Ketua IISWARA Dompu: Orang Tua Supaya Jadi Teladan bagi Anak-Anaknya -->

Kategori Berita

.

Ketua IISWARA Dompu: Orang Tua Supaya Jadi Teladan bagi Anak-Anaknya

Koran lensa pos
Sabtu, 29 Agustus 2026

 

Ketua IISWARA Kabupaten Dompu, Yunita Chairani dalam kegiatan sosialisasi pengasuhan positif untuk mencegah kekerasan terhadap anak yang berlangsung di halaman Kantor Desa Mangge Asi Kecamatan Dompu, Jumat (28/8/2026) 




Dompu, koranlensapos.com – Pengasuhan anak tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan materi. Orang tua juga dituntut memberikan kasih sayang, perhatian, komunikasi yang baik, serta menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Ikatan Istri Wakil Rakyat (IISWARA) Kabupaten Dompu, Yunita Chairani, saat memberikan sosialisasi tentang pengasuhan positif guna mencegah kekerasan terhadap anak di Kantor Desa Mangge Asi, Kecamatan Dompu, Jumat (28/8/2026) pagi.

Kegiatan tersebut digelar IISWARA Kabupaten Dompu bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Dompu. Sekitar 30 warga, yang didominasi kaum ibu, mengikuti kegiatan yang dikemas secara dialogis tersebut.

Yunita dalam sambutannya mengatakan, anak merupakan titipan Allah sekaligus aset yang sangat berharga, bukan hanya bagi keluarga tetapi juga bagi bangsa dan negara.

Menurutnya, masa depan bangsa berada di tangan generasi yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang. Karena itu, anak harus mendapatkan pengasuhan yang baik sejak dari lingkungan keluarga.

“Anak harus mendapatkan pengasuhan yang positif dari orang tuanya di rumah,” kata istri Ketua DPRD Dompu, Ir. Muttakun itu.

Ia menegaskan, keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Berbagai nilai, perilaku dan kebiasaan yang diperoleh anak untuk pertama kalinya berasal dari lingkungan rumah.

Karena itu, orang tua harus memberikan perhatian dan kasih sayang serta menghindari segala bentuk kekerasan, baik fisik, psikis maupun verbal.

“Pengasuhan yang positif di dalam keluarga akan menjadi benteng yang kokoh bagi anak dalam menangkal berbagai pengaruh negatif dari luar,” ujarnya.

Yunita menjelaskan, anak yang tumbuh dengan kasih sayang dan kelembutan cenderung akan membawa nilai tersebut dalam pergaulannya, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Sebaliknya, anak yang kurang mendapatkan perhatian dan pengasuhan yang baik di rumah akan lebih rentan mencari kenyamanan di luar keluarga dan terpengaruh oleh lingkungan yang negatif.


Orang Tua Harus Menjadi Teladan

Yunita juga mengingatkan para orang tua mengenai besarnya pengaruh gadget dan perkembangan teknologi terhadap karakter anak.

Menurutnya, kemudahan anak mengakses berbagai informasi melalui telepon seluler harus mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua.

Ia bahkan menyinggung maraknya anak yang terpapar aktivitas negatif di ruang digital, termasuk perjudian online.

“Menurut data Kementerian Kominfo ada sekitar 200 ribu anak Indonesia terjerumus judi online,” ungkapnya.

Karena itu, ia meminta para orang tua berhati-hati dalam memberikan handphone kepada anak dan tidak membiarkan anak menggunakannya tanpa pengawasan.

Di akhir sambutannya, Yunita menggarisbawahi tiga hal penting dalam pengasuhan positif.

Pertama, orang tua harus menjadi pendengar yang baik dan mau mendengarkan keluhan anak.

“Jangan sampai anak berkeluh kesah kepada temannya,” pesannya.

Kedua, orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.

“Karena anak adalah peniru ulung. Mereka akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya,” ujarnya.

Ketiga, anak harus dididik dengan kasih sayang.

“Anak jangan dibentak-bentak apalagi dipukul,” pintanya.


Kekerasan Anak Bisa Berawal dari Rumah

Sementara itu, Kepala DP3A Kabupaten Dompu, Miftahul Suadah, mengawali penyampaian materinya dengan pertanyaan sederhana kepada para peserta.

“Siapa yang punya anak remaja? Apakah mencari tahu keberadaan anaknya ketika berada di luar rumah?” tanyanya.

Menurut Miftahul, pola pengasuhan dalam keluarga sangat menentukan pembentukan karakter anak.

Anak membutuhkan kasih sayang, rasa aman dan kenyamanan. Karena itu, anak tidak boleh mendapatkan perlakuan berupa kekerasan fisik maupun mental.

“Kalau ada yang keliru dalam pola asuh anak harus kita luruskan,” tegasnya.

Ia mengatakan, pemerintah memang memiliki kewajiban untuk menjaga dan mengawasi pemenuhan hak anak dan perempuan. Namun, benteng perlindungan yang paling utama tetap berada di dalam keluarga.

“Pengasuhan positif harus didapatkan anak dalam keluarganya,” ucapnya.

Miftahul juga mengingatkan orang tua agar tidak mempertontonkan pertengkaran di hadapan anak.

Menurutnya, anak merupakan peniru. Konflik dan pertengkaran yang sering disaksikan anak di dalam rumah dapat memengaruhi karakter dan perilakunya.

“Anak-anak yang melakukan kekerasan, perkelahian, narkoba, pernikahan dini dan lain-lain karena sering menyaksikan orang tuanya bertengkar di rumah sehingga berpengaruh pada karakter anak,” bebernya.

Ia menekankan, pengasuhan anak harus mengutamakan komunikasi dan pendekatan dari hati ke hati atau dalam bahasa daerah Dompu dikenal dengan istilah “rere ra ngoa ra tei kataho”.

Bukan dengan pukulan, cubitan maupun bentakan.

Miftahul juga mengingatkan orang tua, termasuk mereka yang harus mengasuh anak seorang diri, agar tidak kehilangan perhatian terhadap anak.

“Peluk anak-anaknya. Tanyakan kabarnya,” pesannya.

Menurutnya, kekerasan terhadap anak sering kali terjadi tanpa disadari orang tua. Bentakan, pukulan, cubitan, mempermalukan, mengancam, mengabaikan kebutuhan anak hingga kurangnya pengawasan merupakan bagian dari pola pengasuhan yang kurang tepat.

Karena itu, pencegahan kekerasan terhadap anak harus dimulai dari rumah melalui pengasuhan positif.


Menghargai Anak dan Mendidik Tanpa Kekerasan

Dalam pemaparannya, DP3A juga menjelaskan bahwa pengasuhan positif pada prinsipnya adalah memperlakukan anak sebagai individu yang memiliki perasaan, kebutuhan dan hak untuk mendapatkan rasa aman.

Pengasuhan positif antara lain dilakukan dengan menghargai anak sebagai individu, memberikan kasih sayang dan rasa aman, mendengarkan serta memahami perasaan anak, memberikan batasan dan aturan secara tegas tanpa kekerasan, serta mengajarkan disiplin tanpa hukuman fisik maupun penghinaan.

Orang tua juga perlu mendorong anak bertanggung jawab sesuai dengan usianya dan memberikan contoh perilaku yang baik.

Hal tersebut dinilai semakin penting karena anak saat ini menghadapi berbagai risiko, baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun ruang digital.

Di Kabupaten Dompu, sejumlah tantangan perlindungan anak yang menjadi perhatian antara lain kekerasan terhadap anak, anak yang berhadapan dengan hukum, kasus pemanahan, penggunaan NAPZA dan minuman keras, pergerakan kelompok atau geng anak, meningkatnya kasus pernikahan anak, penggunaan kendaraan tanpa pengawasan serta berbagai bentuk eksploitasi.


“Kamoci Rahi, Kamoci Wei, Kambeke Ana”

Pada kesempatan yang sama, Kabid Kelembagaan dan Kesetaraan Gender DP3A Kabupaten Dompu, Neny Andriany Karmila, bersama Psikolog Mahmud Nasrul Habibi, turut memaparkan pesan penguatan ketahanan keluarga melalui slogan DP3A Kabupaten Dompu, “Kamoci Rahi, Kamoci Wei, Kambeke Ana.”

Slogan berbahasa Dompu tersebut mengandung pesan tentang pentingnya menjaga keutuhan keluarga agar tercipta rumah tangga yang bahagia, harmonis dan penuh perhatian.

“Kamoci Rahi” secara harfiah bermakna menjaga suami. Pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya membangun hubungan suami-istri yang saling mencintai, memberikan kenyamanan dan menjaga keharmonisan rumah tangga.

Sementara “Kamoci Wei” bermakna menjaga istri. Suami diharapkan memberikan perhatian, kasih sayang, perlakuan yang baik serta memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga sehingga istri merasa aman dan nyaman berada di dalam rumah tangga.

Sedangkan “Kambeke Ana” bermakna memberikan perhatian dan kepedulian kepada anak-anak.

Orang tua diminta memastikan anak merasa nyaman dan bahagia berada di rumah. Ketika anak berada di luar rumah, terutama pada malam hari, orang tua juga harus mengetahui keberadaannya dan mengingatkan anak untuk segera pulang agar tidak terjerumus dalam pergaulan negatif.

Kegiatan sosialisasi tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Mangge Asi. Kepala Desa yang diwakili Ketua BPD, Muhammad Salahuddin, menyampaikan apresiasi atas kegiatan IISWARA bersama DP3A Kabupaten Dompu tersebut.

Ia berharap materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat dan semakin meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengasuhan positif serta perlindungan terhadap anak.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa upaya mencegah kekerasan terhadap anak tidak semata-mata menjadi tugas pemerintah. Perlindungan anak sesungguhnya dimulai dari rumah, dari cara orang tua berbicara, memperlakukan, mendengarkan dan memberikan teladan kepada anak-anaknya. (emo).