Banyak Sahabat Berduka Atas Kepergian Almarhumah Marlia Menghadap Ilahi

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

.

Banyak Sahabat Berduka Atas Kepergian Almarhumah Marlia Menghadap Ilahi

Koran lensa pos
Minggu, 20 November 2022

 

            Almarhumah Marlia


Dompu, koranlensapos.com - Marlia, seorang wanita asal Desa Saneo Kecamatan Woja Kabupaten Dompu NTB telah berpulang ke Rahmatullah untuk selamanya. Almarhumah menghembuskan napas terakhir pada hari Jumat (18/11/2022) di kediamannya di Desa Saneo.

Sekilas tidak ada yang istimewa dalam diri Marlia. Ia hanyalah seorang wanita biasa. Tetapi sejumlah tokoh hebat di Kabupaten Dompu melihat sesuatu yang luar biasa di dalam diri Marlia.

Banyak sahabat dan rekannya yang merasakan duka mendalam atas kepergian almarhumah. Persahabatan dimaksud ada yang hanya berupa persahabatan di dunia maya. Di antara mereka ada yang baru sekali bertatap muka langsung dengan Marlia. Bahkan ada yang sama sekali belum pernah bertemu.

Mereka melihat ketangguhan dalam diri Marlia dari tulisan-tulisannya. Mereka bisa membaca kecerdasan wanita asal Saneo ini lebih banyak dari tulisannya yang runtut dan berbobot. 

Anggota KPU Kabupaten Dompu periode 2014-2018, Suherman Ahmad di facebooknya menulis tentang Marlia. Ini ulasannya :

Penulis Novel Itu Telah Pergi

Saya terbangun, jam 2 dini hari tadi.
Iseng-iseng buka fb, saya terkejut melihat informasi bahwa Ibu Marlia A. Landa telah meninggal dunia-Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Ibu Marlia adalah seorang ibu rumah tangga asal Desa Saneo, single parent dan seorang aktivis-pekerja sosial dengan lembaga PEKKA nya.

Di fbnya juga, saya lihat beliau aktif berjualan kain tenun, madu dan susu kuda liar.

Suatu hari, saya dihubungi oleh saudara Andi Fardian meminta bantuan untuk menerima dan mendistribusikan-menjual novel beliau yang berjudul "Gadis Diujung Maut".

Dengan senang hati saya membantu apalagi saat itu almarhumah tengah sakit. 

Itu juga sebagai bentuk apresiasi dan dukungan saya kepadanya-yang meski orang biasa namun mampu menghasilkan karya yang luar biasa-menulis sebuah novel.

Saat-saat proses penerbitan dan membantu penjualan buku itulah, saya intens dan terakhir kali berinteraksi dan berkomunikasi dengan beliau. Itupun via fb dan WA. Gak pernah bertemu langsung.

Di rumah, buku almarhumah masih tersisa 10 buah yang belum terjual. Saya baru ingat pagi ini saat mengetahui beliau telah tiada.

Pada halaman dan paragrap terakir novelnya tertulis...

"...Ia tidur berisistirahat dengan damai di tempat tidurnya yang abadi karena sejuta bidadari syurga telah menjemputnya dan mengajaknya bermain dibawah rindangnya pohon syurga, merasakan sejuknya angin syurga dan nikmatnya senyuman para malaikat Tuhan."

"Sesungguhnya itu pesan buat dirinya, selamat jalan Ibu Marlia A. Landa, Semoga husnul khatimah. Al Fatihah," tulis Herman.
Novel berjudul "Gadis di Ujung Maut" karya almarhumah Marlia


Nur Syamsiah, aktivis LSM sekaligus wartawati senior juga merasakan duka teramat dalam atas kepulangan almarhumah menghadap Sang Maha Pencipta. 

"Saya mengenalnya di ruang-ruang diskusi. Pembawaannya tenang. Kata-katanya mengalir dan runut. Bertolak belakang dengan saya yang cenderung berapi-api dan ekspresif. 

Selebihnya kami saling berinteraksi melalui sosial media FB. Beberapa kali beliau order makanan untuk kegiatan PEKKA di Rumah Bumi dan beberapa kali juga saya order Madu hutan dan ayam kampung dari beliau. 

Beberapa bulan sebelum beliau sakit, beliau sempatkan datang berkunjung ke tempat Saya. Kami mengobrol lama tentang banyak hal. Tentang perempuan, tentang demokrasi, tentang kekuasaan, tentang keluarga, pokoknya tentang banyak hal. Dan ternyata kunjungan itu di sengaja. Saya tahunya dari unggahan beliau di FB. Bahwa hari itu beliau sengaja berkunjung ke tempat saya dan Dae Dau Nurhaidah  karena pengen ngobrol dan diskusi2 ringan. 

Kurang lebih sebulan atau dua bulan setelah pertemuan itu, tiba-tiba saya melihat unggahan beliau yang mengabarkan kalau beliau sakit dan di vonis kanker. 

Ya Allah. Belum pernah saya menemukan pasien kanker dengan semangat sembuh sebesar itu. Beliau tetap menulis di FB setiap perkembangannya menuju kesembuhan. 

Dan hari ini, hati saya benar-benar gerimis mendengar kabar beliau berpulang. Selamat jalan kawan. Tenanglah dalam keabadian Mbak Marlia Lia . Bahagia dan bangga pernah mengenal mu," ungkap Nur Syamsiah.


Sementara rekan dan mitra kerjanya, Rukyatil Hilaliyah (dulu bekerja di Dinas Sosial dan kini ditempatkan di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dompu) mengungkapkan perasaan dukacitanya atas kepergian almarhumah dengan kalimat istrija'. Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji'un lalu menulis Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Fajr (27-28). Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji'i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah (wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya),”.

"Selamat jalan... Berakhirlah  kekhalifahanmu di bumi. Maafkan saya karena tidak bisa menolongmu secara maksimal, suntikan semangat dan motivasi kami tidak mampu melawan keganasan kankermu. Semoga engkau ridho dengan sakitmu sehingga kau bahagia menghadap Rabbm.

Dihadapan Rabbku, saya bersaksi bahwa kamu telah banyak membantu  melakukan kebaikan untuk  saya dan masyarakat disekitamu. Di SLRT dan PEKKA ada jejak kebaikanmu," ungkapnya.

Siti Aisyah Ekawati dari YBC juga diliputi suasana kedukaan atas kepergian almarhumah. 

"Innalillahi wainnaillahirroji'un ya Allah Ibu Marlia, beliau org baik Perempuan tangguh, salah satu kader terbaiknya YBC telah berpulang menghadap Sang Khalik semoga Husnul Khatimah,  semoga Anak2 dan keluarga tercintanya di beri ketabahan, kekuatan dan keikhlasan Aamiin, in sha Allah berpulang di hari yg terbaik syurga menantimu Bunda, tunai sudah tugas beliau, Perempuan Hebat," ungkapnya di dinding fb-nya pada Jumat pagi (18/11/2022).

Sang Dosen Ilyas Yasin juga merasakan dukacita atas wafatnya almarhumah. Dari tulisan-tulisan almarhumah di facebook, Ilyas Yasin mengaku kagum dengan kehebatan sosok wanita biasa yang luar biasa itu. 

"Yang paling saya ingat dari ibu Marlia adalah keinginannya untuk menulis novel. Perjuangannya sangat keras menggapai mimpi ini hingga terbit novel perdananya "Gadis Di Ujung Maut".

Di beranda FBnya almarhumah mengaku punya beberapa naskah novel lainnya. Berkat bantuan mas Andi Fardian, novel perdananya berhasil terbit. 

Atas dasar itu, saya berharap novel-novel berikutnya bisa diterbitkan. Saya menduga ia juga bakal pulih dari sakit yang dideritanya, meski saya tersayat membaca postingan mengenai sakit yang dialaminya. Rupanya Allah berkehendak lain. 

Saya belum membaca novelnya. Tetapi mengingat sosoknya sebagai aktivis perempuan, saya menduga isi novelnya bakal menarik, sebab pengalamannya akan mempengaruhi setting cerita-cerita yang dia tulis. 

Mungkin sebelumnya kami pernah bersua di  beberapa forum pertemuan, tapi yang paling saya ingat adalah pertemuan di kantor Bappeda dan Litbang Kabupaten Dompu sekitar  dua tahun silam. Saat itu membahas soal SDGs. 

Meski tidak sempat ngobrol banyak tapi itulah kali pertama kami bertatap muka secara langsung. 

Dari almarhumah saya juga belajar pentingnya kepekaan terhadap status janda. Dia memprotes candaan saya yang menyelipkan kata "janda" di salah satu postingan saya. 

Sejak itu saya jarang lagi menggunakan "janda" sebagai bahan candaan. Sebagai seorang janda ia keberatan status itu dijadikan sebagai bahan candaan. 

Terima kasih bu Marlia atas pembelajarannya. Selamat jalan. Beristirahatlah di rumah keabadian," tulis Ilyas Yasin di beranda facebooknya kemarin.

Diketahui, almarhumah divonis oleh dokter menderita kanker rahim. Selama sekitar 7 bulan almarhumah menjalani perawatan kemoterapi untuk membasmi penyakit ganas tersebut. Setelah menjalani kemoterapi sampai 35 kali, akhirnya pada akhir Juni 2022 lalu, Marlia diperbolehkan untuk kembali ke kampung halamannya di Desa Saneo. Sekembalinya di desanya, Marlia kembali menggeluti aktivitasnya sebagai Ketua Serikat Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Kabupaten Dompu. 

Marlia berhasil menulis sebuah novel berjudul "Gadis di Ujung Maut" dan sudah diterbitkan oleh percetakan milik Andi Fardian Yakub, sang penulis muda nan hebat asal Desa Ranggo Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu NTB yang kini berdomisili di kota gudeg Yogyakarta. Marlia pernah menceritakan bahwa ia juga sudah menulis dua novel lagi yang berjudul "Cinta Hitam" dan "Ya, Aku Ayahmu". Namun akibat harus menjalani pengobatan terhadap penyakit yang dideritanya sehingga kedua novel itu tidak berhasil diterbitkan.
Wanita tegar ini juga berusaha sekuat tenaga menjalani berbagai pengobatan medis maupun tradisional. Tetapi takdir Yang Maha Kuasa menentukan lain. Marlia dipanggil oleh Allah SWT untuk menghadap kepada-Nya pada Jumat dinihari (18/11/2022). (emo).