupuk bersubsidi mengalami kenaikan yang fantastis.

"Untuk pertama kalinya sejak Dompu ini ada di tahun 2022 ini kuota pupuk urea bersubsidi kita mencapai angka 35.000 ton," ungkap Dae Roni, sapaan familiarnya.

Diakuinya memang selalu saja dirasakan kurang karena memang antara kebutuhan pupuk petani dengan alokasi selalu tidak bisa seimbang karena bagaimanapun selalu terkait dengan fiskal negara. Penanaman jagung di kawasan hutan itulah yang menjadi persoalan bagi ketersediaan pupuk bersubsidi. Karena pupuk bersubsidi hanya diperuntukkan bagi kelompok petani yang telah terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) di luar kawasan hutan. Dengan kata lain pupuk bersubsidi tidak diperuntukkan bagi kelompok tani dalam kawasan hutan.

"Dengan semakin meluasnya perambahan hutan, artinya masalah pupuk subsidi tidak akan akan pernah rampung jika permasalahan perambahan hutan tidak terselesaikan,"  ujarnya.


Sementara terkait porang sebagai komoditas baru memang masih terkendala dengan perluasan areal tanam. Faktor risiko kepastian pasar dan harga jual harus benar-benar diantisipasi.

"Kedua hal tersebut menjadi permasalahan sampai saat ini terkait dengan komoditi porang," ujarnya.

Dikatakannya proses budidaya Porang membutuhkan biaya produksi yang tinggi dan harus ada sentuhan dari investor.  

"Terkait dengan pengembabgan komoditas porang harus realistis, sehingga saat ini masih fokus pada demplot, memperhatikan dan mengoptimalkan perkembangan porang yang telah ditanam secara swadaya oleh masyarakat," paparnya.

Sedangkan untuk kepastian pasar dan harga, Pemda Dompu sudah mulai membuka komunikasi kemitraan dengan PT.JOGLO SEMAR KERTASARI MAKMUR di Jawa Tengah dan koperasi BERKAH GUMI LOMBOK di Kabupaten Lombok Utara (KLU). 

"Realita konkretnya adalah nanti pada periode Febuari 2023 akan datang langsung buyer dari CHINA yang akan menjajaki peluang ekspor komoditi porang Dompu," pungkasnya. (emo).