Inilah Sejarah Hari Juang Kartika TNI-AD yang Diperingati Setiap 15 Desember

Kategori Berita

.

Inilah Sejarah Hari Juang Kartika TNI-AD yang Diperingati Setiap 15 Desember

Koran lensa pos
Sabtu, 16 Desember 2023

Pelaksanaan Upacara Psringatan Hari Juang Kartika TNI-AD ke 78 di Lapangan Makodim 1614/Dompu, Jumat (15/12/1/2023)


Hari Juang Kartika TNI AD dilatarbelakangi oleh pertempuran Ambarawa atau Palagan Ambarawa di Semarang.

Beberapa hari sebelum tanggal 15 Desember 1945, Jenderal Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor tentara keamanan rakyat (TKR) dan Laskar yang terdiri dari relawan rakyat.

Keesokan harinya, pada dini hari serangan mulai dilancarkan.
Pembukaan serangan dimulai dari tembakan mitraliur terlebih dahulu, kemudian disusul oleh penembak-penembak karaben.

Pertempuran kemudian berkobar di Ambarawa.
Jenderal Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung.


Suplai dan komunikasi musuh dengan pasukan induknya diputus sama sekali. Deru peluru berdesingan, bom dan suara ledakan juga bergema di Ambarawa.

Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu berhasil didesak mundur ke Semarang.

Perang sebelum Pertempuran Ambarawa

Pertempuran Ambarawa adalah kelanjutan dari perang-perang setelah Sekutu (Inggris) dan NICA (Belanda) kembali ke Indonesia.




Pada 20 Oktober 1945 tentara sekutu yang harusnya mengurus tawanan perang di penjara Ambarawa dan Magelang justru memboncengi NICA yang mempersenjatai tawanan tersebut, dikutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Hal itu menyulut kebencian dan perasaan tidak senang pribumi sehingga pecah insiden antara TKR dan tentara sekutu pada 26 Oktober 1945.

Inggris kemudian menuju Magelang dan Ambarawa untuk membebaskan 10.000 tawanan Indo-Eropa dan Eropa dari wilayah pedalaman Jawa yang sedang melakukan perlawanan.

Ir. Soekarno dan Brigjen Bethel kemudian melakukan perundingan antara Indonesia dan Inggris untuk mengupayakan gencatan senjata pada 2 November 1945.

Kedua belah pihak sepakat bahwa Inggris tetap bertanggungjawab atas tugasnya, jalan raya Ambarawa-Magelang terbuka untuk republik dan serikat, kemudian Inggris tidak mengakui aktivitas NICA.


Namun, Inggris mengabaikan perjanjian itu sehingga meletuslah pertempuran 20 November 1945 yang kemudian menjalar ke dalam kota pada 22 November 1945.

Pasukan Inggris melakukan pemboman ke pedalaman Ambarawa untuk mengancam kedudukan TKR.
Pihak Indonesia melakukan pembalasan untuk mempertahankan wilayah dari Inggris.

Sejak itu medan Ambarawa terbagi 4 sektor, yaitu sektor utara, sektor Selatan, sektor Timur dan sektor Barat.

Saat itu, pasukan TKR yang terlibat menghadapi sekutu berjumlah 19 batalyon.

Pada 26 November 2023 terjadi pertempuran yang menewaskan Kolonel Isdiman yang digantikan oleh Kolonel Soedirman.

Sekutu melancarkan aksinya mengancam Ambarawa karena daerah tersebut sangat strategis untuk mencapai Surakarta, Magelang dan Yogyakarta (yang saat itu jadi tempat kedudukan Markas tertinggi TKR). (Dikutip dari BANGKAPOS.com).