Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Lebih Dekat dengan H. Mansyur D, Peletak Pondasi Perubahan di Saneo (2)

Sabtu, 29 Mei 2021 | 6:08 AM WIB Last Updated 2021-05-29T02:05:29Z
                              H. Mansyur D


Gayung bersambut. Upaya gotong-royong Mansyur bersama ratusan warganya membuat parit untuk mengalirkan air dan merintis jalan baru lintas Saneo mendapatkan respon positif dari pemerintah.

Pada suatu siang di awal tahun 1974, Mansyur didatangi oleh seorang pria dengan menunggang kuda. Ada panggilan mendadak dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II Dompu Letkol Purn. H. Suwarno Atmojo. Ia dibawa ke Pendopo untuk bertemu Bupati dengan menaiki kuda. (H. Mansyur menyebut Pendopo Bupati saat itu berlokasi di Wisma Praja saat ini). Selama perjalanan dengan kuda jemputan itu hatinya gelisah dan bertanya-tanya. Ada apa gerangan pak Bupati memanggil dirinya ? Ia khawatir Bupati yang berlatar belakang Perwira TNI itu akan memarahi dirinya karena suatu kesalahan yang belum diketahuinya. (Sebagaimana telah ditulis pada edisi I, Mansyur menjabat sebagai Kades Saneo pada periode pertama adalah atas penunjukan dari Pimpinan TNI dengan status di-karya-kan dan tetap menyandang status sebagai Anggota TNI sampai pensiun tahun 1987).

Tiba di Pendopo pada sore hari. Saat itu Bupati bersama keluarga sedang menikmati santapan sore. Melihat Mansyur datang, Bupati langsung memanggil dirinya mengajak makan bersama.

"Alhamdulillah saya gembira sekali waktu diajak makan bersama oleh pak Bupati. Saya yakin ini pertanda pak Bupati memanggil saya bukan untuk dimarahi," tuturnya sembari tertawa lebar mengenang kejadian itu.

Saat makan bersama itu Bupati Suwarno bercerita bahwa ketika berada di atas pesawat dalam perjalanan Mataram - Bima melihat ke bawah daratan Saneo. Ia melihat kelokan parit memanjang dan jalan rintisan yang baru dibangun.
"Hebat kamu Mansyur. Atas inisiatif sendiri mengajak warga bikin parit saluran air dan buat jalan. Besok kumpulkan masyarakat saya mau ke Saneo," kata Bupati Suwarno memuji perjuangan Mansyur untuk membangun desa Saneo.

Keesokan harinya Bupati Suwarno Atmojo berangkat ke Desa Saneo guna menyaksikan secara langsung kondisi warga dan perubahan yang terjadi di desa tersebut. Ia berjanji akan membangun jembatan di Sori Sakolo dan akan mengupayakan peningkatan kualitas jalan rintisan yang telah dibuat.

Proyek padat karya turun di Saneo. Jalan rintisan tersebut diperbaiki kualitasnya. Bila saat merintis jalan tersebut masyarakat Saneo dan Serakapi diajak secara gratis bahkan dengan makan singkong rebus saja karena kondisi kekurangan pangan saat itu, maka pada Proyek Padat Karya itu masyarakat yang bekerja dibayar Rp. 300 per hari. Nilai nominal yang cukup besar untuk ukuran saat itu.

"Alhamdulillah masyarakat senang dengan adanya proyek padat karya ini karena masyarakat yang bekerja dibayar 300 Rupiah sehari. Kerjanya hanya sampai jam 10. Terima seminggu sekali lumayan dapat banyak," ucapnya.

Proyek air bersih kerja sama Indonesia - Australia juga akhirnya masuk, sehingga aliran air dari pengunungan mulai menggunakan pipa dan dibuatkan bak-bak air penampung. 

Proyek jembatan Sori Sakolo juga mulai berjalan. Seiring dengan itu, masyarakat Kelurahan Bali dikerahkan untuk membuat rintisan jalan dari Saleko sampai Sungai Sori Sakolo.

Jalan rintisan sudah tersambung dari Saneo sampai Saleko. Sedangkan ke arah selatan dari Saleko menuju Bali Satu (Tolo Jado) masih berupa hamparan persawahan milik warga setempat. Bagaimana caranya agar akses jalan itu tersambung sampai ke lokasi Pasar Dompu dan sekitarnya ?

Bupati Suwarno lalu mengadakan rapat membahas hal itu. Mansyur juga diundang dalam rapat itu. Dalam pertemuan itu Mansyur mengatakan itu hal yang mudah karena Bupati adalah pemimpin masyarakat. Masyarakat pasti akan tunduk pada perintah Bupati. 
Patok-patok dipancangkan. Tetapi keesokan harinya patok-patok itu telah dipotong-potong oleh warga pemilik sawah sebagai isyarat bahwa mereka tidak mengizinkan areal sawah yang mereka miliki untuk pembuatan jalan.
"Sempat terjadi perang urat pada waktu itu karena pemilik sawah menolak pembuatan jalan," tutur Mansyur.

Mansyur tak kehilangan akal. Ia terus memberi keyakinan kepada Bupati maupun Sekda Dompu saat itu bahwa usaha pembuatan jalan itu akan sukses. Bupati Suwarno juga sangat percaya dengan kemampuan strategi prajurit TNI yang diamanahkan sebagai Kades Saneo itu. Usul saran Mansyur diakomodirnya. Salah satu ide brilian Mansyur saat itu adalah meminta kepada Bupati Dompu untuk meliburkan sekolah dan perkantoran sehari. Seluruh guru dan pegawai di hari yang diliburkan itu dikerahkan untuk bekerja bhakti membuat jalan rintisan sepanjang jalur Tolo Jado (mulai dari Doro Sawete / perempatan Dikes sampai Saleko).

Usulan Mansyur disetujui Bupati Suwarno. Sekolah dan kantor benar-benar diliburkan sehari. Pada hari yang ditentukan itu, ribuan guru dan pegawai mulai dari Madaprama sampai Dompu berdatangan untuk bekerja bhakti di lokasi dimaksud dengan membawa peralatan masing-masing berupa cangkul, parang, tembilang, dan peralatan lainnya.

"Karena orang begitu banyak sehingga tidak sampai jam 11 sudah selesai," kisahnya. 

Berkat pendekatan dan komunikasi yang dilakukan juga, akhirnya warga ikhlas untuk menyedekahkan sebagian dari sawahnya untuk pembuatan jalan. 

Mansyur lagi-lagi mendapatkan acungan jempol dari Bupati Suwarno Armojo atas gagasannya itu. 

Saya sudah pernah jadi komandan batalyon, komandan kompi tapi belum pernah mengerahkan orang sebanyak ini," ucap Bupati yang ditirukan Mansyur.


Mansyur juga sukses merelokasi pemukiman warganya. Upaya ini juga dengan perjuangan yang tidak mudah karena adanya penolakan dari warga yang tidak mau direlokasi. Saat itu pemukiman penduduk berjauhan dan berpencar-pencar. Di bagian utara warga Saneo dan Serakapi di bagian selatan. Sedangkan di wilayah tengah di Sera Wunta masih kosong. Tetapi ada juga pemukiman penduduk asal Sakuru Bima di sebelah barat Dusun Serakapi yang diberi nama Kampo (Kampung) Sakuru (lokasinya dari Lapangan Bola Desa Serakapi saat ini ke arah selatan) dan pemukiman penduduk asal Wawo Bima yang dinamai Rasa (Kampung) Laboga. Lokasinya di sebelah barat sungai yang saat ini dinamai So Wawo (jalur menuju arah Sori Na'e Saneo saat ini). 
Pada mulanya kedatangan warga Sakuru yang berasal dari Sakuru Bima dan warga Laboga yang berasal dari Wawo Bima itu untuk bercocok tanam atau berladang pindah-pindah. Tetapi lama kelamaan terbentuklah pemukiman penduduk.
Selain itu ada pula pemukiman warga asal Desa Palama Bima di dekat perkampungan warga Saneo. Ini juga menjadi target Mansyur untuk direlokasi. Proses relokasi saat itu bukan persoalan mudah. Semuanya dilakukan secara swadaya. Masyarakat harus bergotong-royong membongkar satu persatu rumah-rumah panggung yang akan dipindahkan ke tempat yang baru. Perjuangan yang tidak kenal kata lelah.

Sebelum merelokasi mereka, Mansyur mengawali menempati lokasi Sera Wunta itu. Karena selama dua tahun awal, ia belum punya rumah sendiri. Selama dua tahun itu, Mansyur bersama keluarganya menumpang pada salah satu rumah warga di Saneo. Karena tidak enak menumpang terus, akhirnya berkeinginan bangun rumah panggung sendiri.

Ia membangun rumah panggung di lokasi Sera Wunta itu dengan bermodalkan gabah hasil panenan di Dorebara dan Kandai Satu. Masyarakat diminta untuk bergotong-royong membuatkan rumahnya. Ia menyewanya dengan beras.

"Saya bayar dengan beras itu atas permintaan mereka sendiri karena kesulitan pangan waktu itu. Masyarakat tidak mau uang maunya dibayar pakai beras akhirnya gabah saya giling di Nona Imi (Penggilingan Nona Imi waktu itu di Perempatan Bali Satu depan Kantor Dikes)," tuturnya.

Ia memilih lokasi itu sebagai tempat membangun rumah atas saran dari Syekh Mahdali yang merupakan ulama dan tokoh kharismatik bagi masyarakat Dompu saat itu. Ketika telah ditunjuk sebagai Kades Saneo, Mansyur menemui Syekh Mahdali di kediamannya di Desa Kareke Kecamatan Dompu. Syekh Mahdali mengatakan bahwa Mansyur akan bisa membawa kemajuan bagi rakyat di Desa Saneo. Tetapi syaratnya harus membangun rumah di tengah-tengah. Bukan di Saneo dan bukan di Serakapi.

"Padahal waktu itu orang Saneo meminta saya bangun rumah di Saneo, dan orang Serakapi meminta di Serakapi. Akhirnya saya bangun rumah di sini sesuai saran Ruma Sehe (panggilan untuk Syekh Mahdali)," ucapnya.

Berkat pendekatan yang dilakukannya, warga Palama, Kampo Sakuru dan Laboga direlokasi di kawasan Saneo bagian tengah. Ada juga beberapa warga ketiga kelompok itu yang menolak direlokasi bahkan ingin kembali ke kampung asalnya di Bima.

"Kalau tidak mau pindah dan kembali ke kampung asal tidak apa-apa yang penting saya tidak mengusir," ujarnya.

Mansyur kemudian menamai lokasi itu dengan nama Pelita. Bupati Suwarno juga merestui nama itu karena saat itu bersamaan dengan gencarnya Presiden Soeharto mencanangkan Program PELITA (Pembangunan Lima Tahun).

"Karena di lokasi ini dulu dijadikan tempat penyembelihan hewan ternak curian, sehingga saya memberi nama Pelita, artinya penerang dari kegelapan, " ungkapnya. 

Di lokasi berdekatan, tepatnya di lokasi tanah kosong di sebelah timur jalan,  dibangun kantor desa, lapangan dan sekolah. Di seberangnya dibangunkan masjid. 
"Saya inginkan masjid, sekolah, kantor desa, lapangan dan rumah Kepala Desa berdekatan untuk memudahkan bagi masyarakat makanya semuanya berdekatan," jelasnya. (Bersambung)


×
Berita Terbaru Update