Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Buku "Kapatu Dompu", dari Jerman untuk Bumi Nggahi Rawi Pahu

Selasa, 10 Agustus 2021 | 6:51 AM WIB Last Updated 2021-08-09T22:51:19Z

 

                      Buku "Kapatu Dompu"                                                 karya Awaluddin

Dompu, koranlensapost.com - Setiap orang pasti mencintai tanah kelahirannya. Apalagi ketika tinggal dan hidup di negeri orang. Kecintaan dan kerinduan terhadap tanah leluhur amat menggelora. Setiap orang juga memiliki cara yang berbeda untuk mengobati kecintaan dan kerinduan sekaligus berkontribusi terhadap tanah kelahirannya. Salah satunya ditunjukkan oleh Awaluddin, pria kelahiran Dompu  yang kini berdomisili di Kota Dresden Jerman. Ia menulis pantun-pantun berbahasa Dompu yang telah dicetak menjadi satu buku berjudul "Kapatu Dompu". Buku "Kapatu Dompu" ini merupakan salah satu dari 9 (sembilan) buku Pustaka Dompu yang diluncurkan oleh Yayasan Kesultanan Dompu (YKD) di Paruga Samakai Dompu, Senin (9/8/2021) kemarin.

Awal menyebutkan buku "Kapatu Dompu" berisi kapatu (pantun) dengan banyak tema. Ada pengalaman hidup, mengandung kritik sosial, politik, maupun tema sosial budaya.

"Buku ini ditulis ingin menunjukkan bahwa budaya turur kapatu bisa kita pakai untuk menampilkan berbagai tema dalam bentuk kapatu. Tidak hanya tema klasik yang kita pakai selama ini. Formulanya satu tema, ringkas, to the point tetapi memiliki makna yang dalam. Di setiap tema ingin mengajak pembaca memahami maknanya,"  ungkap pria yang sejak tahun 2001 sudah bekerja di negara Jerman itu.

Awal mengemukakan buku "Kapatu Dompu" tersebut ia sumbangkan untuk daerah Bumi Nggahi Rawi Pahu (Kabupaten Dompu) sebagai wujud kecintaannya terhadap tanah kelahirannya itu. Di sisi lain, menurut sepengetahuannya belum ada yang membukukan kumpulan pantun sebelumnya.

"Semoga bisa jadi referensi buat orang lain yang membuat karya yang sama," ujar ayah dari Maududi Lamparawi Magenda dan Lamone Sakaka Iman tersebut.
Inilah salah satu pantun (kapatu) berbahasa Dompu yang ditulis oleh Awaluddin yang berjudul SAKOLA ANA (Menyekolahkan Anak).


SAKOLA ANA

'Di 'bademu anae..

Tabe'a nami 'Dompu ro Mbojo..
Kentepa dawara fare 'di mbaju..
'Ba nggorisi pako 'di landa kilo..
'Di jampa kai nggomi malao sakola..

Tiwara nuntu wi'i pasaka..
Ma'bune ntika paki masaki..
Rakasi mai haba daruramu..
Landa ro ga'de mpoi darere..

Edeku anae kapoda kaipu ade..
Satenggo ade nami rawa'umu eda..
Kapahupu usaha nami matua.
Kai itika ro tabe'a mataho to'ija 'ditio..

Awal menjelaskan kapatu (pantun) berjudul "Sakola Ana" ini  menggambarkan kondisi sosial masyarakat Dompu maupun Bima yang memiliki hasrat yang tinggi agar putra-putrinya bisa menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin meskipun harus hidup dengan serba kekurangan.

"Kapatu ini ditulis dengan harapan semangat ini harus tetap ada di masyarakat kita, juga mengajak generasi muda menghargai upaya orangtua dengan belajar lebih keras lagi," jelasnya.

Awaluddin lahir di Dompu tanggal 11 April 1974. Ia menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SD Inpres Bada (1980 - 1986) dan melanjutkan ke SMP 1 Dompu (1986 - 1986) dan Pendidikan SMA di SMA 1 Mataram (1989 - 1992).
Kemudian ia menempuh pendidikan tinggi Strata Satu (S1) di Fakultas Teknik Jurusan Mesin di Universitas Brawijaya Malang (1992 - 1996).

Ia mengaku semasa kecil suka menghabiskan kertas untuk dibuat pesawat kertas lipat dan menerbangkannya dari loteng rumah lantai dua. Rupanya takdir mempertemukan 'kenakalan' itu dengan pekerjaannya. Tahun 1997, ia mulai bekerja di IPTN Bandung sebagai engineer bidang Aircraft  Structure Design. 
Pria yang menikah tahun 1998 itu kemudian bekerja di Fairchild Dornier Munich, Jerman (2001). Selanjutnya tahun 2002 bekerja di Airbus Hamburg, Jerman dan sejak tahun 2013 sampai sekarang bekerja di EFW Dresden, Jerman. (emo).


×
Berita Terbaru Update