Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Iman dan Takwa, Pilar Utama Cinta Tanah Air

Jumat, 20 Agustus 2021 | 6:13 AM WIB Last Updated 2021-08-19T22:13:08Z

 




Dompu, koranlensapost.com -  Keimanan dan ketakwaan merupakan pilar utama di dalam mewujudkan rasa cinta Tanah Air.

Penegasan itu disampaikan.oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dompu, Drs. H. Syahrir, M. Si saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Kebangsaan bertema "Membangun Kesadaran Cinta Tanah Air" yang digelar oleh Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Dompu bekerja sama dengan para Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STISIP Mbojo Bima Angkatan XXXIV di Aula Kantor Desa Rababaka Kecamatan Woja Kabupaten Dompu, Kamis (19/8/2021).

"Untuk membangun cinta tanah air harus ditumbuhkan iman dan takwa karena iman dan takwa adalah hal yang paling fundamental di dalam membangun bangsa dan negara," tandasnya.

Untuk peningkatan iman dan takwa dimaksud, lanjutnya, maka Kementerian Agana mendorong masyarakat agar memiliki kesadaran beragama. Menjalankan ajaran agamanya dengan sebaik-sebaiknya dan menjauhi hal-hal yang menjadi larangan agama serta dibarengi dengan keteguhan hati meyakini ajaran agamanya. Bila hal tersebut dimiliki, maka rasa cinta terhadap Tanah Air dan Bangsa akan terpatri dalam diri setiap insan masyarakat.

"Iman dan takwa merupakan pilar  utama di dalam membangun bangsa dan negara ini," tandasnya.

Dikemukakan Kakan Kemenag bahwa iman dan takwa yang terpatri dalam jiwa akan menumbuhkan kesadaran untuk senantiasa menjadi pribadi yang patuh, berperilaku santun, serta tabah dan bertawakkal kepada Allah di dalam menghadapi kondisi apapun. Misalnya di tengah terpaan wabah pandemi Covid -19 ini. Dengan keimanan dan ketakwaan yang dimiliki maka akan mendorong dirinya untuk tangguh menghadapinya dengan penuh kebesaran jiwa.

"Mengapa tema HUT Kemerdekaan RI ke 76 Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh ?. Supaya kita kuat menghadapi kondisi ini. Modalnya adalah keimanan dan ketakwaan," ujarnya.

Lebih jauh dipaparkannya bahwa
Visi Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024 adalah "Terwujudnya Indonesia yang Maju, Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian dengan Semangat Gotong Royong. 
Berkenaan dengan visi itu, maka Kementerian Agama menindaklanjutinya dengan upaya meningkatkan kualitas kesadaran beragama, dan meningkatnya kualitas kerukunan hidup beragama.

Sebelumnya Kakan Kemenag berpesan agar tali silaturrahim selalu diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.

"Orang yang silaturrahim akan berkah hidupnya. Akan dipanjangkan oleh Allah umurnya, kesusahan yang dihadapi akan diberikan kemudahan oleh Allah SWT dan ketiga, Allah SWT akan senatiasa memudahkan rejeki bagi orang yang selalu membangun tali silaturrahim.

Di akhir paparannya, Kakan Kemenag menegaskan pertemuan seperti ini sangat positif untuk mencari solusi dari setiap persoalan yang dihadapi baik persoalan di desa, di tingkat daerah maupun persoalan bangsa. Dengan membangun koordinasi dan komunikasi, maka persoalan yang dihadapi akan lebih mudah diatasi.

Kegiatan Seminar Kebangsaan tersebut terselenggara atas kerjasama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Dompu dengan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari STISIP Mbojo Bima Angkatan XXXIV.

Hadir sebagai narasumber Kepala Bakesbangpol Kabupaten Dompu Ir. H. 
Fakhrurrazi, M. Si, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dompu Drs. H. Syahrir, M. Si dan Pasi Intel Kodim 1614/Dompu Kapten Inf. Ibrahim.

Muhammad Irfan, ST yang menjadi pemandu acara tersebut dalam prolognya menegaskan rasa cinta tanah air berlandaskan keyakinan agama telah dicontohkan oleh para pendahulu bangsa ini jauh sebelum NKRI berdiri. Mereka rela berkorban untuk membela Tanah Airnya melawan bangsa kolonialisme yang ingin menguasai. Seperti Perang Puputan di Bali di bawah komando I Gusti Ngurah Rai. Perang itu terjadi dipicu oleh ketidaksukaan umat Hindu terhadap Belanda yang ingin merusak tatanan budaya yang ada du Bali sehingga terjadi perlawanan.

Demikian pula perlawanan terhadap Belanda yang terjadi di Medan di bawah pimpinan Si Singamangaraja. Perlawanan terjadi karena penjajah Belanda itu ingin merusak tatanan norma agama maupun norma sosial yang terjadi di masyarakat setempat.

Demikian pula setelah Indonesia Merdeka terjadi perlawanan di Surabaya pada 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Seruan kalimat Takbir Allahu Akbar oleh Bung Tomo menggetarkan jiwa Arek-Arek Suroboyo untuk melakukan perlawanan sengit terhadap tentara Inggris (NICA). Begitu pula dengan Perang Diponegoro di Jawa Tengah, Pedang Paderi di Sumatera Barat, Perang Aceh dan lainnya karena kecintaan.terhadap Tanah Air. (emo).
 


×
Berita Terbaru Update