500 Pelari Taklukkan Jantung Tambora, Sport Tourism Dompu Mulai Mendunia -->

Kategori Berita

.

500 Pelari Taklukkan Jantung Tambora, Sport Tourism Dompu Mulai Mendunia

Koran lensa pos
Rabu, 02 September 2026

 






Dompu, koranlensapos.com – Matahari belum terlalu tinggi ketika ratusan pelari mulai memasuki lintasan. Di hadapan mereka bukan sekadar jalan dan medan lomba, melainkan bentang alam Taman Nasional Tambora yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi paling eksotis di Nusa Tenggara Barat.

Sekitar 500 peserta dari berbagai daerah datang ke Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, Minggu (30/8/2026), untuk mengikuti Tambora Jungle Run 2026.

Mereka berlari menembus lanskap alam Tambora dalam tiga kategori lomba, yakni Fun Run 5K, Savana Trail 10K dan From Sea to Summit 40K.

Inilah yang membuat Tambora Jungle Run berbeda.

Para peserta tidak hanya mengejar garis finis dan podium. Mereka sekaligus diajak menikmati lanskap Tambora, mengenal kawasan konservasi dan merasakan langsung potensi wisata alam yang dimiliki Kabupaten Dompu.

Event perdana ini merupakan kolaborasi Taman Nasional Tambora, Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Dompu.

Kepala Bappeda NTB Baiq Nelly Yuniarti, yang hadir mewakili Gubernur NTB, menyebut penyelenggaraan perdana tersebut sebagai sesuatu yang sangat luar biasa.

“Event pertama kali yang merupakan kolaborasi Taman Nasional Tambora, Pemprov dan Pemkab Dompu. Hasilnya? Keren abis,” ungkap Baiq Nelly.

Menurutnya, sekitar 500 peserta mengikuti tiga nomor lomba yang disiapkan panitia.

Baiq Nelly optimistis Tambora Jungle Run akan menjadi salah satu event sport tourism yang mewarnai kalender pariwisata NTB pada tahun-tahun mendatang.

“Kalau pertama sudah seperti ini, kebayang dong tahun kedua dan seterusnya. Yuk pantengin jadwalnya bagi yang hobi lari. Kalau yang tidak hobi, silakan nikmati alamnya,” katanya.

Dari Laut Menuju Tambora

Salah satu daya tarik utama Tambora Jungle Run 2026 adalah kategori From Sea to Summit 40K.

Nomor ini bukan sekadar lomba lari jarak jauh. Peserta ditantang menaklukkan lintasan alam dengan karakter yang berbeda-beda hingga mencapai kawasan Tambora.

Sementara kategori Savana Trail 10K menawarkan pengalaman berlari di tengah lanskap savana yang menjadi salah satu ikon kawasan Doro Ncanga.

Bagi peserta 5K, pengalaman yang ditawarkan lebih ringan, tetapi tetap membawa mereka menikmati suasana alam Taman Nasional Tambora.

Dengan konsep tersebut, Tambora Jungle Run sekaligus memperlihatkan bahwa kawasan Tambora mempunyai modal besar untuk dikembangkan sebagai destinasi sport tourism.

Tidak hanya untuk pelari lokal, tetapi juga komunitas lari dari berbagai daerah di Indonesia dan, ke depan, bukan tidak mungkin menarik pelari mancanegara.

Bukan Hanya Berlari, Tetapi Juga Menanam dan Melestarikan

Ada pesan penting di balik hiruk-pikuk lomba.

Tambora Jungle Run 2026 juga dirangkai dengan kegiatan konservasi berupa penanaman pohon dan pelepasliaran dua ekor rusa betina di kawasan konservasi/sanctuary.

Dua rusa tersebut diberi nama Tara dan Rusti.

Tara diambil dari Tambora Raya, sementara Rusti berkaitan dengan Rusa Timor.

Kegiatan ini menjadi simbol bahwa olahraga dan pariwisata di kawasan konservasi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian alam.

Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Dr. Ir. Nandang Prihadi, S.Hut., M.Si., menegaskan Tambora Jungle Run merupakan wujud nyata sinergi antara konservasi alam, olahraga dan kegiatan wisata sport tourism.

Menurut Nandang, kegiatan tersebut diharapkan memberikan dampak positif bagi Taman Nasional Tambora sekaligus masyarakat di sekitarnya.

Ia berharap Tambora Jungle Run 2026 dapat menjadi inspirasi pengembangan sport tourism yang bersinergi dengan konservasi alam.

Keindahan, keanekaragaman hayati dan kelestarian Taman Nasional Tambora, kata dia, perlu terus dikampanyekan bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga ke dunia internasional.

Bupati Dompu Ikut Merasakan Sensasi Lintasan

Dukungan pemerintah daerah terhadap event ini juga terlihat dari keikutsertaan Bupati Dompu Bambang Firdaus.

Bupati bersama Ketua TP-PKK Kabupaten Dompu Onty Farianti ikut mengambil bagian dalam kategori 5K.

Keikutsertaan pimpinan daerah tersebut menjadi pesan bahwa pengembangan sport tourism bukan hanya urusan penyelenggara dan pelari.

Pemerintah daerah ingin menunjukkan bahwa Tambora adalah aset bersama yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan baru pariwisata Dompu dan NTB.

Bagi Dompu, Tambora bukan sekadar gunung.

Tambora adalah sejarah, alam, keanekaragaman hayati, savana, budaya dan potensi ekonomi yang jika dikelola secara tepat dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Pelari dari Berbagai Daerah Rebut Podium

Persaingan di lintasan juga berlangsung menarik. Pelari dari berbagai daerah berhasil mencatatkan namanya sebagai juara.

Pada kategori 5K Male, podium pertama diraih Aldy Aryanto Tamelan dari Kupang, disusul Rifqi Julia Reyfan dari Bima dan Fatur Rahman Rosadi.

Kategori 5K Female dimenangi Bautriani dari Sumbawa. Posisi kedua ditempati Retno Prawesti Kedaton, sedangkan posisi ketiga diraih Nurul Fajriati.

Pada kategori 10K Male, Sunardin dari Bima keluar sebagai juara pertama. Posisi kedua ditempati Afrizal, juga dari Bima, dan posisi ketiga Mariano Julio Dosanto.

Kategori 10K Female dimenangi Sunarti dari Bima. Niken Aulia Tasya berada di posisi kedua dan Inandar Prasetia dari Bima di posisi ketiga.

Untuk kategori 10K TNI/Polri Male, juara pertama diraih Adrianus Susilo Jera, disusul Muhammad Haikal dari Bima dan I Dewa Alit Mantra.

Sementara kategori 10K TNI/Polri Female dimenangi Hifni Syahrudin dari Bima.

Persaingan paling panjang berlangsung pada kategori 40K Male.

Zandi Holikin dari Lombok berhasil menjadi juara pertama, disusul Suwandi dari Sumbawa di posisi kedua dan Nopa Putra dari Lombok di posisi ketiga.

Untuk kategori 40K Female, juara pertama diraih Fauziah dari Palu, sedangkan posisi kedua ditempati Ririn Wulandari dari Mataram.

Para juara memperoleh hadiah sesuai kategori, dengan hadiah tertinggi mencapai Rp4 juta untuk juara pertama kategori 40K.

Tambora Punya Cerita yang Bisa Dijual ke Dunia

Tambora Jungle Run 2026 memberikan gambaran bahwa kekuatan wisata Dompu tidak hanya terletak pada pantai.

Ada kawasan pegunungan, savana, hutan, satwa liar, jalur petualangan dan sejarah letusan Tambora yang sangat kuat untuk dikemas menjadi pengalaman wisata.

Jika dikembangkan secara konsisten, event seperti Tambora Jungle Run dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal destinasi lain di Dompu.

Pelari yang datang tidak hanya membutuhkan lintasan.

Mereka membutuhkan penginapan, makanan, transportasi, pemandu, oleh-oleh dan berbagai kebutuhan selama berada di daerah.

Di sinilah sport tourism dapat memberikan efek berantai bagi perekonomian masyarakat.

Karena itu, keberhasilan Tambora Jungle Run 2026 tidak semata-mata diukur dari siapa yang menjadi juara.

Ukuran keberhasilan yang lebih besar adalah sejauh mana event tersebut mampu membuat semakin banyak orang mengenal Tambora, datang ke Dompu dan kemudian kembali lagi sebagai wisatawan.

Menunggu Tambora Jungle Run Tahun Kedua

Tambora Jungle Run 2026 memang baru langkah pertama.

Namun langkah pertama itu sudah memperlihatkan potensi yang besar.

Sekitar 500 pelari, tiga kategori lomba, peserta dari berbagai daerah, aksi konservasi dan dukungan pemerintah menjadi modal penting untuk membangun event tersebut menjadi agenda tahunan.

Tantangannya ke depan adalah bagaimana mempertahankan kualitas penyelenggaraan, menjaga kawasan konservasi, meningkatkan jumlah peserta, memperluas promosi dan membuka peluang keterlibatan masyarakat lokal.

Jika itu mampu dilakukan, Tambora Jungle Run bukan mustahil berkembang menjadi salah satu event sport tourism unggulan NTB.

Bahkan suatu hari nanti, nama Tambora tidak hanya dikenal karena letusan dahsyat tahun 1815.

Tambora juga bisa dikenal karena alamnya yang indah, konservasinya yang terjaga dan event larinya yang menantang.

Dari Doro Ncanga, Dompu sedang mengirim pesan sederhana kepada dunia: Tambora layak dikunjungi, layak dinikmati dan yang paling penting, layak dijaga. (emo).