Karisma dan Pengaruh Syekh Abdul Ghani al-Bimawi

Kategori Berita

.

Karisma dan Pengaruh Syekh Abdul Ghani al-Bimawi

Koran lensa pos
Senin, 30 Mei 2022

 

Jamaah Haji Aceh tahun 1885 di kantor konsulat Jeddah (foto Snouck Hurgronje)


Oleh : Fahrurizki

Syekh Abdul Ghani al-Bimawi salah satu ulama termasyhur yang pernah dimiliki Nusantara. Bernama lengkap Syekh Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail bin Abdul Karim Al-Baghdadi. Terlahir dari keluarga pendakwah. Syekh Abdul Ghani juga mempunyai nasab Al-Baghdadi yang berasal dari Baghdad (Irak). Buyutnya Syekh Abdul Karim juga merupakan ulama tersohor di Nusa Tenggara, seorang pedagang sekaligus ulama.
Bukan hanya buyut, juga ayah Syekh Abdul Ghani yaitu Syekh Subuh merupakan seorang Mufti Kesultanan Bima saat era Sultan Alauddin Muhammadsyah (1731-1741). Kondisi politik kesultanan saat era Sultan Alaluddin sangat bergejolak, sehingga Syekh Subuh mengundurkan diri menjadi Mufti dan memilih menyebarkan Islam di daerah pedalaman dan pegunungan Bima hingga berujung di wilayah Kesultanan Dompu. Kemudian Syekh Subuh menetap di Dompu dan membawa keluarganya untuk hijrah ke sana, masyarakat di sana mengenalnya dengan nama Ruma Sehe Subu. 

Istilah Ruma Sehe dalam tradisi kultur keagamaan masyarakat Bima-Dompu hanya diberikan kepada Ulama yang mempunyai jabatan dalam istana sebagai Mufti atau Khatib. Arti dari Ruma Sehe sendiri yaitu Tuan Syekh, Ruma adalah gelar istana yang biasa dilekatkan pada nama-nama pejabat tinggi istana di Bima. Menariknya nama Ruma harus identik dengan postur tubuh maupun ciri khas dari seseorang pejabat, misalkan jika dia bergelar penasehat istana maka dia dipanggil Ruma Sakuru atau Ruma Parenta, begitupun dengan para Ulama yang mempunyai jabatan Mufti atau Khatib tadi, dia akan dipanggil Ruma Sehe. Jika untuk para Ulama kampung juga mempunya gelar tersendiri yaitu Cepe Lebe.

Abdul Ghani kecil mendapatkan asupan ilmu agama dari ayahnya, setelah dewasa beliau menuju Hijaz (Mekkah) untuk memperdalam lagi ilmu dan masuk ke berbagai Halaqah ulama-ulama terkenal di Masjidil Haram, diperkirakan Abdul Ghani menuju Mekkah pada akhir abad 18 masehi (sekitar tahun 1780), dia belajar pada salah satu halaqah ulama Nusantara yang kesohor saat itu adalah gurunya Syekh Abdul Samad al-Falimbani. Banyak ilmu fikih yang dipelajari oleh Abdul Ghani pada gurunya. Juga kehidupan spiritual Abdul Ghani di lingkungan Mekkah banyak di pengaruhi oleh tarekat yang berkembang saat itu, terutama tarekat Qadiriah oleh Katib Sambas.

Setelah lulus menimba ilmu Syekh Abdul Ghani dilekatkan nisbah (asal muasal) dengan nama al-Bimawi dibelakang namanya oleh komunitas Jawi, dimana nama al-Bimawi merupakan nama dari tanah kelahirannya di Bima (pulau Sumbawa). Ulama-ulama terkemuka dari komunitas Al-Jawi (Nusantara) di Mekkah yang seangkatan dengannya saat itu adalah Syekh Muhammad Ali bin Abdul Rasyid Al-Sumbawi, Syekh Ismail al-Khalidi Minang, Syekh Saleh Rawa dan Syekh Muhammad Azhari al-Falimbani. 

Sebelumnya reputasi kalangan pelajar dari Nusantara yang paling dikenal adalah Jawa(h) dan Sumatera, pulau Sumbawa sendiri pada komunitas tersebut belum mengenal nama Bima sebelumnya, selain itu juga ada Syekh Zainuddin al-Sumbawi asal Sumbawa. Namun karena pamor Syekh Abdul Ghani al-Bimawi sebagai seorang yang sangat di segani akan ilmunya, karena namanya Bima (Pulau Sumbawa) menjadi dikenal, orang melihat Abdul Ghani sebagai seorang yang cerdas dan emosional, tulis Snouck Hurgronje dalam Mekka in The Latter Part of The 19th Century.

Sekitar tahun 1848 Syekh Abdul Gani mengembara ke Selangor, Malaysia. Disana dia angkat menjadi guru oleh Sultan Selangor III bernama Sultan Muhammad Shah. Di Selangor beliau di juluki Shahibul Fadzillah. Sebuah kejadian terjadi di Selangor yang mengubah tradisi para Sultan Selangor hingga kini. Dikisahkan Syekh Abdul Ghani melihat Sultan mengenakan mahkota yang terbuat dari emas, lalu beliau mengambil mahkota tersebut dan membantingnya di lantai hingga pecah. Beliau berkata bahwa seorang lelaki haram hukumnya dalam Islam mengenakan mahkota emas di atas kepalanya. Hingga kini para Sultan Selangor hanya mengenakan Songkok Leleng setelah fatwa dan kejadian tersebut (lihat Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu).

Islamisasi Lombok dan Perjuangan Syekh Abdul Ghani Al-Bimawi

Setelah perang Jawa dan Padri di Sumatera Barat usai tahun 1838 yang digerakkan oleh kaum tarekat Satariyah dibawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, Hindia Belanda mulai was-was pada gelombang para pelajar Mekkah yang pulang kampung. Sekitar tahun 1849 Syekh Abdul Ghani kembali pulang ke Nusantara berkeliling menjadi ulama pengembara. Tahun 1850 dia menuju Lombok, berdakwah di Selaparang untuk mengamalkan ilmunya. Namun dia melihat kondisi rakyat jelata yang di curangi oleh para raja disana.

Korupsi merajalela dan pajak yang tinggi membuat Syekh Abdul Ghani tergerak untuk membantu masyarakat sasak. Pada masyarakat sasak (Lombok) mempercayai bahwa syek Abdul Ghani mempunyai karomah atau keistimewaan, hingga banyak masyarakat sasak masuk Islam dan mengikuti ajaran Syekh Abdul Ghani untuk pemurnian Islam. Pada daerah itu Syekh mengajarkan ajaran Islam yang baru, namun tidak begitu dijelaskan apa ajaran Islam baru tersebut, tulis Profesor Held dalam catatannya yang diterbitkan oleh muridnya Hans Hagerdal berjudul Held`s History Of Sumbawa An Annotated Translation. 

Perlawanan rakyat jelata terhadap para bangsawan semkin besar, dengan ceramahnya yang sangat menyentuh hati masyarakat dan menggelorakan perlawanan pada kaum yang teraniaya, kata-kata syekh membangkitkan perlawanan masyarakat Manjeli untuk melawan dan memberontak kepada Mataram, hingga oleh masyarakat Menjeli menganggap bahwa bahwa Abdul Ghani adalah penjelmaan Raja Pejanggik (Depdikbud : 1977 : 96).

Tahun 1856 sebuah telegram diedarkan oleh gubernur Celebes Hindia Belanda, bahwa perlawanan dan pengaruh Syekh Abdul Ghani semakin besar, banyak umat Budha dan Hindu masuk Islam karenanya (Sjamsuddin : 2013 : 52). Hal inilah yang membuat para pangeran Selaparang khawatir karena kharisma Abdul Ghani yang semakin berpengaruh dikalangan masyarakat disana. Dalam laporan tersebut para pangeran Selaparang sangat khawatir bila Abdul Ghani membawa kekuatan perang dari pulau Sumbawa ke tempat mereka. Para pangeran melaporkan hal ini kepada Hindia Belanda, kemudian Syekh Abdul Ghani di cap sebagai pemberontak.

Setelah melakukan penyebaran Islam di Lombok, dia kembali ke Dompu saat era Sultan Muhammad Salahuddin (1857-1870). Namun di kampung halamannya dia mendapati kondisi masyarakat yang kecanduan opium dan tradisi sabung ayam serta criminal merajalela. Tahun 1859 Syekh Abdul Ghani menerima Sultan Muhammad Salahuddin sebagai muridnya, Syekh mengeluarkan fatwa kepada masyarakat Dompu untuk meninggalkan perjudian, candu, memakai perhiasan serta menari, kolaborasi Ulama dan Pemimpin ini mampu melarang dan menjaga kondisi sosial Dompu bebas dari kecanduan Opium, sabung ayam dan perkelahian, tulis Hoevel dalam buku catatan perjalananya Tijdschrift voor Nederland Indie.

Kondisi politik Hindia Belanda semakin memanas, gelombang perlawanan kaum tarekat semakin besar dan umurnya semakin tua. Tahun 1867 Syekh Abdul Ghani memutuskan untuk kembali Mekkah, dalam perjalanannya menuju Mekkah di pelabuhan Perak, Surabaya. Syekh bertemu dengan seorang pemuda yang berencana akan pergi ke Bima untuk berguru padanya. Namun disana (Surabaya) mereka bertemu dan Syekh mengajak pula muridnya tersebut menuju Mekkah. Pemuda tersebut bernama Mohammad Arsyad Thawil al-Bantani, yang dimana kedepannya menjadi ulama ternama juga ikut dalam perang Banten, berjuang melawan kolonial bersama Kyai Wasyid. 

Menjadi Guru Para Habib dan Ulama Nusantara

Syekh Abdul Ghani seusai menambah dan menamatkan belajarnya, dia memilih menjadi guru di Mekkah dimulai tahun 1847 hingga kedatangan keduanya tahun 1862, juga mengisi halaqah-halaqah di masjidil Haram. Dia dipandang sebagai seorang yang sangat cerdas sebagai seorang fuqaha atau ahli ilmu Fiqh, Hadist dan Syariah. Namun juga beliau terkenal akan ilmu tasawufnya dalam dunia tarekat, ilmu tasawuf didapatnya dari berbagai tarekat, di Hijaz Syekh Abdul Ghani berguru kepada Syekh Mansyur Badary yang mendirikan tarekat Mansyuriah (Notonegoro : 2020 : 112).

Syekh Abdul Ghani menjadi penerus generasi Jawi dalam mencetak ulama-ulama Nusantara, juga sebagai saksi awal berkembangnya cendekia Islam asal Nusantara di tanah Mekkah. Ketika Syekh Abdul Ghani menjadi guru, kemungkinan aktifitas mengajar masih dengan sistem halaqah sebelum madrasah Shaulatiyah di bangun tahun 1292 H (1875 masehi). Tradisi kecendekiawan melayu di Nusantara mengharuskan para pelajarnya untuk menuntut ilmu ke Hijaz.

Pada kalangan Jawi (komunitas Nusantara) Syekh Abdul Ghani menjadi guru termasyhur,  dari tangan beliau banyak muridnya menjadi ulama handal dan berpengarush di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), dalam buku harian Snouck Hurgronje, Abdhul Ghani mengajari dua orang anak Syekh keturunan Batavia bernama Junaid yang menikah dengan wanita Mesir, dua orang anak tersebut bernama Sa`id dan As`ad (Hugronje : 1936 : 263). Pada tahun 1847 seorang pemuda berusia 18 tahun datang ke Mekkah, berasal dari Pekojan, Batavia. Menemui Syekh Abdul Ghani untuk belajar dan berguru padanya, pemuda itu bernama Usman bin Yahya, seorang keturunan arab (Burhanuddin : 2012 : 180). 

Adapun nama-nama para muridnya yang menjadi ulama serta petinggi sebagai berikut :
1.    Habib Usman bin Yahya al-Alawi
2.    Sultan Muhammad Shah Selangor
3.    Syekh Nawawi al-Bantani
4.    Sultan Muhammad Salahuddin Dompu
5.    Abdul Gafar alias Snouck Hugronje
6.    Syekh Ali bin Husein al-Maliki 

Usia Senja Sang Ulama Legendaris

Tidak begitu banyak catatan mengenai di akhir usianya Syekh Abdul Ghani, namun dalam Hikayat Qamar al-Zaman yang di tulis oleh anak muridnya Habib Usman bernama Alwi bin Usman. Dalam hikayat tersebut pada bagian 77 dan 79 mengisahkan bagaimana Syekh Abdul Ghani meminta pada muridnya Habib Usman untuk menggantikan dirinya (Kaptein : 2014 : 283), dimana kondisi kesehatannya menurun dalam usianya yang semakin bertambah ketika beliau menjadi Guru di Masjid Pekojan. Dalam hikayat di ceritakan sebagai berikut :

77. maka adalah pada suatu hari
datang seorang alim bahri
Haji`Abd al-Ghani Bima namanya
peri
karena Bima asal dia punya negeri

78.berminta ia seboleh-bolehnya
supaya almarhum mengantikannya
mengajar di masjid Pekojan dengan
ikhlasnya
karena ia sudah lemah badannya

79. almarhum tiada menyalahkan yang
mulia
Haji`Abd al-Ghani daropada awliya
sebagaimana diketahui orang kaya
menurut almarhum isharat dia

Menurut hikayat diatas, Syekh Abdul Ghani juga pernah tinggal di Pekojan, Batavia (Jakarta). Di Pekojan beliau tetap mengajar dan menjadi guru, kemudian beliau meminta pada muridnya Habib Usman untuk menggantikan dirinya, lalu Syekh Abdul Ghani kembali ke tanah kelahirannya Bima. Menurut Laffan, Snouck Hurgronje juga pernah pergi ke Bima bersama Syekh Abdul Ghani (lihat Jurnal Michael Laffan The New Turn to Mecca).

Pada tahun 1867 saat berjumpa dengan muridnya Syekh Arsyad Thawil al-Bantani, beliau kembali lagi ke Mekkah hingga wafat di sana. Belum ada sumber yang jelas mengenai tahun kematian Syekh Abdul Ghani ada yang menulis bahwa beliau dimakamkan di Ma`la  Mekkah pada tahun 1270 hijriyah atau 1853 masehi. Namun pada tahun pertemuannya dengan muridnya Syekh Arsyad Thawil tahun 1867 menurut penulis mungkin ada sedikit kekeliruan pada tahun wafatnya. 

Sebagai murid senior di kalangan melayu dan memperoleh pujian universal, Abdul Ghani sangat dikenal sebagai murid Abdul Sama al-Falimbani. Dia mengkhususkan diri dalam pengajaran fikih di Malaya dan masih dikenang dengan penuh cinta pada 1880-an, nyaris sebagai wali dan guru terkemuka bagi seluruh generasi cendekiawan Jawi tulis Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam: Orientalism and the Narration of a Sufi Past.

Nama Syekh Abdul Ghani bin Subuh al-Bimawi kini tetap menjadi motivasi penerang ilmu pengetahuan khususnya pondok-pondok pesantren dan sejarah Islam di Nusantara. Sejarahwan Bima Alan Malingi pada tahun 2018 menginisiasi dan mengusulkan dua nama jalan di Kabupaten Bima, harus diberikan nama Syekh Subuh dan Syekh Abdul Ghani di Kecamatan Palibelo dan Talabiu, dinilai atas jasa dakwahnya di Bima dan Nusantara. (Disalin dari Mbojoklopedia).